Di tengah dolar Amerika Serikat yang sedang menguat, rupiah justru mampu menunjukkan perlawanan pada awal perdagangan. Pada pukul 09.03 WIB, mata uang Indonesia masih bergerak positif terhadap dolar AS, euro, dan sejumlah mata uang Asia.
Data pasar Investing mencatat Indeks Dolar AS atau DXY berada di level 99,022 dan naik 0,17%. Kenaikan itu menandakan dolar AS sedang lebih kuat terhadap banyak mata uang global, tetapi rupiah tetap bertahan di area penguatan.
Terhadap dolar AS, rupiah naik 0,08% ke level Rp17.851. Pergerakan ini menjadi sorotan karena terjadi saat tekanan dari penguatan dolar masih terasa di pasar internasional.
Kinerja rupiah juga terlihat menonjol bila dibandingkan dengan mata uang Asia. Yuan turun 0,13% ke level Rp2.637,69, dolar Singapura melemah 0,21% menjadi Rp13.968,27, dan yen Jepang turun 0,25% ke level Rp111,92.
Baht Thailand ikut terkoreksi 0,31% ke level Rp548,07. Rangkaian pelemahan itu menunjukkan rupiah tampil lebih tangguh dibanding beberapa mata uang kawasan pada awal perdagangan.
Di kelompok mata uang utama lainnya, euro justru mencatat pelemahan paling dalam terhadap rupiah. Nilainya turun 0,61% ke level Rp20.710 per euro, sehingga penguatan rupiah terlihat tidak hanya terjadi terhadap mata uang Asia, tetapi juga terhadap mata uang Eropa.
Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa rupiah masih memiliki daya tahan di tengah sentimen pasar yang belum sepenuhnya mendukung. Meski dolar AS sedang menguat, minat pasar terhadap rupiah tetap terjaga pada pembukaan perdagangan.
Pergerakan valas ini juga beriringan dengan tekanan pada emas dunia. XAU/USD turun 0,31% ke level 4.525,31, menandakan pasar masih berhati-hati dalam merespons aset lindung nilai.
Gabungan pergerakan itu memperlihatkan pasar valas dan komoditas bergerak dinamis sejak pagi. Dalam situasi seperti ini, rupiah justru tampil lebih baik dibanding sejumlah mata uang besar lain meski harus berhadapan dengan dolar AS yang lebih kuat.
Source: www.medcom.id




