Ruang Hidup Katak Emas Makin Menyempit, Western Ghats Jadi Titik Terpaling Rawan

Di balik ukurannya yang kecil, katak emas menyimpan cerita tentang satwa yang makin sulit bertahan ketika ruang hidupnya terus menyempit. Spesies bernama ilmiah Indosylvirana aurantiaca ini kini menghadapi tekanan besar di Western Ghats, India, wilayah yang menjadi rumah utamanya.

Ancaman terbesar bagi katak ini bukan datang dari satu sumber saja. Urbanisasi, perubahan lahan, polusi, dan kegiatan perkebunan sama-sama ikut menekan keberadaan habitat yang selama ini menopangnya.

Sebaran katak emas memang sudah sejak awal tergolong terbatas. Menurut American Museum of Natural History, spesies ini hanya ditemukan di Western Ghats, India, dengan catatan spesifik di Distrik Thiruvananthapuram dan Kollam, Negara Bagian Kerala.

Sejumlah laporan juga menyebut keberadaannya di Sri Lanka. Habitatnya meliputi wilayah dari dataran rendah sekitar 200 mdpl hingga dataran tinggi yang mencapai 1.400 mdpl, sehingga ruang jelajahnya tetap bergantung pada kondisi lanskap yang sesuai.

Katak emas memiliki tubuh kecil dengan tampilan yang mudah dikenali. Warna tubuhnya emas kekuningan, sementara bagian sampingnya cokelat tua, dipisahkan garis pembatas yang tegas.

Jantan umumnya memiliki panjang 3 sampai 5 sentimeter. Betina dapat mencapai 6,2 sentimeter, dengan tubuh ramping, kulit licin, dan kaki panjang yang membantu gerak lompatan di berbagai medan.

Dalam kesehariannya, katak emas lebih sering berhubungan dengan lingkungan yang lembap dan hijau. Animalia menyebut spesies ini kerap terlihat di sungai, danau, kolam, hutan lebat, kebun bambu, hingga sawah.

Katak ini juga termasuk hewan arboreal yang banyak menghabiskan waktu di pepohonan. Di lapangan, ia dapat ditemukan menempel di pohon, bertengger di bebatuan, diam di lantai hutan, atau mengawasi mangsa di atas air.

Saat merasa terancam, katak emas tidak hanya mengandalkan lompatan. Spesies ini juga mampu berenang dan menyelam, sebuah perilaku yang menunjukkan fleksibilitasnya dalam bertahan di habitat basah.

Meski punya kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, kondisi itu belum cukup untuk menjamin masa depannya. Katak emas bisa hidup di area liar maupun dekat pemukiman, tetapi tekanan lingkungan yang terus meningkat membuat kestabilan populasinya semakin sulit dipastikan.

Riwayat ilmiahnya pun menunjukkan perubahan yang panjang. iNaturalist mencatat bahwa katak emas pertama kali dideskripsikan pada 1904 oleh zoolog Inggris-Belgia, George Albert Boulenger, dengan nama Rana aurantiaca.

Setelah itu, spesies ini berpindah-pindah ke beberapa genus lain, termasuk Hylorana, Hylarana, dan Sylvira. Pada 2015, klasifikasinya ditetapkan sebagai Indosylvirana dan bertahan hingga sekarang.

Status konservasinya memperlihatkan kondisi yang tidak ringan. IUCN Red List menempatkan katak emas dalam kategori vulnerable atau rentan, yang berarti spesies ini berisiko mengalami kepunahan dalam waktu dekat.

Populasinya terus menurun dan jumlah individu di alam liar belum diketahui secara pasti. Pemerintah India telah melindunginya, namun kerusakan habitat tetap menjadi ancaman utama di tengah urbanisasi, polusi, dan aktivitas perkebunan yang terus memberi tekanan pada wilayah sebarannya.

Situasi ini membuat masa depan katak emas bergantung pada seberapa jauh habitat di Western Ghats masih bisa dipertahankan. Bagi satwa kecil berwarna mencolok ini, ruang hidup yang makin sempit kini menjadi persoalan paling menentukan.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button