Starship Sempat Sukses di Luar Angkasa, Tapi Ujian Penentu Justru Berakhir Kacau

Uji terbang terbaru Starship menunjukkan satu hal yang sangat jelas: SpaceX sudah bisa membawa kendaraan raksasanya kembali ke ruang angkasa, tetapi belum bisa menutup bagian paling menentukan dari seluruh misi. Di satu sisi, roket ini berhasil melewati sejumlah tahapan penting; di sisi lain, langkah yang dibutuhkan untuk penggunaan ulang dan operasi orbit masih belum beres.

Kesenjangan itu penting karena Starship bukan sekadar proyek demonstrasi. SpaceX dan NASA sama-sama menaruh harapan besar pada program ini, mulai dari layanan Starlink hingga pendaratan manusia di Bulan lewat Artemis.

Penerbangan Starship V3 dimulai dari fasilitas Starbase SpaceX dekat Boca Chica, Texas, pada pukul 5:30 sore waktu Central. Lepas landasnya ditenagai 18 juta pon dorongan dari 33 mesin Raptor 3 berbahan bakar metana di tahap pertama, dua mesin lebih banyak dibanding booster Starship V1 dan V2.

Salah satu mesin itu mati sekitar 1 menit 40 detik setelah lepas landas. Namun, booster tetap melanjutkan bagian awal penerbangan, dan tahap kedua menjalankan prosedur hotstage ketika enam Raptor di tahap atas menyala tepat sebelum pemisahan.

Di titik ini, SpaceX memang sempat mencatat kemajuan yang nyata. Pemisahan tahap berlangsung, manuver awal berjalan, dan kendaraan utama terus melaju sesuai urutan penerbangan yang direncanakan.

Masalah muncul saat booster harus menyalakan ulang mesinnya untuk mengendalikan penurunan. Rencana splashdown di Teluk Meksiko gagal, dan SpaceX memilih tidak mencoba membawa booster kembali ke menara peluncuran karena desain baru ini masih perlu dijalankan dengan hati-hati.

Dan Huot, komentator SpaceX, menyebut dalam siaran langsung perusahaan bahwa tampaknya terjadi “early boostback shutdown”. Tanpa pendaratan bertenaga, booster menghantam air dengan keras.

Kegagalan itu menjadi sorotan karena bagian itulah yang menentukan apakah tahap pertama Starship bisa dipakai ulang secara aman. Tanpa kendali turun yang andal, SpaceX belum bisa menganggap booster siap untuk operasi yang lebih ambisius.

Sementara itu, tahap atas Starship justru menuntaskan bagian utama misinya di ruang angkasa. Pintu kargo sempitnya terbuka untuk melepaskan 20 simulator satelit Starlink, serta dua wahana uji yang lebih besar dan dilengkapi kamera untuk merekam bagian luar tahap tersebut.

Setelah itu, tahap atas kembali memasuki atmosfer Bumi dalam kondisi panas dan ekstrem. Struktur kendaraan tetap utuh, lalu ia melakukan serangkaian manuver di atas Samudra Hindia sebelum dua mesinnya menyala lagi untuk membantu pendaratan ke laut dengan posisi mesin menghadap bawah.

Akhir perjalanan tahap atas berlangsung dramatis. Kendaraan yang tampak hangus itu sempat berdiri di atas ombak sebelum tumbang dan meledak, memunculkan awan jamur berwarna jingga terang di langit.

Hasil seperti itu tidak sepenuhnya asing bagi SpaceX. Perusahaan sudah berhasil mendaratkan lebih dari 600 tahap pertama Falcon 9, tetapi tahap yang kembali dengan sisa propelan tetap berisiko meledak jika jatuh miring.

Yang masih belum tercapai adalah kemampuan menuju orbit dengan utuh. Saat mesin tahap pertama bermasalah, SpaceX membatalkan rencana menyalakan ulang satu Raptor di ruang angkasa, padahal itu merupakan syarat penting untuk penerbangan orbital Starship.

SpaceX juga masih harus memastikan tahap atas bisa melakukan deorbit dengan aman. Tanpa kemampuan itu, Starship belum siap dipakai untuk misi orbital penuh seperti yang diincar perusahaan.

Peluncuran ini sendiri datang setelah percobaan Kamis dibatalkan usai lima penundaan terakhir karena masalah pin yang macet di menara peluncuran. Tekanan terhadap program ini juga meningkat karena SpaceX tengah menyiapkan penawaran publik perdana.

Dalam dokumen perusahaan, SpaceX menyebut berharap Starship mulai mengirim muatan ke orbit pada paruh kedua 2026. Perusahaan juga menargetkan satu peluncuran Starship bisa membawa hingga 60 satelit V3 ke orbit rendah Bumi, dengan kapasitas downlink Starlink yang disebut berpotensi naik hingga dua puluh kali dibanding satu peluncuran Falcon 9.

NASA pun memantau perkembangan ini dengan kepentingan besar. Badan antariksa itu memberi SpaceX kontrak senilai $2,89 miliar pada 2021, lalu direvisi menjadi $4 miliar, dengan $2,8 miliar telah dibayarkan, untuk mengembangkan tahap atas Starship sebagai pendarat bulan berawak bagi misi Artemis.

Persaingan di program pendarat Bulan juga semakin ketat karena NASA telah memberi Blue Origin kontrak $3,4 miliar untuk mengembangkan pendaratnya sendiri. Di saat yang sama, NASA menargetkan misi Artemis III di orbit rendah Bumi pada 2027, sehingga setiap kemajuan Starship langsung ikut memengaruhi peta jalan ke Bulan.

Jared Isaacman, Administrator NASA yang juga pernah dua kali terbang ke luar angkasa dengan kapsul SpaceX Dragon, hadir di Texas dan memberi dukungan langsung. Ia mengatakan, “We’re looking forward to seeing this thing fly,” lalu menulis di X: “One step closer to the Moon…one step closer to Mars.”

Exit mobile version