Pernyataan Joe Kent soal ISIS kembali memancing sorotan pada perang Suriah dan pada cara Washington membaca konflik di kawasan itu. Mantan pejabat kontraterorisme Amerika Serikat tersebut menilai rangkaian peristiwa di Suriah tidak bisa dilepaskan dari agenda untuk menjatuhkan Bashar al-Assad.
Dalam wawancaranya di Shawn Ryan Show, Kent mengaitkan dinamika Arab Spring dengan intervensi yang menurutnya melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan kelompok Sunni di lapangan. Ia menggambarkan proses itu sebagai dorongan geopolitik yang kemudian melahirkan kekacauan lebih besar.
Dari protes ke perang berkepanjangan
Kent memulai pandangannya dari Arab Spring yang ia sebut sebagai gerakan yang awalnya tumbuh dari aspirasi masyarakat. Namun, menurutnya, momentum itu lalu dimanfaatkan dalam arah yang berbeda ketika konflik Suriah memasuki fase intervensi.
Ia menyebut Bashar al-Assad sebagai penghalang bagi agenda regional tertentu. Karena itu, ia menilai penggulingan Assad menjadi tujuan utama di balik dukungan terhadap kelompok bersenjata yang aktif dalam perang Suriah.
Dalam penjelasannya, Kent menyebut al-Qaeda sebagai kekuatan awal yang dianggap paling efektif di lapangan. Ia lalu mengatakan kelompok itu berubah menjadi ISIS, sehingga konflik di Suriah berkembang makin luas dan semakin sulit dikendalikan.
Tudingan yang langsung bertabrakan dengan posisi resmi Washington
Pernyataan Kent memicu perhatian karena berseberangan dengan sikap resmi pemerintah Amerika Serikat. Washington tetap menempatkan ISIS sebagai musuh utama dan memimpin koalisi internasional untuk menghancurkan kelompok itu di Irak dan Suriah.
Narasi yang menghubungkan keterlibatan langsung pemerintah AS dengan lahirnya ISIS memang sudah lama menjadi bahan perdebatan keras. Kent kembali menghidupkan perdebatan itu dengan menyebut ada dukungan terhadap kelompok bersenjata di Suriah dalam proses yang ia lihat sebagai bagian dari strategi yang lebih besar.
Ia juga menyorot dokumen internal yang menurutnya mendukung klaim tersebut. Salah satu yang ia sebut adalah email Hillary Clinton, yang dalam pandangannya menunjukkan adanya dukungan terhadap kelompok bersenjata di Suriah.
ISIS dinilai lepas kendali
Kent menggambarkan ISIS sebagai kelompok yang awalnya dipersenjatai untuk tujuan jangka pendek. Menurutnya, kelompok itu kemudian tidak terkendali dan berubah menjadi ancaman yang meluas di luar Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa dampak ISIS tidak berhenti di Suriah. Kent menyebut kelompok itu kemudian menyerang target di Eropa dan Amerika Serikat sendiri, sehingga kebijakan luar negeri yang semula diarahkan untuk tujuan tertentu justru memunculkan risiko baru.
Dari situ, ia memakai ungkapan bahwa pihak-pihak yang terlibat pada akhirnya harus “memadamkan api yang telah kami mulai”. Ungkapan itu menjadi inti kritiknya terhadap intervensi yang dinilai berbalik merugikan.
Cara pandang di Timur Tengah dan latar belakang Kent
Kent juga menyinggung bagaimana sebagian orang di Timur Tengah memandang ISIS. Menurutnya, banyak pihak di kawasan itu melihat kelompok tersebut bukan sebagai representasi agama, melainkan sebagai rekayasa politik yang disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Ia menegaskan ideologi ISIS tidak mewakili nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Pandangan itu sejalan dengan kritik yang kerap muncul bahwa kelompok tersebut lebih dekat dengan agenda kekerasan politik daripada ajaran agama.
Sorotan Kent muncul dari sosok yang punya rekam jejak panjang di bidang keamanan dan kontraterorisme. Ia adalah pensiunan perwira Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, mantan perwira paramiliter CIA, dan pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional.
Kent mengundurkan diri dari jabatan itu pada Maret 2026 setelah perbedaan prinsip terkait kebijakan AS dalam perang Iran. Sebelum itu, ia menjalani 20 tahun tugas di Angkatan Darat AS, menjalani 11 penugasan tempur di Timur Tengah dan wilayah berisiko tinggi lain, serta menerima sejumlah penghargaan termasuk enam bintang perunggu.
Riwayat pribadinya juga bersinggungan langsung dengan Suriah. Istrinya, Kepala Bintara Senior Angkatan Laut Shannon Kent, tewas dalam serangan bom bunuh diri saat bertugas di Suriah pada 2019.
Source: mediaindonesia.com




