Stabilitas Rupiah Dijaga Bersama BI, Pemerintah Andalkan Kepercayaan Pasar Untuk Pulihkan Tekanan

Tekanan pada rupiah kembali menjadi perhatian pemerintah karena dampaknya tidak berhenti di pasar keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai stabilitas nilai tukar perlu dijaga agar biaya produksi tidak ikut melonjak dan kepercayaan pelaku pasar bisa pulih.

Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih kuat meski rupiah sedang berada di bawah tekanan. Ia juga menyebut kondisi APBN hingga akhir Mei 2026 menunjukkan ekonomi nasional tetap solid dan kesehatan fiskal berada pada posisi yang sangat baik.

Sinergi fiskal dan moneter diperkuat

Di tengah tekanan yang muncul, pemerintah memilih mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia. Purbaya menilai kebijakan fiskal dan moneter perlu bergerak lebih selaras supaya dampaknya ke ekonomi terasa lebih besar.

“Jadi ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan kita semakin cepat,” kata Purbaya seusai pertemuan dengan DPR di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6/2026).

Menurut dia, sinkronisasi yang lebih kuat akan membuat respons terhadap tekanan ekonomi menjadi lebih efektif. Dengan arah kebijakan yang menyatu, pemerintah berharap pasar melihat sinyal yang lebih jelas dan positif terhadap rupiah.

Kepercayaan pasar jadi kunci

Purbaya menilai pemulihan rupiah sangat bergantung pada kepercayaan pasar. Ia melihat sinergi pemerintah dan BI sebagai faktor penting untuk mengembalikan keyakinan pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar.

“Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Kehadiran para pejabat itu menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas ekonomi dipandang sebagai urusan lintas lembaga.

Dampak pelemahan rupiah terasa sampai ke pelaku kecil

Purbaya juga menyoroti bahwa pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi pasar keuangan. Tekanan nilai tukar ikut dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor.

Ia mencontohkan perajin tempe dan tahu yang mulai merasakan beban biaya produksi lebih tinggi. Sebagian pelaku usaha bahkan harus menaikkan harga jual untuk menyesuaikan lonjakan harga bahan baku.

Karena itu, stabilitas rupiah dinilai penting bukan hanya untuk menjaga pasar, tetapi juga untuk menahan kenaikan biaya produksi di sektor riil. Dengan nilai tukar yang lebih stabil, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga di tengah tekanan harga bahan baku impor.

Pemerintah menempatkan stabilitas fiskal dan koordinasi kebijakan sebagai dua alat utama untuk meredam guncangan eksternal. Di saat rupiah masih berfluktuasi, pemerintah ingin menunjukkan bahwa fondasi ekonomi tetap kuat dan ruang kebijakan masih tersedia untuk menjaga kepercayaan pasar.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button