Rugi FAST Menyusut, Namun Liabilitas Rp4,51 Triliun dan Defisit Membengkak

Pemulihan kinerja FAST sepanjang periode berjalan terlihat dari sisi rugi yang menyusut dan efisiensi yang mulai bekerja. Namun, tekanan neraca masih belum hilang karena total liabilitas PT Fast Food Indonesia Tbk menembus Rp4,51 triliun per 31 Desember 2025.

Di saat yang sama, defisit perusahaan ikut melebar menjadi Rp507,62 miliar. Angka itu naik sekitar 297 persen dibandingkan defisit akhir 2024 yang sebesar Rp148,82 miliar, sehingga beban keuangan perseroan tetap menjadi perhatian utama.

Tekanan kewajiban masih besar

Kenaikan liabilitas dari Rp3,4 triliun ke Rp4,51 triliun menunjukkan kewajiban FAST masih berada pada level yang tinggi. Kondisi ini menandakan ruang gerak perusahaan belum sepenuhnya longgar meski ada perbaikan di beberapa pos kinerja.

Bagi pengelola gerai KFC tersebut, besarnya liabilitas menjadi faktor yang terus membayangi langkah bisnis. Situasi ini juga membuat pasar perlu mencermati apakah perbaikan operasional yang muncul sudah cukup kuat untuk menahan beban kewajiban yang membengkak.

Rugi menyusut, tetapi belum hilang

Di tengah tekanan liabilitas, FAST mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp369,24 miliar sepanjang 2025. Nilai ini jauh lebih kecil daripada rugi pada periode sebelumnya yang mencapai Rp798,25 miliar.

Perbaikan tersebut memberi sinyal bahwa perusahaan berhasil menahan tekanan operasional. Meski begitu, kondisi laba rugi belum sepenuhnya pulih karena perseroan masih berada di zona rugi.

Penjualan naik tipis, efisiensi ikut membantu

Dari sisi pendapatan, FAST membukukan kenaikan tipis 0,2 persen menjadi Rp4,88 triliun. Pertumbuhan yang terbatas ini menunjukkan adanya pemulihan, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah kondisi top line secara signifikan.

Di sisi biaya, beban pokok penjualan turun menjadi Rp1,99 triliun. Kombinasi ini mendorong laba kotor FAST mencapai Rp2,88 triliun, yang menjadi salah satu penopang penting dalam periode keuangan yang masih menantang.

Perusahaan juga berhasil menekan beban penjualan dan distribusi menjadi Rp2,6 triliun. Penurunan beban tersebut ikut meredam tekanan operasional dan membantu menahan laju kerugian.

Pos lain ikut memberi ruang perbaikan

Penghasilan operasi lain tercatat meningkat dari Rp63 miliar menjadi Rp156,83 miliar pada akhir 2025. Kenaikan ini menambah ruang bagi perusahaan untuk mengimbangi beban yang masih besar.

Meski beban keuangan tetap naik menjadi Rp90,07 miliar, perbaikan dari berbagai pos membantu menekan rugi secara keseluruhan. Dampaknya, rugi per saham dasar ikut membaik ke level Rp85 dari sebelumnya Rp200.

Aset dan ekuitas sama-sama naik

Di tengah liabilitas yang membesar, total aset FAST justru naik menjadi Rp4,95 triliun. Besarnya aset ini menunjukkan perseroan masih memiliki basis neraca yang cukup untuk menopang kegiatan usahanya.

Total ekuitas juga tercatat meningkat menjadi Rp435,85 miliar. Walau nilainya masih jauh di bawah kewajiban, kenaikan ini tetap memberi gambaran adanya perbaikan pada struktur modal perusahaan.

Dengan pendapatan yang naik tipis, efisiensi yang lebih baik, dan rugi bersih yang menyusut, kondisi FAST memperlihatkan sisi perbaikan yang tidak bisa diabaikan. Namun, defisit yang membengkak dan liabilitas yang tembus Rp4,51 triliun masih menjadi sorotan utama dalam membaca arah pemulihan perseroan.

Baca Juga

Back to top button