PSG Bertahan Saat Tertekan, Arsenal Gagal Menutup Final Dan Takluk Lewat Penalti

Drama final Liga Champions di Budapest akhirnya ditentukan oleh ketenangan di titik putih, bukan oleh dominasi sepanjang laga. PSG keluar sebagai juara setelah menaklukkan Arsenal lewat adu penalti usai pertandingan berakhir 1-1 hingga perpanjangan waktu.

Bagi Arsenal, hasil itu terasa sangat menyakitkan karena mereka sempat memimpin lebih dulu melalui Kai Havertz. Namun keunggulan awal itu tidak cukup untuk menghentikan PSG yang terus menjaga kendali permainan dan akhirnya memaksakan laga mencapai babak penentuan.

PSG sebenarnya tampil sangat dominan dalam penguasaan bola pada babak pertama. Tim asal Paris mencatat 72 persen penguasaan bola dan melepaskan 91 operan, sementara Arsenal hanya membukukan 31 operan.

Meski begitu, dominasi itu tidak langsung berbuah gol. Arsenal bermain rapat di belakang dan berusaha menutup ruang yang biasa dimanfaatkan PSG untuk menyerang, sehingga banyak upaya lawan mentok sebelum benar-benar mengancam gawang.

Keadaan justru berbalik lebih dulu untuk Arsenal. Gol Havertz datang kurang dari 10 menit setelah kick-off dan memberi The Gunners awal yang ideal dalam pertandingan final yang berjalan sangat ketat sejak menit pertama.

Keunggulan tersebut membuat Arsenal lebih disiplin menjaga area pertahanan. Mereka berusaha mempertahankan jarak antarlini agar PSG tidak leluasa membangun tekanan dari lini tengah maupun sisi lapangan.

Perubahan besar terjadi pada menit ke-62. PSG mendapat sepak pojok dari sisi kiri, bola diarahkan ke kotak penalti, lalu Kvaratskhelia dilanggar Mosquera sehingga wasit menunjuk titik putih.

Ousmane Dembele lalu mengeksekusi penalti itu dengan tenang. Tembakannya ke sudut kiri bawah gawang tidak mampu dibendung David Raya, dan skor pun kembali imbang 1-1 pada menit ke-65.

Gol itu menghidupkan kembali pertandingan dan mengubah ritme laga. Setelah menyamakan kedudukan, PSG terlihat lebih percaya diri untuk menekan, sementara Arsenal mulai mencari jawaban lewat pergantian pemain.

Mikel Arteta memasukkan Viktor Gyokeres dan Jurrien Timber untuk menambah tenaga baru. Menjelang akhir waktu normal, Noni Madueke dan Gabriel Martinelli juga diturunkan saat tensi pertandingan semakin tinggi.

Namun PSG tetap menjadi pihak yang paling sering menciptakan ancaman. Kvaratskhelia beberapa kali menusuk dari sisi kiri, termasuk satu aksi individu yang memaksa Raya melakukan sentuhan penting sebelum bola membentur tiang gawang.

Peluang berbahaya lain datang melalui Bradley Barcola di menit-menit akhir. Penyelesaian akhirnya melenceng jauh, tetapi tekanan PSG cukup untuk menjaga Arsenal terus bekerja keras sampai peluit waktu normal berbunyi.

Babak perpanjangan waktu tidak mengubah keadaan. Kedua tim bermain sangat hati-hati, Arsenal menghabiskan seluruh jatah pergantian pemain, sedangkan PSG masih menyimpan beberapa opsi di bangku cadangan.

Setelah 120 menit, kedudukan tetap 1-1 dan pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. PSG menang undian dan memilih menjadi penendang pertama, lalu menjalani momen itu dengan lebih tenang.

Ramos membuka rangkaian penalti PSG dengan sukses, disusul Gyokeres yang menjawab untuk Arsenal. Doue dan Eze kemudian menjalankan giliran berikutnya dengan hasil berbeda, sebelum Mendez sempat gagal untuk PSG.

Arsenal masih bertahan ketika Rice berhasil menjaga peluang timnya. Tetapi setelah itu Hakimi mencetak gol untuk PSG, dan Martinelli masih sempat membalas tekanan sebelum Beraldo menambah angka bagi tim asal Paris.

Kesempatan terakhir Arsenal berakhir pahit ketika Gabriel gagal membalas. Momen itu menutup final dengan kemenangan PSG dan memastikan trofi Liga Champions 2026 dibawa pulang ke Paris.

Source: bola.bisnis.com
Exit mobile version