Saat Adopsi AI Melaju, Indonesia Disorot Karena Belum Punya Arah Tata Kelola Yang Kuat

Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan, Indonesia mulai dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar dari sekadar siapa yang paling cepat memakainya. Yang menjadi sorotan kini adalah bagaimana teknologi itu diatur agar manfaatnya merata, aman, dan benar-benar masuk ke kebutuhan publik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menempatkan roadmap AI nasional sebagai jawaban atas kebutuhan itu. Menurutnya, tanpa arah kebijakan yang jelas, antusiasme terhadap AI hanya akan berhenti sebagai euforia, bukan berubah menjadi inovasi yang berdampak.

Tata kelola jadi titik awal

Nezar menegaskan bahwa perkembangan AI tidak bisa dilepaskan dari tata kelola yang kuat. Kerangka kebijakan dibutuhkan supaya pemanfaatan teknologi tetap bertanggung jawab dan bergerak dalam aturan yang jelas.

Pandangan itu ia sampaikan dalam forum Huawei Partner Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 29 April 2026. Di forum tersebut, ia menyoroti bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi besarnya potensi AI, melainkan bagaimana potensi itu diubah menjadi hasil yang konkret.

Teknologi yang sudah dekat dengan masyarakat

Dorongan menyusun arah kebijakan semakin relevan karena AI sudah bergerak cepat di banyak negara. Dalam tiga tahun, adopsi generative AI disebut telah mencapai 53 persen populasi global.

Di Indonesia, pergeseran itu juga terasa. Sebanyak 76 persen warga menilai AI membawa lebih banyak manfaat daripada kerugian, sehingga ruang penerimaannya terlihat cukup besar untuk terus berkembang.

Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna

Nezar melihat Indonesia punya peluang untuk melangkah lebih jauh dari posisi sebagai pengguna. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dinilai dapat ikut menjadi arsitek dalam pengembangan AI, bukan hanya pasar bagi teknologi yang datang dari luar.

Agar arah itu terasa nyata, ia mendorong penerapan AI di sektor strategis seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan publik. Tiga sektor itu dianggap penting karena manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas nasional.

Literasi dan keterampilan perlu mengimbangi pertumbuhan

Selain soal aturan, Nezar menekankan pentingnya literasi digital dan peningkatan keterampilan. Tanpa itu, manfaat AI berisiko hanya dinikmati oleh wilayah atau kelompok tertentu saja.

Ia menilai setiap komunitas perlu mendapat akses terhadap manfaat transformasi digital. Karena itu, penguatan kemampuan masyarakat menjadi bagian dari strategi nasional agar pemanfaatan AI lebih merata.

Kolaborasi dibutuhkan untuk ekosistem yang sehat

Nezar juga membuka ruang kerja sama yang lebih luas untuk membangun ekosistem AI yang etis, inklusif, dan berdampak. Ia memandang kolaborasi penting karena ekosistem digital kini saling terhubung dan tidak bisa dibangun sendirian.

Dalam pandangannya, Indonesia dan komunitas internasional memerlukan sistem kolaboratif yang kuat untuk menciptakan sinergi. Kerja sama itu diharapkan memperkuat fondasi tata kelola sekaligus menjaga arah pengembangan AI agar tetap bertanggung jawab.

Percepatan adopsi AI membuat Indonesia berada di titik yang menentukan. Yang dipertaruhkan bukan hanya kecepatan masuknya teknologi ke berbagai sektor, tetapi juga kesiapan negara membangun aturan main, menyiapkan kemampuan masyarakat, dan memastikan manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button