Pasar minyak kembali menunjukkan gejolak setelah kebuntuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru soal keamanan pasokan dari Timur Tengah. Di tengah sentimen itu, harga acuan utama melonjak lebih dari 6 persen dan membuat pelaku pasar kembali waspada terhadap potensi gangguan distribusi energi global.
Pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026), minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 6,77 dollar AS atau 6,1 persen menjadi 118,03 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak Juni menguat 6,95 dollar AS atau 7 persen ke level 106,88 dollar AS per barrel.
Tekanan di pasar belum mereda setelah Brent sempat menyentuh 120 dollar AS pada perdagangan setelah penutupan. Pergerakan itu memperlihatkan bahwa minat beli masih kuat, terutama saat investor menilai risiko gangguan pasokan sebagai ancaman yang semakin nyata.
Salah satu perhatian utama pasar tertuju pada kemungkinan blokade pelabuhan Iran. Gedung Putih menyebut Presiden Donald Trump telah meminta perusahaan domestik mencari solusi untuk mengurangi dampak dari skenario tersebut, dan pasar membaca langkah itu sebagai sinyal bahwa gangguan bisa berlangsung dalam waktu yang panjang.
Situasi ini muncul di tengah ketegangan Timur Tengah yang sudah menekan pasar energi sejak konflik dimulai akhir Februari. Nilai pasokan minyak mentah yang hilang akibat perang itu diperkirakan telah melewati 50 miliar dollar AS hingga pertengahan April 2026.
Analis Haitong Futures, Yang An, menilai arah harga masih bisa terus terdorong naik bila tekanan suplai tidak segera mereda. “Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin memburuk dan terus mendorong harga minyak lebih tinggi,” ujarnya.
Di saat bersamaan, data persediaan minyak Amerika Serikat juga memperkuat pandangan bahwa pasar sedang mengetat. Laporan pemerintah menunjukkan stok minyak mentah AS menyusut lebih dari 6 juta barrel dalam sepekan, jauh di atas perkiraan analis yang hanya memperkirakan penurunan 200.000 barrel.
Penurunan stok sebesar itu biasanya dipandang sebagai tanda bahwa pasokan menjadi lebih ketat dari perkiraan sebelumnya. Ketika faktor ini bertemu dengan risiko geopolitik yang meningkat, respons pasar cenderung lebih cepat karena pelaku perdagangan langsung menghitung potensi keterbatasan suplai dalam jangka dekat.
Kondisi logistik di kawasan Teluk juga belum memberi banyak ruang lega. Selat Hormuz belum kembali dibuka, padahal jalur itu memegang peran penting dalam arus pengiriman energi dunia dari kawasan tersebut.
Abu Dhabi National Oil Company bahkan telah memberi tahu pelanggan bahwa pengiriman dua jenis minyak mentah mungkin dialihkan dari lokasi di luar Teluk pada bulan mendatang. Langkah ini menunjukkan bahwa pelaku industri mulai menyiapkan jalur cadangan untuk menghadapi ketidakpastian pengiriman.
Perhatian pasar tidak berhenti pada tensi AS-Iran, tetapi juga merembet ke dinamika internal organisasi produsen minyak setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC. Sejumlah analis menilai dampak keputusan itu kemungkinan masih terbatas dalam waktu dekat, tetapi tetap menyisakan risiko bagi stabilitas pasar dalam jangka lebih panjang.
Simon Flowers dari Wood Mackenzie mengatakan keluarnya UEA dari OPEC akan berdampak minimal terhadap fundamental pasar pada 2026, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, selama kebuntuan diplomasi, ancaman blokade, turunnya stok minyak AS, dan gangguan logistik di Timur Tengah masih membayangi, harga minyak berpeluang tetap bergerak liar dalam waktu dekat.