Bagi pekerja urban, olahraga kini tidak lagi berdiri sendiri sebagai aktivitas fisik. Banyak yang mulai memasukkannya ke dalam pola hidup, ruang bersosialisasi, bahkan daftar pengeluaran rutin bulanan.
Perubahan ini terlihat dari riset Populix bertajuk How Sport is Becoming Part of Work and Regular Activity Among Indonesian Workers. Survei tersebut melibatkan 840 responden, mayoritas berusia 26–36 tahun, berasal dari kelompok ekonomi menengah ke atas, dan memiliki penghasilan tetap sekitar Rp5 juta hingga Rp9,9 juta per bulan.
Olahraga masuk ke jadwal, tapi belum sepenuhnya menetap
Kesadaran untuk hidup sehat memang meningkat, tetapi kebiasaan berolahraga masih sulit dijaga secara konsisten. Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar, menilai pekerja urban sudah memahami pentingnya olahraga, namun padatnya rutinitas kerja kerap membuat kebiasaan itu tidak bertahan lama.
Data riset menunjukkan rata-rata waktu yang dicurahkan responden untuk olahraga hanya sekitar 49,75 menit per minggu. Waktu itu terbagi dalam dua sesi aktivitas, sehingga minat terlihat ada, tetapi belum berubah menjadi rutinitas yang benar-benar stabil.
Belanja olahraga mulai dianggap kebutuhan
Di sisi lain, olahraga makin diperlakukan sebagai kebutuhan yang layak dianggarkan. Sebanyak 64% responden mengaku berlangganan layanan olahraga, baik melalui fasilitas fisik maupun aplikasi digital, dengan rata-rata pengeluaran Rp391.844 per bulan.
Ada pula 27% responden yang menyebut menghabiskan lebih dari Rp500.000 setiap bulan untuk kebutuhan olahraga. Pengeluaran itu tidak hanya untuk akses layanan, tetapi juga untuk perlengkapan pendukung yang melekat pada aktivitas kebugaran.
Dalam satu tahun terakhir, 72% responden membeli pakaian olahraga, 67% membeli sepatu olahraga, dan 30% membeli perangkat kebugaran. Produk seperti smartwatch dan fitness tracker ikut masuk ke daftar belanja, menunjukkan bahwa olahraga kini juga terkait dengan identitas gaya hidup sehat.
Produk kesehatan ikut terdorong naik
Perubahan pola hidup tersebut tampak pada konsumsi produk kesehatan. Sebanyak 60% responden mengaku rutin mengonsumsi vitamin dan suplemen bermerek dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, 53% responden mengonsumsi probiotik dan produk kesehatan pencernaan, sementara 47% memilih minuman isotonik. Ketiganya banyak dipakai untuk menjaga daya tahan tubuh, menambah energi, dan membantu pemulihan setelah berolahraga.
Fungsi olahraga melebar ke relasi sosial
Olahraga juga tidak lagi dipandang semata-mata sebagai urusan fisik. Bagi banyak responden, aktivitas ini menjadi ruang pribadi, momen bersama orang terdekat, dan bahkan sarana memperluas jaringan profesional.
Sebanyak 60% responden menyebut olahraga sebagai me time. Lalu, 53% menjadikannya sebagai quality time bersama pasangan atau keluarga, dan 40% melihatnya sebagai cara menambah jejaring profesional.
Retno menyebut perubahan itu sebagai tanda bahwa olahraga sudah masuk ke rutinitas sosial masyarakat urban. “Olahraga sekarang bukan lagi cuma soal sehat, tapi sudah jadi bagian dari rutinitas sosial dan gaya hidup sehari-hari,” ujarnya.
Setelah olahraga, kebersamaan masih berlanjut
Kebiasaan setelah berolahraga juga memperlihatkan pola yang sama. Sebanyak 39% responden memilih nongkrong atau ngopi setelah selesai beraktivitas fisik.
Ada pula 37% responden yang melanjutkan waktu olahraga dengan makan bersama teman atau komunitas. Pola ini menegaskan bahwa olahraga kian berfungsi sebagai penghubung interaksi, bukan sekadar aktivitas individual yang selesai di lapangan atau pusat kebugaran.
Pilihan olahraga makin beragam
Di antara berbagai jenis aktivitas, lari dan olahraga luar ruangan masih menjadi yang paling dominan dengan porsi 67%. Jogging menempati posisi teratas dalam kategori pilihan, yaitu 45%, disusul jalan kaki 33% dan bersepeda santai 26%.
Meski begitu, olahraga berbasis komunitas dan gaya hidup seperti padel mulai menarik perhatian pekerja urban. Riset itu mencatat partisipasi padel kini mulai melampaui ajang lari dan road biking yang sebelumnya identik dengan tren olahraga populer.
Perubahan preferensi tersebut menunjukkan pekerja kota cenderung mencari aktivitas yang fleksibel, sosial, dan mudah disesuaikan dengan ritme harian. Pilihan itu juga membantu mereka tetap aktif tanpa terlalu mengganggu agenda kerja.
Pasar olahraga masih punya ruang tumbuh
Populix menilai peluang industri olahraga di Indonesia masih terbuka lebar. Masyarakat kini lebih memperhitungkan aspek praktis sebelum membelanjakan uang untuk kebugaran, mulai dari lokasi fasilitas, fleksibilitas waktu, hingga manfaat yang langsung terasa.
Karena itu, penyedia fasilitas olahraga dinilai perlu menawarkan akses yang mudah dijangkau, perlengkapan yang lengkap, serta jadwal yang lebih lentur. Sementara itu, merek produk olahraga dan kesehatan juga perlu hadir lebih dekat dengan kebiasaan harian konsumen.
“Pasarnya sebenarnya belum jenuh. Demand-nya sudah ada dan besar, tinggal bagaimana brand bisa masuk ke rutinitas sehari-hari masyarakat,” kata Retno.
Source: lifestyle.bisnis.com




