Suara Terumbu Sehat Diputar Lagi, Cara Baru Membantu Karang Yang Rusak Pulih

Pemulihan terumbu karang tidak selalu harus dimulai dari penanaman atau perbaikan fisik semata. Dalam pendekatan baru yang disebut acoustic enrichment, suara justru dipakai untuk membuat kawasan yang rusak terasa kembali layak dihuni oleh biota laut muda.

Metode ini bekerja dengan speaker bawah laut yang memutar rekaman suara dari terumbu karang sehat. Rekaman itu diarahkan ke area yang rusak agar larva ikan dan organisme laut lain lebih mudah menemukan tempat yang aman untuk menetap.

Suara yang menjadi penunjuk arah

Terumbu karang sehat sebenarnya memiliki lanskap suara yang ramai. Udang pistol, ikan, dan organisme lain menghasilkan bunyi yang membentuk reef soundscape, yaitu semacam peta akustik alami bagi larva ikan dan karang.

Bagi organisme muda, peta suara ini berfungsi seperti kompas. Ketika habitat rusak dan suara alami menghilang, larva menjadi lebih sulit menemukan lokasi yang tepat untuk tumbuh dan berkembang.

Kondisi itu bukan sekadar kesan visual, melainkan juga persoalan akustik. Penelitian yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences atau PNAS menyebut terumbu karang yang rusak rata-rata 15 desibel lebih senyap dibandingkan kawasan yang sehat.

Mengisi kembali kawasan yang sunyi

Kesunyian di bawah laut membawa dampak langsung pada proses regenerasi. Saat tanda-tanda kehidupan melemah, terumbu kehilangan daya tarik alaminya bagi larva dan biota yang dibutuhkan untuk memulai pemulihan.

Karena itu, acoustic enrichment dipandang sebagai upaya untuk mengembalikan sinyal ekologis yang sudah hilang. Teknologi ini tidak menciptakan karang secara instan, tetapi membantu kawasan yang rusak kembali terasa hidup bagi organisme laut.

Speaker yang digunakan dipasang di bawah air dan memutar suara dari terumbu sehat ke lokasi yang telah rusak atau mati. Dengan cara itu, kawasan yang sebelumnya sunyi diharapkan lebih menarik bagi organisme muda untuk datang dan menetap.

Bukti awal dari penelitian

Salah satu temuan penting datang dari Woods Hole Oceanographic Institution pada 2024. Studi itu menunjukkan bahwa penggunaan teknologi suara dapat meningkatkan tingkat pemukiman larva karang hingga tujuh kali lipat.

Hasil tersebut membuat teknologi ini dianggap menjanjikan untuk mempercepat rekolonisasi ikan dan membantu larva karang kembali menghuni wilayah yang sebelumnya menurun kualitasnya. Di saat yang sama, suara bawah laut juga berpotensi menjadi alat pemantauan kesehatan laut yang lebih akurat.

Konteks kebutuhan itu terlihat dari kondisi terumbu karang di Indonesia. Berdasarkan data BPS 2024, ada 1.153 titik pemantauan, dengan 33,82 persen berada dalam kondisi buruk dan hanya 6,42 persen yang tergolong sangat baik.

Bukan solusi tunggal

Meski menjanjikan, acoustic enrichment bukan jawaban permanen untuk seluruh persoalan terumbu karang. Teknologi ini tidak bisa menghentikan pemutihan karang akibat suhu panas, dan perangkat bawah airnya juga tetap membutuhkan perawatan.

Itulah sebabnya para ahli menempatkan speaker bawah laut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas. Pemulihan terumbu tetap memerlukan konservasi fisik, perlindungan lingkungan, pemantauan soundscape, dan pengendalian tekanan lingkungan agar ekosistem laut tidak kembali menjadi senyap.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button