Ketiadaan lambung pada sejumlah hewan menunjukkan bahwa sistem cerna tidak selalu berjalan dengan pola yang sama. Pada beberapa spesies, usus mengambil alih hampir seluruh pekerjaan pencernaan, sementara pada yang lain makanan diteruskan cepat dari kerongkongan ke usus tanpa tahap penyimpanan di lambung.
Adaptasi ini muncul karena jenis makanan dan habitat mereka memang berbeda. Ada yang hidup dari serangga air, ada yang bergantung pada semut dan rayap, ada pula yang memakan alga, detritus, atau bahan tanaman yang sulit diurai.
Usus yang mengambil alih peran utama
Pada ikan-ikan tertentu, tidak adanya lambung bukanlah hal langka. Di kelompok ikan teleost, sekitar 25 persen spesies justru berevolusi tanpa lambung, termasuk ikan mas dan tuna, sehingga usus yang memanjang menjadi pusat utama pencernaan.
Pola serupa juga tampak pada ikan buntal. Hewan ini tidak memiliki lambung sejati, meski ada struktur yang terlihat menyerupai perut, dan proses pemecahan makanannya tetap bertumpu pada usus.
Mamalia bertelur yang tetap efisien tanpa lambung
Platipus sering menjadi contoh paling dikenal dalam pembahasan hewan tanpa lambung. Mamalia bertelur asal Australia ini memakai paruhnya untuk mencari serangga air dan krustasea, lalu memproses makanan itu dengan usus sederhana yang tetap mampu menyerap nutrisi secara efisien.
Ekidna berada dalam kelompok yang sama, tetapi dengan kebiasaan makan berbeda. Moncong panjang dan lidah khususnya dipakai untuk menangkap semut serta rayap, lalu usus berperan besar dalam menyerap nutrisi dari makanan yang tergolong rendah gizi.
Hewan laut dalam dan ikan dengan jalur cerna singkat
Chimaera atau hiu hantu juga termasuk hewan yang tidak memiliki lambung. Makanan yang masuk diteruskan dari kerongkongan langsung ke usus, sehingga proses cerna berlangsung tanpa tahap lambung dan membantu mereka beradaptasi di lingkungan laut dalam yang ekstrem.
Di luar kelompok itu, lungfish memperlihatkan strategi yang tak kalah unik. Ikan ini bisa hidup di air tawar dan di udara, bernapas dengan paru-paru sekaligus insang, lalu memakai usus panjang untuk mencerna makanan yang banyak terdiri dari bahan tanaman atau detritus.
Pemakan alga dengan alat giling alami
Strategi cerna tanpa lambung juga muncul pada ikan herbivora tertentu, termasuk ikan kakatua. Spesies ini memakan alga di terumbu karang dan dibantu gigi khusus untuk menggiling permukaan keras, sehingga makanan bisa diproses meski tidak melewati lambung konvensional.
Dari kelompok-kelompok itu terlihat bahwa tubuh hewan dapat membangun jalur cerna yang sangat berbeda, bergantung pada apa yang mereka makan dan tempat mereka hidup. Dalam banyak kasus, usus menjadi solusi utama ketika lambung tidak ada, dan evolusi memilih sistem yang paling cocok untuk bertahan hidup.
Source: www.idntimes.com




