Di saat banyak perusahaan menahan belanja teknologi, kebutuhan terhadap keamanan siber justru tidak ikut melambat. ITSEC Asia membaca kondisi itu sebagai peluang untuk mendorong solusi jangka panjang, terutama ketika risiko serangan digital terus meningkat dan sulit diabaikan.
Tekanan itu terasa kuat di Indonesia. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik sepanjang Januari hingga November 2025, atau hampir 182 percobaan serangan setiap detik.
Bagi ITSEC Asia, angka tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pengeluaran tambahan. Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia, menilai pendekatan reaktif sudah tidak memadai ketika ancaman datang dengan frekuensi setinggi itu.
Ia menyebut Indonesia juga menghadapi lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir. Dalam pandangannya, tekanan ekonomi global seperti perang dagang dan ketidakpastian tarif justru kerap berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas siber berbasis aktor negara.
Patrick mencontohkan pola yang pernah terlihat saat konflik dagang AS-Cina pada 2018. Ia melihat kecenderungan serupa kembali muncul, hanya saja dalam skala yang lebih luas, sementara fase ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun sering dimanfaatkan pelaku ancaman untuk menyerang.
Di level kawasan, Indonesia kini berada di peringkat ke-12 Asia Pasifik untuk tingkat aktivitas siber. Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi sasaran yang paling sering disorot karena dampaknya dapat merembet ke banyak industri lain.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan ancaman siber sudah bergeser dari isu teknis menjadi tantangan strategis. Ia menekankan pentingnya ketahanan siber melalui kesiapan yang matang, kolaborasi lintas sektor, serta investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia.
Laju serangan yang tinggi juga tercermin dari jenis ancaman yang dominan. Data BSSN menunjukkan 93,78% anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware.
Tim Threat Intelligence ITSEC Asia mencatat bahwa kelompok stealer malware kini tidak hanya mencuri kata sandi. Mereka juga mengincar cookies, session token, kredensial cloud, data browser, dan akses ke aplikasi bisnis.
Pola itu membuat pencurian akses digital menjadi risiko bisnis yang nyata. Akses yang dicuri bisa dipakai untuk account takeover, business email compromise, penipuan, penyalahgunaan layanan cloud, hingga menjadi pintu masuk awal bagi serangan ransomware yang lebih besar.
Di tengah tekanan belanja global, Gartner memperlihatkan bahwa pasar keamanan tetap besar meski pertumbuhannya melambat. Anggaran keamanan siber global hanya tumbuh rata-rata 4% pada 2025, turun dari 8% pada tahun sebelumnya, sementara total pengeluaran keamanan informasi dunia tetap diproyeksikan mencapai US$ 213 miliar.
Perlambatan itu terjadi di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan tarif. Namun, kondisi tersebut juga mendorong banyak organisasi mencari penyedia lokal yang lebih memahami regulasi dan kedaulatan data regional.
ITSEC Asia melihat ruang itu sebagai keuntungan di Asia Pasifik, terutama di Indonesia. Perusahaan menilai pemahaman terhadap lanskap regulasi dan kebutuhan pasar domestik menjadi nilai penting saat organisasi mencari mitra keamanan yang lebih sesuai.
Untuk menjawab kebutuhan yang terus berkembang, ITSEC Asia menyiapkan sejumlah portofolio. IntelliBroń Orion dan Aman dipakai untuk intelijen ancaman siber tingkat lanjut, sedangkan ITSEC AI Operations Center diposisikan untuk peluang pengadaan AI di sektor pemerintahan dan BUMN.
Perusahaan juga meluncurkan ITSEC Cyber and AI Academy sebagai sarana pengembangan talenta nasional. Inisiatif ini memperluas hubungan perusahaan dengan ekosistem pendidikan, pemerintah, dan industri, sekaligus memperkuat dimensi ESG.
Patrick menyebut langkah tersebut bukan hanya soal layanan keamanan konvensional. Menurut dia, pendekatan itu ikut membangun ekosistem yang lebih luas dan menempatkan perusahaan sebagai bagian dari rantai penguatan kapasitas digital nasional.
Dari sisi kebijakan, ITSEC Asia menilai arah regulasi juga bergerak sejalan dengan kebutuhan pasar. Penguatan implementasi UU PDP, pembahasan RUU Keamanan Siber dalam agenda legislasi nasional 2025-2029, serta peta jalan AI nasional yang sedang dirampungkan Kementerian Komunikasi dan Digital sama-sama dipandang memperbesar kebutuhan struktural terhadap layanan keamanan siber profesional.
Keterlibatan ITSEC Asia bersama Komdigi, BSSN, Bank Indonesia, dan lembaga negara lain juga membuat perusahaan melihat dirinya sebagai mitra strategis dalam pembentukan arsitektur keamanan digital nasional. Di tengah serangan yang terus meningkat, kebutuhan keamanan tampak makin dekat dengan agenda kebijakan, bukan lagi sekadar urusan teknis perusahaan.
Source: teknologi.bisnis.com