Di medan operasi yang penuh gangguan elektromagnetik, ketahanan navigasi dan komunikasi menjadi kebutuhan utama. Thales mencoba menjawab tantangan itu lewat TopStar Smart Receiver, perangkat yang dirancang agar platform militer tetap bisa menjaga posisi, navigasi, dan waktu atau PNT meski sinyal GPS sedang dihantam jamming.
Perangkat ini diposisikan untuk mendukung kendaraan darat, drone, hingga munisi yang bergantung pada data lokasi presisi. Dalam situasi perang elektronik, hilangnya sinyal satelit tidak hanya mengganggu arah gerak, tetapi juga bisa memutus koordinasi antarunit dan membuat misi melambat karena data posisi tidak lagi stabil.
Gabungan sinyal untuk memperkuat navigasi
Thales membekali TopStar Smart Receiver dengan penerima GNSS dual-constellation yang memanfaatkan sinyal dari konstelasi militer, Galileo PRS, dan GPS sipil. Kombinasi ini ditujukan untuk meningkatkan akurasi sekaligus memperluas ketersediaan data posisi saat satu sumber sinyal melemah.
Selain itu, sistem ini juga dirancang untuk memberi lapisan ketahanan terhadap spoofing. Dengan memadukan beberapa sumber navigasi, perangkat ini tidak hanya mengejar ketepatan, tetapi juga menjaga keandalan saat lingkungan elektromagnetik berubah cepat.
Dirancang untuk menahan jammer
Salah satu fokus utama TopStar Smart Receiver ada pada kemampuan anti-jamming. Thales menambahkan antena adaptif CRPA atau Controlled Radiation Pattern Antenna untuk membantu mengurangi gangguan dari jammer yang kerap dipakai dalam perang elektronik.
Perusahaan menyebut rancangan tersebut memungkinkan operasi dilakukan pada jarak yang disebut hingga 30 kali lebih dekat dibanding penerima GPS konvensional. Bagi platform militer, ketahanan semacam ini penting karena gangguan sinyal bisa muncul dari jarak dan arah yang sulit diprediksi.
Radio tetap sinkron meski GNSS hilang
Selain menjaga navigasi, perangkat ini menonjol lewat jam internal berperforma tinggi. Fitur tersebut membuat sinkronisasi radio taktis tetap bertahan hingga 48 jam setelah sinyal GNSS hilang, jauh lebih lama dibanding perangkat konvensional yang umumnya hanya bertahan sekitar 30 menit.
Kemampuan itu relevan karena perang elektronik sering membuat sinyal satelit hilang secara tidak menentu. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi antarunit dan koordinasi lintas platform masih bisa berjalan lebih lama tanpa harus sepenuhnya bergantung pada sumber sinyal eksternal.
Cocok untuk platform militer modern
Thales menyebut TopStar Smart Receiver dapat diintegrasikan ke kendaraan darat, drone, dan munisi. Ukurannya yang ringkas juga membuat perangkat ini diklaim sebagai salah satu solusi yang kecil dan hemat biaya untuk kebutuhan integrasi di platform militer.
Kebutuhan tersebut semakin besar seiring operasi modern yang makin bergantung pada sistem jaringan dan perangkat otonom. Dari kendaraan lapis baja sampai amunisi berpemandu, data posisi yang andal tetap menjadi syarat agar sistem dapat bergerak sesuai jalur dan mencapai target yang ditentukan.
Siap diuji di lapangan
TopStar Smart Receiver diproduksi sepenuhnya di dalam basis industri Eropa yang berdaulat dan dirakit di fasilitas Thales di Valence, Prancis. Perusahaan juga menyampaikan bahwa solusi ini sudah tersedia untuk pengujian dalam kondisi dunia nyata.
Thales menegaskan perangkat ini memakai teknologi canggih untuk menyediakan data navigasi yang tangguh, kuat, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut mengurangi ketergantungan pada sinyal satelit yang rentan, lalu menggabungkan berbagai sumber informasi posisi agar operasi tetap berjalan di lingkungan yang penuh tekanan elektronik.
Ancaman perang elektronik sendiri tidak berhenti pada upaya mengacaukan satu sinyal, karena sistem semacam ini dirancang untuk mendeteksi, menganalisis, dan melawan gangguan di seluruh spektrum elektromagnetik. Karena itu, ketahanan PNT kini dipandang sebagai bagian inti dari kelangsungan misi, bukan lagi sekadar fitur tambahan bagi platform yang harus tetap bergerak saat GPS dihantam jamming.





