Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Kebumen memberi sinyal kuat bahwa pemerintah sedang memberi perhatian besar pada pengelolaan kekayaan negara. Di hadapan peserta panen raya udang vaname ke-8 di kawasan budidaya udang berbasis kawasan atau BUBK di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, ia menegaskan bahwa aset bernilai sangat besar itu tidak boleh bocor.
Sorotan itu muncul ketika Prabowo menyinggung nilai kekayaan negara yang dikelola mencapai angka hampir Rp 17.000 triliun. Ia menyebut besaran itu setara hampir satu triliun dolar Amerika Serikat, sehingga pengelolaannya tidak bisa diperlakukan sebagai urusan biasa.
Nilai yang dipandang sebagai amanah besar
Bagi Prabowo, kekayaan sebesar itu harus ditempatkan sebagai amanah untuk masa depan bangsa. Ia menekankan bahwa hasil pengelolaan aset negara semestinya memberi manfaat bagi anak dan cucu Indonesia, bukan lenyap karena kelalaian.
Karena itu, pengelolaan aset tersebut ia kaitkan langsung dengan tanggung jawab besar terhadap uang rakyat. Pandangan ini membuat isu tata kelola tidak sekadar soal administrasi, tetapi juga soal disiplin dalam menjaga kepentingan publik.
Pesan langsung untuk Dony Oskaria
Dalam arahannya, Prabowo secara terbuka menyebut Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria. Ia meminta Dony bersama seluruh jajaran pengelola Danantara untuk bekerja cermat agar tidak terjadi kebocoran dalam pengelolaan dana tersebut.
“Harus diurus baik-baik ya, Pak Doni dan semua stafnya. Jangan bocor, jangan menguap begitu saja. Itu uang rakyat,” ujar Prabowo. Pesan itu menegaskan bahwa pengawasan terhadap aset negara harus berjalan ketat dan tidak memberi ruang bagi penyalahgunaan.
Penyebutan nama Dony Oskaria dalam forum itu juga memperlihatkan bahwa Prabowo menaruh perhatian pada sosok yang dipercaya mengawal pengelolaan aset. Ia mengaitkan kepercayaan itu dengan tuntutan integritas dan ketelitian dalam bekerja.
Arah pengelolaan untuk publik luas
Prabowo juga menegaskan bahwa kekayaan negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Aset itu, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai angka besar di atas kertas, melainkan harus menjadi modal nyata bagi pembangunan nasional.
Ia menempatkan pengelolaan kekayaan negara sebagai sarana untuk memberikan hasil yang berkelanjutan bagi publik. Dengan nilai yang begitu besar, setiap kebocoran akan berdampak langsung pada peluang manfaat yang seharusnya diterima masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan Danantara diminta tidak hanya mengejar hasil. Prabowo ingin setiap aset tetap aman, terjaga, dan kembali pada tujuan utama, yaitu kepentingan rakyat.
Sinyal tata kelola yang ketat
Ucapan Prabowo di Kebumen menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang bersih dan efisien dalam pengelolaan aset negara. Ia menempatkan uang negara sebagai milik rakyat yang harus dijaga tanpa celah.
Karena itu, perhatian pemerintah pada aset bernilai hampir Rp 17.000 triliun itu tampak bukan sekadar soal besaran angka. Yang lebih ditekankan adalah bagaimana pengelolaan dilakukan dengan hati-hati agar kekayaan tersebut benar-benar menjadi penopang kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Source: www.beritasatu.com




