Purbaya Nilai Ekonomi Masih Solid, Tekanan IHSG Muncul Dari Persepsi Negatif

Tekanan di pasar saham tidak hanya terlihat dari angka IHSG yang terus merosot, tetapi juga dari cara pelaku pasar membaca arah ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai persoalan utama justru ada pada persepsi negatif yang terlanjur terbentuk, bukan pada kondisi ekonomi riil.

Ia menegaskan bahwa aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih bergerak naik dan posisi APBN tetap berada dalam keadaan baik. Karena itu, pelemahan pasar saham dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dasar ekonomi Indonesia.

Persepsi buruk menekan kepercayaan pasar

Purbaya menyebut kabar dan anggapan buruk tentang masa depan ekonomi nasional ikut memengaruhi perilaku investor. Saat muncul narasi bahwa ekonomi akan hancur, sebagian pelaku pasar ikut terdorong untuk bersikap lebih hati-hati.

“Jadi, kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya economic activity meningkat,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Ia juga menambahkan bahwa persepsi semacam itu bisa memperbesar kekhawatiran di pasar. Menurut dia, ketika sentimen negatif terus berulang, dampaknya tidak hanya dirasakan pada kepercayaan, tetapi juga pada keputusan investasi.

IHSG makin tertekan sepanjang tahun

Di sisi lain, tekanan pasar saham memang nyata tercermin dari pergerakan IHSG. Indeks tercatat turun 35,30 persen sepanjang tahun 2026 dan sempat berada di level 5.594,76.

Pada awal tahun, IHSG masih berada di kisaran 9.100-an sebelum terkoreksi tajam di tengah kekhawatiran pasar. Dalam sepekan, indeks juga melemah 8,69 persen dari 6.127,381 menjadi 5.594,765 pada penutupan Jumat (5/6/2026).

Penurunan itu menunjukkan bahwa tekanan di bursa tidak hanya terjadi dalam jangka panjang. Pergerakan mingguan yang lemah memperlihatkan pasar masih sensitif dan belum menemukan kestabilan yang kuat.

Arus asing ikut menambah beban

Pelemahan IHSG berlangsung bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham domestik. Dalam sepekan, investor asing mencatat aksi jual bersih senilai Rp 3,73 triliun.

Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, penjualan bersih investor asing sudah mencapai Rp 61,36 triliun. Arus keluar modal seperti ini menambah tekanan bagi pasar yang sedang mudah terguncang oleh sentimen negatif.

Kondisi tersebut membuat pasar saham bergerak lebih rapuh meski pemerintah menilai indikator ekonomi riil masih cukup kuat. Dengan sentimen yang belum membaik, tekanan di bursa berpotensi tetap terasa meskipun aktivitas ekonomi di lapangan tidak menunjukkan pelemahan yang sama.

Pemerintah fokus pulihkan keyakinan

Pemerintah kini menaruh perhatian pada upaya mengembalikan kepercayaan pasar. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat kerja sama dengan bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Purbaya menyebut kolaborasi itu juga akan diarahkan untuk meredam tekanan pada rupiah terhadap dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah sempat berada di level Rp 18.036.

“Itu (persepsi negatif) yang akan kita hilangkan dengan kerjasama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga sudah erat, cuma kita lebih eratin lagi,” ujarnya.

Bagi pemerintah, pembacaan pasar yang terlalu pesimistis perlu diluruskan dengan menunjukkan bahwa fondasi ekonomi tetap berjalan. Selama persepsi negatif masih dominan, IHSG dan arus modal asing masih berpotensi berada di bawah tekanan.

Baca Juga

Back to top button