Pemerintah menyiapkan insentif kendaraan listrik sebagai salah satu cara untuk menjaga laju ekonomi tetap kuat pada 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat kebijakan itu tidak hanya mendorong penjualan kendaraan, tetapi juga menggerakkan sektor riil yang lebih luas.
Skema yang disiapkan berlaku untuk 200 ribu unit kendaraan listrik, dengan pemberlakuan subsidi mulai Juni. Dari jumlah itu, 100 ribu unit akan menerima insentif Rp5 juta per unit, sedangkan 100 ribu unit lainnya memperoleh fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP.
Purbaya memproyeksikan dampaknya mulai terasa pada kuartal III dan IV 2026. Dalam hitungannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode itu berpeluang menembus di atas 5,5 persen.
Fokus kebijakan ini diarahkan ke mobil listrik dan motor listrik. Pemerintah berharap insentif tersebut tidak berhenti di ruang pamer atau pasar penjualan, melainkan menyebar ke aktivitas produksi dan industri pendukungnya.
Untuk mobil listrik, fasilitas PPN DTP berada di kisaran 40 hingga 100 persen. Besaran itu bergantung pada jenis baterai yang digunakan pada kendaraan tersebut.
Purbaya menilai dorongan dari insentif EV dapat menjadi pengungkit konsumsi sekaligus produksi. Dengan begitu, efek kebijakan tidak hanya terpusat pada pembelian kendaraan, tetapi juga menjalar ke manufaktur dan jasa terkait kendaraan listrik.
Di sisi lain, pemerintah juga masih menaruh perhatian pada sektor berorientasi ekspor. Purbaya menilai industri ekspor tetap penting untuk menjaga ekonomi agar tidak kehilangan tenaga.
Ia menyoroti perlunya akses pendanaan yang lebih baik dan lebih murah bagi perusahaan ekspor orientis seperti tekstil, furniture, dan sepatu. Dalam waktu dekat, ia berencana memanggil rapat untuk membahas dukungan pendanaan bagi sektor-sektor tersebut.
Optimisme pemerintah juga ditopang oleh kinerja ekonomi yang sudah solid di awal 2026. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen, lebih tinggi dibanding 5,39 persen pada kuartal IV 2025.
Capaian itu memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga momentum hingga paruh kedua 2026. Dengan kombinasi insentif kendaraan listrik dan perbaikan pendanaan bagi industri ekspor, Purbaya melihat peluang ekonomi tetap bertahan di atas 5,5 persen.





