Riset Kampus Harus Turun Ke Masyarakat, 70 PTS Jateng Satukan Arah Di UMS

Dorongan agar riset kampus tidak berakhir di ruang akademik menjadi salah satu pesan utama dalam rapat kerja Forum Komunikasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Jawa Tengah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pertemuan ini mempertemukan 70 perguruan tinggi swasta se-Jawa Tengah dengan 91 perwakilan untuk membahas arah penelitian dan pengabdian yang lebih terasa manfaatnya di masyarakat.

Kehadiran unsur perguruan tinggi dan pejabat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuat forum dua hari itu memiliki bobot strategis. Space tersebut tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga wadah untuk menyamakan pandangan agar riset dan pengabdian berjalan lebih terhubung antarkampus.

Riset diminta lebih dekat dengan persoalan masyarakat

Wakil Ketua Forkom LPPM, Dr. Agus Wibowo, menilai lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat harus hadir sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata di lapangan. Ia menekankan bahwa riset tidak cukup berhenti sebagai kegiatan akademik, melainkan harus memberi manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Agus juga mendorong perguruan tinggi membangun sinergi yang lebih kuat. Menurut dia, kerja sama antarkampus akan membuat riset lebih unggul, pengabdian lebih solutif, dan hasil inovasi memiliki jangkauan dampak yang lebih luas.

UMS dorong budaya riset tumbuh alami

Dari sisi tuan rumah, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno menegaskan bahwa riset merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tri darma perguruan tinggi. Ia menempatkan riset sebagai unsur penting yang ikut memengaruhi publikasi, reputasi, dan dampak institusi.

Harun juga menyoroti pentingnya membangun budaya riset yang tidak terasa sebagai beban. Ia ingin riset menjadi aktivitas yang menyenangkan dan tumbuh secara alami di kalangan dosen, termasuk di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Tengah.

Arah forum diselaraskan dengan kebijakan nasional

Direktur DRPPS, Prof. Ir. Sarjito, melihat forum ini sebagai ruang penting untuk menyelaraskan arah riset dan pengabdian perguruan tinggi dengan kebijakan nasional Kemendiktisaintek. Ia menilai pertemuan semacam ini dapat menjadi tempat berbagi praktik baik sekaligus memperkuat kolaborasi antar-kampus.

Sarjito juga mengaitkan pembahasan dalam forum dengan dukungan terhadap Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi, hilirisasi riset, dan penguatan ekosistem riset. Dengan langkah tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada laporan akademik, tetapi bergerak menuju pemanfaatan yang lebih nyata.

Ekosistem riset bertumpu pada kebutuhan riil

I Ketut Adnyana menekankan bahwa penguatan riset perlu berangkat dari kebutuhan masyarakat yang benar-benar nyata. Ia mengaitkan hal itu dengan data Global Innovation Index yang menunjukkan hubungan antara peningkatan pendapatan per kapita dan kesejahteraan masyarakat.

Adnyana menjelaskan bahwa ekosistem riset nasional bertumpu pada dua pilar utama, yaitu penelitian dan hilirisasi, dengan dosen sebagai fondasi pentingnya. Ia menilai inovasi harus tumbuh dari sumber daya manusia kampus yang aktif membaca dan memahami persoalan di lapangan.

Menurut dia, penelitian tidak seharusnya hanya didorong oleh selera pribadi atau minat semata. Riset perlu lahir dari masalah nyata, lalu hilirisasi harus memberi nilai tambah dan menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.

Ruang koordinasi bagi 70 perguruan tinggi swasta

Kehadiran 70 perguruan tinggi swasta se-Jawa Tengah dengan 91 perwakilan menunjukkan besarnya kebutuhan untuk menyamakan arah kebijakan riset dan pengabdian. Kondisi ini sekaligus membuka ruang koordinasi yang lebih luas antar-LPPM di daerah.

Melalui forum tersebut, UMS dan jejaring perguruan tinggi lain di Jawa Tengah didorong untuk membangun riset yang kuat secara akademik sekaligus relevan dengan persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan. Pembahasan lanjutan dalam rapat kerja diharapkan mempertegas posisi kampus sebagai penghasil inovasi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.

Source: jateng.antaranews.com

Baca Juga

Back to top button