Stok Kurban Jawa Timur Melimpah, Pengawasan Kesehatan Dan Sertifikasi Diperketat

Menjelang Idul Adha 1447 H, Jawa Timur berada dalam posisi yang sangat siap untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban. Ketersediaan sapi, kambing, domba, dan kerbau di wilayah ini tercatat jauh di atas kebutuhan, sehingga pasokan untuk masyarakat maupun pengiriman ke luar daerah tetap aman.

Kondisi surplus itu membuat Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak hanya berfokus pada jumlah stok, tetapi juga pada kelancaran distribusi dan pengawasan kesehatan hewan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena stok kurban di daerahnya berada dalam keadaan mencukupi.

Stok jauh melampaui proyeksi kebutuhan

Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dari 38 kabupaten dan kota menunjukkan selisih yang cukup besar antara ketersediaan dan kebutuhan. Untuk sapi, stok tercatat mencapai 629.119 ekor, sedangkan kebutuhan yang diproyeksikan hanya 70.550 ekor.

Selisih serupa terlihat pada jenis ternak lain. Kambing tersedia 940.693 ekor dari kebutuhan 297.900 ekor, sementara domba mencapai 484.468 ekor dari proyeksi kebutuhan 58.600 ekor.

Kerbau juga berada dalam kondisi aman. Jumlah yang tersedia tercatat 1.698 ekor, padahal kebutuhan hanya 10 ekor.

“Alhamdulillah, ketersediaan ternak kurban di Jawa Timur tahun ini sangat mencukupi, bahkan surplus signifikan,” ujar Khofifah di Surabaya.

Pengawasan kesehatan hewan diperketat

Di balik besarnya stok, aspek kesehatan hewan menjadi perhatian utama Pemprov Jatim. Pemeriksaan ante mortem dan post mortem disiapkan untuk memastikan hewan yang masuk ke jalur kurban layak dipotong dan aman dikonsumsi.

Untuk mendukung pengawasan itu, sebanyak 950 dokter hewan dan 1.500 paramedik veteriner disiagakan di berbagai wilayah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menjaga agar distribusi hingga penyembelihan tetap berjalan sesuai standar kesehatan hewan.

Dengan pengawasan tersebut, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa kecukupan pasokan tidak berdiri sendiri, melainkan dibarengi dengan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat yang akan melaksanakan ibadah kurban.

Peran JULEHA dalam penyembelihan

Pemprov Jatim juga menyiapkan 1.997 Juru Sembelih Halal atau JULEHA bersertifikat. Tenaga ini disiapkan agar proses penyembelihan berlangsung sesuai ketentuan syariat dan tetap tertib di lapangan.

Keterlibatan JULEHA menjadi pelengkap penting dalam kesiapan daerah menghadapi peningkatan kebutuhan kurban. Dengan tenaga bersertifikat, proses penyembelihan dapat berjalan lebih profesional sekaligus tetap mengikuti aturan agama.

Langkah ini menunjukkan bahwa kesiapan Jawa Timur tidak berhenti pada urusan pasokan. Pemerintah juga menaruh perhatian pada pelaksanaan teknis di titik penyembelihan agar ibadah kurban berjalan baik dari awal sampai akhir.

PMK dan LSD diklaim terkendali

Khofifah turut menyebut bahwa ancaman Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK serta Lumpy Skin Disease atau LSD saat ini sudah terkendali. Pengendalian dilakukan melalui vaksinasi masif yang dijalankan di berbagai wilayah Jawa Timur.

Meski situasi disebut aman, perdagangan hewan kurban tetap berada dalam pengawasan. Setiap hewan yang diperjualbelikan wajib memiliki sertifikat veteriner dan minimal sudah menerima vaksinasi PMK dosis pertama.

Aturan tersebut disiapkan untuk menjaga agar hewan yang masuk pasar kurban tetap memenuhi syarat kesehatan. Dengan kombinasi stok yang besar, pengawasan medis yang ketat, dan dukungan JULEHA bersertifikat, Jawa Timur menjaga pasokan kurban tetap stabil untuk memenuhi kebutuhan warga dan membantu distribusi ke daerah lain yang membutuhkan.

Source: harian.disway.id

Baca Juga

Back to top button