Selat Hormuz Diincar Krisis, India Percepat Langkah Menjaga Pasokan Minyaknya

Bagi India, ancaman terbesar dari perang Iran bukan hanya soal diplomasi, melainkan risiko langsung terhadap pasokan energi. Ketika harga bensin dan solar dinaikkan di dalam negeri, perhatian New Delhi makin tertuju pada Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama arus minyak mentah ke pasar India.

Narendra Modi memilih isu itu sebagai pesan pembuka dalam lawatan singkatnya ke Uni Emirat Arab. Di Abu Dhabi, ia menegaskan pentingnya agar jalur tersebut tetap bebas, terbuka, dan aman, karena gangguan di sana cepat mengguncang pasar minyak dan gas.

Kementerian Luar Negeri India menyebut Modi menempatkan keamanan Hormuz sebagai prioritas tertinggi. Ia juga menekankan bahwa kepatuhan pada hukum internasional harus tetap dijaga dalam menyikapi situasi itu.

Ketergantungan India membuat tekanan di Selat Hormuz terasa sangat nyata. Sekitar separuh impor minyak mentah India biasanya melewati rute tersebut, sementara India sendiri merupakan pembeli minyak terbesar ketiga di dunia.

Tekanan pasokan itu datang pada saat jalur pelayaran Teluk dilaporkan sebagian besar terblokir oleh Iran sejak perang dimulai pada akhir Februari. Bagi New Delhi, kondisi itu mengubah keamanan pasokan menjadi persoalan ekonomi yang langsung memengaruhi stabilitas domestik.

Di Abu Dhabi, Modi diterima dengan penghormatan militer dan bertemu Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan sebelum melanjutkan perjalanan ke Belanda. Pesawatnya juga dikawal jet tempur saat masuk dan keluar wilayah udara UEA, sementara Modi menyebut kunjungan itu sebagai datang ke “rumah kedua”.

Dorongan baru untuk keamanan energi

Lawatan ke UEA tidak hanya berisi pesan politik tentang Hormuz. Pembahasan juga menyentuh kerja sama yang bisa membantu India mengurangi risiko dari gangguan rute laut, terutama melalui penguatan cadangan dan penyimpanan minyak.

Salah satu poinnya adalah perluasan kapasitas penyimpanan minyak ADNOC milik UEA di India hingga 30 juta barel. Kedua pihak juga sepakat menjajaki penyimpanan minyak mentah di pelabuhan Fujairah milik UEA sebagai bagian dari cadangan strategis India, menurut pernyataan ADNOC.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyebut di X bahwa kunjungan ini memberi dorongan besar bagi keamanan energi India. Pemerintah India memang memandang Teluk sebagai sumber utama minyak dan gas petroleum cair bagi negaranya.

Pembahasan itu memperlihatkan arah yang jelas dari New Delhi. India tidak hanya meminta jalur tetap aman, tetapi juga mencari penyangga agar guncangan di rute utama tidak langsung mengganggu kebutuhan energinya.

Agenda Teluk bertemu Eropa

Setelah dari UEA, perhatian Modi bergeser ke rangkaian perjalanan di Eropa. Agenda lawatan enam hari itu juga mencakup Swedia, Norwegia, dan Italia, sebagai bagian dari upaya memperluas kemitraan ekonomi dan strategis India.

Perjalanan ini berlangsung sesaat setelah India dan Uni Eropa menyegel perjanjian perdagangan bebas pada Januari. Modi menyebut kesepakatan itu sebagai “mother of all deals”, sementara New Delhi melihat kunjungan ini sebagai kesempatan untuk memperdalam perdagangan dan investasi.

Uni Eropa selama ini memandang India, negara terpadat di dunia, sebagai pasar penting. Karena itu, lawatan tersebut dibaca sebagai upaya menjaga momentum kerja sama setelah tercapainya India-EU FTA.

Di Norwegia, Modi dijadwalkan menghadiri pertemuan tingkat tinggi Nordik. Itu akan menjadi kunjungan pertama perdana menteri India ke Norwegia dalam 43 tahun, sehingga langkah ini dinilai menandai meningkatnya keterlibatan India dengan Eropa Utara.

Mantan duta besar India untuk Italia dan Polandia, Anil Wadhwa, menilai hubungan dengan negara-negara Nordik tepat waktu untuk menempatkan India sebagai mitra ekonomi, teknologi, dan energi bersih yang tepercaya. Ia juga menyebut diversifikasi dari China serta momentum perjanjian dagang India-Uni Eropa ikut memperkuat posisi India.

Arktik dan perubahan iklim ikut masuk hitungan

Kepentingan India di utara Eropa tidak berhenti pada perdagangan. Di Norwegia, India juga memperhatikan arti pembukaan rute laut Arktik yang dipicu perubahan iklim bagi pelayaran.

India memiliki basis riset Arktik di pulau Svalbard milik Norwegia, dan Shashi Tharoor menulis di Indian Express bahwa kepentingan India di Arktik bukan sekadar akademis. Menurut Tharoor, mencairnya es kutub berdampak langsung pada monsun India dan ketahanan pangan.

Dengan begitu, agenda utara Modi juga terkait dengan keamanan jangka panjang, bukan hanya diplomasi ekonomi. Isu iklim, rute pelayaran, dan ketahanan pangan ikut masuk dalam perhitungan India saat memperluas jejaknya di kawasan itu.

Di sisi lain, geopolitik Teluk juga sedang berubah. Mantan duta besar India untuk Iran dan UEA, K.C. Singh, mengatakan lingkungan internasional yang baru kini berlaku, dengan retakan di dalam Gulf Cooperation Council dan konfrontasi terbuka Iran-UEA yang mengubah peta kawasan.

Ia menyoroti bahwa UEA kini lebih terbuka berbaris dengan AS dan Israel, sementara Arab Saudi bergerak lebih dekat ke Pakistan, Mesir, dan Turki sembari tetap menjaga hubungan dengan AS. Dalam situasi itu, India berupaya menguatkan posisinya di negara-negara Teluk.

Pada Kamis, Modi juga bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di New Delhi. Setelah rangkaian kunjungan ke UEA dan Eropa, agenda terakhirnya adalah Italia pada 19 Mei untuk bertemu Perdana Menteri Giorgia Meloni.

Baca Juga

Back to top button