Selat Hormuz Makin Rawan, Lebih Dari 70 Tanker Iran Tertahan Oleh Blokade AS

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan dalam perdagangan energi dunia setelah lalu lintas kapal besar di kawasan itu praktis terhenti. Dalam 24 jam hingga Jumat pukul 09.00 GMT atau sekitar pukul 16.00 WIB, tidak ada kapal komersial besar yang melintasi jalur tersebut menurut data pelacakan kapal yang dihimpun Anadolu.

Situasi itu muncul di tengah langkah Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom yang mengklaim telah memblokir lebih dari 70 kapal tanker yang hendak masuk maupun keluar dari pelabuhan Iran. Kapal-kapal komersial yang tertahan itu disebut memiliki kapasitas angkut lebih dari 166 juta barel minyak Iran.

Tekanan terhadap jalur ini tidak datang tanpa persiapan militer yang besar. Centcom menyatakan operasi blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz sudah berjalan sejak 13 April 2026.

Dalam operasi tersebut, Amerika Serikat disebut mengerahkan lebih dari 15.000 personel militer, sekitar 200 pesawat, dan 20 kapal perang. Kekuatan itu dipakai untuk menekan aktivitas pengiriman energi yang terkait dengan Iran di salah satu rute paling strategis di dunia.

Dampak terbesarnya langsung terasa pada arus ekspor Iran. Data terbaru Centcom menunjukkan sebagian besar kapal pengangkut minyak yang berkaitan dengan Iran masih tertahan karena konflik yang terus berlangsung.

Nilai kargo dari kapal-kapal yang diblokir itu diperkirakan melampaui US$ 13 miliar atau sekitar Rp 225,5 triliun. Tekanan ini menambah beban terhadap pendapatan ekspor minyak Teheran pada saat jalur distribusinya semakin sulit bergerak.

Bagi pasar energi global, hambatan di Selat Hormuz bukan sekadar persoalan lalu lintas kapal. Setiap pembatasan di kawasan ini dapat memicu kekhawatiran soal gangguan pasokan dan ikut mengangkat risiko terhadap stabilitas harga energi.

Ketegangan di Teluk juga membuat aktivitas pelayaran internasional menghadapi tingkat risiko yang lebih besar. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran minyak mentah paling strategis, sehingga pembatasan di area tersebut segera memengaruhi pergerakan tanker.

Dengan lebih dari 70 tanker disebut tertahan, perhatian pelaku pasar tertuju pada apakah arus pengiriman energi bisa kembali bergerak atau justru makin tersendat. Selama blokade dan ketegangan masih berlangsung, Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama dalam pemantauan perdagangan minyak dunia.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button