Skor imbang 1-1 membuat duel Indonesia melawan Taiwan tetap terbuka lebar di Grup C Piala Uber. Situasi itu muncul setelah tim Uber Indonesia gagal mempertahankan keunggulan awal yang sempat dibangun lewat Putri Kusuma Wardani.
Perubahan arah pertandingan terjadi ketika nomor ganda putri tidak berjalan sesuai harapan. Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah dari pasangan Taiwan, Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu, sehingga Indonesia kehilangan kesempatan untuk menjauh pada partai kedua.
Awal yang sempat menguntungkan
Indonesia sebenarnya memulai laga dengan baik di Lapangan 1 Forum Horsens, Denmark. Putri Kusuma Wardani tampil positif saat menghadapi Chiu Pin-Chian dan berhasil memberi poin pembuka bagi Merah Putih.
Kemenangan itu sempat membuat posisi Indonesia terlihat lebih nyaman. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama karena Taiwan merespons lewat sektor ganda putri yang bermain lebih stabil saat poin-poin penting muncul.
Ganda putri gagal menjaga momentum
Amallia/Fadia harus mengakui keunggulan Hsieh/Hung setelah bertarung selama 45 menit. Pasangan Indonesia kalah dua gim langsung dengan skor 21-23, 13-21, hasil yang sekaligus membalik suasana pertandingan.
Di gim pertama, laga masih berlangsung ketat dan peluang Indonesia belum tertutup. Tetapi Taiwan mampu lebih tenang ketika memasuki fase penentuan, sementara Indonesia gagal mempertahankan ritme yang sudah dibangun sejak awal.
Memasuki gim kedua, tekanan kepada pasangan Indonesia semakin terasa. Kesalahan sendiri membuat permainan Amallia/Fadia makin sulit dikendalikan, sedangkan lawan justru tampil lebih percaya diri.
Pengakuan soal detail di poin krusial
Fadia menilai pasangan Indonesia tidak bisa menjaga fokus saat laga memasuki titik penting. Ia menyebut permainan kedua pasangan sebenarnya cukup seimbang, tetapi pengambilan keputusan di akhir gim pertama tidak berjalan maksimal.
“Sudah mencoba tapi kita sama-sama sudah tahu permainan masing-masing,” kata Fadia kepada Tim Media & Humas PBSI. Ia juga menilai lawan lebih cerdik dalam memanfaatkan celah.
Menurut Fadia, Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu punya keuntungan karena sudah lama berpasangan. “Mereka sudah lama bermain bersama dan tadi mereka bisa lebih tahu untuk memanfaatkan celah yang ada. Kami harus bisa lebih cerdik lagi,” ujarnya.
Eror sendiri memberi jalan bagi Taiwan
Amallia menambahkan bahwa gim kedua menjadi lebih berat karena rangkaian kesalahan yang dibuat sendiri oleh pasangan Indonesia. Kesalahan itu justru membantu lawan membangun keyakinan dan menguasai jalannya pertandingan.
“Di gim kedua, kami banyak melakukan kesalahan sendiri yang membuat mereka lebih percaya diri,” kata Amallia. Dalam kondisi seperti itu, Taiwan jadi lebih nyaman mengendalikan tempo dan menekan Indonesia pada momen-momen berikutnya.
Hasil dari partai kedua ini menjadi catatan penting bagi sektor ganda putri Indonesia. Di laga beregu, detail kecil sangat menentukan, apalagi saat lawan tampil rapi dan sabar di situasi yang ketat.
Tumpuan berikutnya ada di tunggal putri
Dengan kedudukan 1-1, perhatian beralih ke partai ketiga yang mempertemukan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dengan Lin Hsiang Ti. Laga itu berpotensi menjadi penentu arah pertandingan Indonesia kontra Taiwan.
Kondisi imbang membuat beban berikutnya berpindah ke sektor tunggal putri untuk menjaga peluang tim Uber Indonesia tetap hidup. Setelah keunggulan awal terbuang di nomor ganda putri, Indonesia perlu segera menemukan stabilitas agar Taiwan tidak mengambil alih penuh jalannya duel Grup C.