Selat Hormuz Memanas, Minyak Dunia Terus Menguat Dengan WTI Di Atas US$96 Dan Brent Dekati US$105

Harga minyak kembali bergerak naik ketika pasar menilai ketegangan Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan jalan keluar yang jelas. Dalam perdagangan terbaru, West Texas Intermediate atau WTI menembus US$96 per barel, sedangkan Brent bertahan di dekat US$105 per barel.

Kenaikan itu menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak hanya melihat persoalan suplai dan permintaan, tetapi juga risiko distribusi yang bisa terganggu kapan saja. Selama kebuntuan diplomasi masih berlangsung, premi risiko geopolitik terus menempel pada harga minyak dan membuat pergerakannya tetap sensitif.

Selat Hormuz jadi pusat kekhawatiran

Perhatian utama pasar kini tertuju ke Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang sangat penting bagi arus energi global. Setiap tanda gangguan di wilayah ini cenderung langsung memicu kekhawatiran karena pasar membaca adanya kemungkinan pasokan dari Teluk Persia menjadi lebih sulit keluar.

Kondisi itu makin diperhitungkan setelah dua pejabat Amerika Serikat menyebut unggahan Donald Trump di platform Truth Social dan blokade laut terhadap pelabuhan Iran telah mengganggu proses negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan. Dari sudut pandang pasar, hal tersebut membuat peluang meredanya ketegangan terlihat semakin jauh.

Ketika jalur pelayaran strategis berada dalam sorotan, harga minyak ikut bereaksi lebih cepat terhadap kabar politik maupun militer. Risiko distribusi pun berubah menjadi faktor yang sama pentingnya dengan volume produksi atau kebutuhan pasar.

Nada keras Washington ikut menambah tekanan

Tekanan terhadap pasar energi tidak berhenti pada jalur diplomasi. Washington juga mengirim sinyal keras melalui instruksi kepada militer Amerika Serikat agar bertindak tegas di wilayah selat, yang kemudian ikut memperbesar kekhawatiran akan meluasnya ketegangan.

Situasi makin panas setelah muncul laporan bahwa pasukan Amerika menaiki supertanker Iran di Samudra Hindia. Di saat yang sama, Donald Trump menyerukan tindakan “menembak dan menghancurkan” terhadap kapal-kapal yang dianggap memasang ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.

Pernyataan dan langkah seperti itu membuat pasar melihat ketegangan bukan sebagai isu sesaat, melainkan sebagai ancaman yang masih bisa berlanjut. Akibatnya, premi risiko geopolitik tetap tinggi dan menopang harga minyak di level atas.

Pasar menghitung kebuntuan yang lebih panjang

Di luar persoalan pelayaran, hubungan Washington dan Teheran juga belum menemukan titik temu dalam isu kemampuan nuklir Iran serta dinamika militer di Lebanon. Kombinasi faktor itu membuat pasar menilai belum ada tanda konkret bahwa konflik akan mereda dalam waktu dekat.

Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior perdagangan di BOK Financial Securities Inc., menilai pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario yang lebih berat. Ia mengatakan, “Ketegangan kini semakin meningkat—pasar saat ini mulai memperhitungkan kebuntuan yang lebih intens dengan durasi yang lebih lama.”

Pembacaan itu tercermin pada perdagangan WTI untuk pengiriman Juni yang naik 0,8% menjadi US$96,61 per barel pada Jumat pagi waktu Singapura. Sementara itu, Brent untuk pengiriman yang sama menguat 3,1% dan berakhir di US$105,07 per barel.

Kenaikan beruntun belum memberi tanda reda

Dalam sepekan, harga minyak sudah naik sekitar 16% karena pasar melihat risiko hambatan suplai semakin besar. Rentetan kenaikan selama lima hari berturut-turut juga menegaskan bahwa sentimen belum bergeser ke arah yang lebih tenang.

Selama Selat Hormuz tetap dipandang rentan dan pembicaraan AS-Iran tidak menunjukkan kemajuan, pasar kemungkinan masih akan bereaksi tajam terhadap setiap perkembangan baru. Dalam situasi seperti ini, arah harga minyak dunia akan terus dipengaruhi oleh kombinasi tekanan geopolitik, risiko pelayaran, dan respons politik dari Washington maupun Teheran.

Exit mobile version