Respons pasar Polandia menjadi sinyal penting bagi upaya perluasan ekspor Indonesia ke Eropa. Dalam forum bisnis yang digelar KBRI Warsawa, minat terhadap komoditas tertentu mulai muncul, termasuk produk mutiara dari pembeli asal Polandia.
Dorongan itu tidak berdiri sendiri, karena KBRI Warsawa juga menyiapkan jalur pembahasan yang lebih luas mengenai investasi dan kerja sama ekonomi. Forum tersebut mempertemukan perwakilan Indonesia, pemerintah daerah Polandia, dan pelaku usaha agar peluang yang terbuka tidak berhenti pada promosi semata.
Polandia diposisikan sebagai pintu masuk kawasan
Strategi KBRI Warsawa menempatkan Polandia sebagai gerbang menuju Eropa Tengah dan Timur. Karena itu, pendekatan yang dipakai tidak hanya menyoroti perdagangan barang, tetapi juga kerja sama yang bisa menjangkau level regional.
Dua forum bisnis diselenggarakan di Krakow dan Lodz dengan fokus pada perdagangan, investasi, dan pariwisata. Format ini memberi ruang bagi pembahasan yang lebih konkret antara Indonesia dan mitra di Polandia.
Di Krakow, forum mendapat dukungan dari Malopolska Agency for Regional Development. Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan itu, mulai dari pejabat ekonomi dari KBRI Berlin, IIPC London, perwakilan pemerintah daerah, hingga pengusaha Polandia.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia diarahkan untuk membangun jejaring yang lebih luas. Targetnya bukan hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membuka pintu kolaborasi yang lebih berkelanjutan.
Krakow dan minat terhadap kerja sama ekonomi
Forum di Krakow memberi penekanan pada peluang investasi dan tenaga kerja. Pembahasan itu memperlihatkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Polandia mulai bergerak ke arah yang lebih praktis, bukan sekadar komunikasi promosi.
Febi Adrian, Atase Perdagangan KBRI Berlin, menilai Eropa masih menyimpan ruang besar bagi produk unggulan Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa hubungan dagang Indonesia dan Polandia masih bisa diperkuat melalui kerja sama yang dilakukan secara berkelanjutan.
Polandia dianggap menarik karena memiliki ekonomi yang stabil dan daya beli masyarakat yang kuat. Dalam forum tersebut disebutkan pertumbuhan ekonomi Polandia mencapai 3,6 persen pada 2025 dan diproyeksikan naik menjadi 3,9 persen pada 2026.
Lodz menempatkan Indonesia sebagai mitra ASEAN
Jika Krakow menonjolkan investasi dan tenaga kerja, Lodz memberi sudut pandang lain dengan memperkenalkan Indonesia sebagai pintu masuk memahami pasar ASEAN. Dalam forum itu, KBRI Warsawa menampilkan Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indo-Pasifik.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar menawarkan pasar ekspor. Pemerintah juga mendorong kerja sama yang menyentuh kebutuhan industri dan demografi Polandia.
Siti Tiefryani Fahlyah, Direktur Indonesia Investment Promotion Centre London, menilai minat investor terhadap Indonesia terus menguat. Ia menyebut reformasi perizinan dan transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri ikut membuat Indonesia semakin menarik bagi investasi asing langsung.
Data realisasi investasi Indonesia pada 2025 memperkuat optimisme itu. Nilainya mencapai Rp 1.931,2 triliun dan tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
IEU-CEPA ikut memperkuat peluang ekspor
Prospek ekspor Indonesia ke Polandia juga mendapat dorongan dari proses penyelesaian Indonesia–EU Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA. Perjanjian itu ditargetkan mulai berlaku pada 1 Januari 2027.
Jika berlaku, lebih dari 90 persen pos tarif akan dihapus. Kondisi ini berpotensi membuat akses barang Indonesia ke pasar Eropa lebih mudah dan lebih kompetitif.
Bagi pelaku usaha, jalur masuk yang efisien menjadi penting di tengah persaingan regional yang semakin ketat. Karena itu, KBRI Warsawa memandang momentum IEU-CEPA sebagai ruang untuk memperkuat posisi Indonesia di hadapan mitra dagang di Polandia.
Jejak investasi yang mulai terbentuk
Hubungan ekonomi kedua negara juga sudah terlihat dari sisi penanaman modal. Dalam lima tahun terakhir, Polandia menanamkan investasi kumulatif sebesar 29,1 juta dollar AS di Indonesia.
Investasi itu mencakup manufaktur, energi terbarukan, teknologi, pengolahan pangan, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. Ragam sektor tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Polandia mulai bergerak lebih luas, dengan peluang kerja sama yang tidak lagi terbatas pada perdagangan barang saja.





