Rights Issue NINE Buka Jalan Akuisisi Tambang Mongolia, Saham Ikut Menguat 9,7%

Pergerakan saham PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) langsung mencuri perhatian setelah pasar menangkap sinyal bahwa perusahaan ini sedang menyiapkan perubahan bisnis yang cukup besar. Saham NINE sempat menguat 9,7 persen ke level Rp 146 menjelang penutupan perdagangan, meski secara tahunan masih terkoreksi 35,4 persen.

Kenaikan itu muncul di tengah rencana rights issue yang akan menjadi pintu masuk ekspansi perusahaan ke sektor pertambangan dan energi di Mongolia. Agenda tersebut menunjukkan bahwa NINE sedang menata ulang arah usahanya, dari penyedia solusi teknologi informasi menjadi perusahaan yang lebih lebar cakupannya.

Rights issue jadi kendaraan ekspansi

Rencana rights issue NINE akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa secara daring pada 7 Mei 2026. Dalam rapat yang sama, perusahaan juga akan meminta persetujuan atas perubahan susunan direksi dan dewan komisaris, serta revisi anggaran dasar.

Bagi NINE, aksi korporasi itu tidak berdiri sendiri. Rights issue disiapkan sebagai langkah utama untuk mendukung transformasi bisnis yang sudah mulai diarahkan ke sektor sumber daya dan energi.

Sejak melantai di BEI pada 5 Desember 2022, NINE dikenal sebagai penyedia layanan infrastruktur teknologi informasi satu pintu. Layanan yang selama ini digarap mencakup managed services, jaringan kabel, dan sistem pengawasan CCTV untuk kebutuhan perkantoran.

Fokus baru mengarah ke Mongolia

Di balik rencana pendanaan itu, Mongolia menjadi sasaran ekspansi yang paling menonjol. Manajemen menyebut aset tambang di negara tersebut tidak akan dibeli dengan dana tunai dari kas internal, melainkan dimasukkan ke perseroan melalui skema PMHMETD agar struktur perusahaan lebih efisien.

Direktur NINE, Irwan Dharma Kusuma, mengatakan perusahaan melihat peluang besar di sektor pertambangan, energi, dan produk hilir bernilai tambah. Meski begitu, ia menegaskan bisnis teknologi informasi tetap dipertahankan sebagai keahlian inti yang masih relevan untuk klien korporasi.

Langkah itu membuat NINE tidak sepenuhnya meninggalkan identitas lamanya. Perusahaan justru mencoba menjaga basis bisnis teknologi sambil membuka ruang yang lebih besar di sektor baru yang dinilai lebih strategis.

Poh Group ikut membentuk arah bisnis

Perubahan besar ini tidak bisa dilepaskan dari masuknya Poh Group sebagai pemegang saham pengendali baru. Kehadiran pengendali baru itu ikut mendorong penyusunan strategi jangka panjang yang menekankan perluasan lini usaha dan penegasan arah bisnis ke depan.

NINE juga menyiapkan reverse takeover atau RTO untuk menggabungkan lini bisnis milik Poh Group. Skema ini menjadi bagian dari penguatan struktur usaha yang lebih luas seiring transisi perusahaan ke arah bisnis baru.

Di sisi operasional, perusahaan berencana memanfaatkan teknologi miliknya sendiri untuk bisnis energi dan pertambangan. Fokusnya diarahkan pada pengembangan energi berkelanjutan melalui pengolahan limbah dan biomassa.

Irwan menyebut teknologi yang akan dipakai mencakup waste to energy dan biomassa yang telah teruji secara komersial. Strategi tersebut juga diposisikan sejalan dengan komitmen keberlanjutan dan efisiensi operasional yang ingin dijaga perusahaan.

Manajemen menilai ekspansi ini dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham dalam jangka panjang. Arah baru ke sektor energi dan tambang juga disebut mendukung program ketahanan energi nasional yang dicanangkan pemerintah.

Di pasar, respons awal terhadap agenda transformasi itu terlihat dari saham NINE yang sempat bergerak naik pada perdagangan terakhir. Kombinasi rights issue, rencana akuisisi aset tambang Mongolia, dan kemungkinan RTO membuat perusahaan sedang berada dalam fase penataan ulang identitas bisnis secara menyeluruh.

Baca Juga

Back to top button