Perbedaan Soal Iran Dan Kondisi Keluarga Akhiri Masa Jabatan Tulsi Gabbard Di Intelijen AS

Kursi tertinggi intelijen Amerika Serikat kini berpindah tangan di tengah suasana yang sudah lebih dulu tegang. Setelah Tulsi Gabbard menyampaikan pengunduran dirinya kepada Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih bergerak cepat menunjuk Aaron Lukas sebagai pejabat sementara.

Langkah itu menutup masa jabatan Gabbard di Kantor Direktur Intelijen Nasional yang sejak awal berada di bawah sorotan. Posisi tersebut penting karena lembaga ini mengawasi 18 badan intelijen AS, sehingga setiap perubahan di puncaknya langsung menarik perhatian politik dan keamanan nasional.

Di balik keputusan mundur itu, masalah keluarga menjadi alasan yang paling sering dia tekankan. Suaminya, Abraham Williams, didiagnosis menderita kanker tulang langka, dan Gabbard menyebut tuntutan pekerjaan negara membuat situasi itu makin berat dijalani.

Gabbard mengatakan ia tidak mungkin membiarkan suaminya menghadapi perjuangan tersebut sendirian sementara dirinya terus menjalankan tugas yang menyita banyak waktu. Dalam surat pengunduran diri yang diunggah di platform X, ia juga berterima kasih kepada Trump atas kepercayaan yang diberikan selama memimpin kantor itu selama satu setengah tahun terakhir.

Gedung Putih melalui juru bicara Davis Ingle turut mengaitkan keputusan itu dengan kondisi kesehatan suami Gabbard. Fox News Digital sebelumnya melaporkan bahwa pengunduran diri tersebut akan efektif mulai 30 Juni 2026.

Meski begitu, ada juga gambaran lain dari internal pemerintahan. Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebut Gabbard sebenarnya didorong keluar dari jabatannya, sementara Gedung Putih tidak memberi tanggapan resmi atas klaim itu.

Iran menjadi titik gesekan

Selain alasan keluarga, hubungan Gabbard dan Trump disebut ikut menegang karena perbedaan pandangan soal Iran. Pada Maret, Trump menyebut Gabbard punya pendekatan yang lebih lunak terhadap ambisi nuklir Teheran.

Ketegangan itu makin terlihat ketika Trump pada Juni mengatakan Gabbard keliru saat menilai tidak ada bukti Iran sedang membangun senjata nuklir. Sejumlah sumber internal juga menyebut Gabbard tidak dilibatkan dalam beberapa pembahasan penting terkait kebijakan luar negeri.

Ia dilaporkan absen dalam musyawarah antara Trump dan para penasihat keamanan nasional mengenai operasi militer AS yang menggulingkan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, perang Iran, dan Kuba. Kondisi itu memperkuat kesan bahwa posisinya di lingkaran dalam pemerintahan tidak selalu solid.

Trump gerak cepat cari pengganti

Tidak lama setelah kabar pengunduran diri mencuat, Trump mengumumkan lewat Truth Social bahwa Aaron Lukas akan mengisi posisi direktur sementara. Lukas saat ini menjabat Wakil Direktur Utama Intelijen Nasional dan pernah menjadi perwira serta analis CIA.

Trump juga memuji kinerja Gabbard selama menjabat. Ia menyebut keputusan Gabbard untuk mendampingi suaminya sebagai langkah yang tepat di tengah perjuangan keluarga menghadapi penyakit serius.

Karier yang penuh sorotan

Penunjukan Gabbard ke jabatan itu sejak awal memang menuai perhatian karena ia dinilai tidak punya pengalaman intelijen yang mendalam. Sebelum masuk ke pemerintahan Trump, ia dikenal sebagai mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat, lalu beralih mendukung Trump pada Pemilu Presiden 2024 dan bergabung dengan Partai Republik.

Latar belakang militernya cukup kuat. Gabbard pernah bertugas di Irak pada 2004 hingga 2005 saat masih menjadi anggota Garda Nasional Hawaii, lalu menjadi perwira di Cadangan Angkatan Darat AS dan mencapai pangkat letnan kolonel.

Namun selama karier politiknya, ia juga kerap memicu kontroversi bipartisan. Ia mendapat kritik atas pernyataan yang dinilai sejalan dengan narasi Rusia terkait invasi Ukraina pada 2022 dan pertemuannya dengan mantan Presiden Suriah Bashar Assad di Damaskus pada 2017.

Langkah internal yang memicu gesekan

Selama memimpin kantor intelijen, Gabbard ikut menggerakkan sejumlah kebijakan yang menimbulkan ketegangan. Salah satunya adalah pembentukan Kelompok Inisiatif Direktur yang berupaya mendeklasifikasi dokumen terkait kematian mantan Presiden John F Kennedy, menyelidiki keamanan mesin pemilu, dan menelusuri asal-usul Covid-19.

Ia juga mencabut izin keamanan 37 pejabat AS aktif dan mantan pejabat AS pada Agustus lalu setelah mereka dituduh mengungkap identitas petugas intelijen yang bertugas secara rahasia di luar negeri. Gabbard bahkan menyetujui pencabutan izin keamanan sejumlah mantan pejabat intelijen, termasuk mantan Direktur CIA John Brennan.

Partai Demokrat kemudian menuding Gabbard menggunakan posisinya untuk mendukung agenda politik Trump. Mereka juga mengaitkannya dengan upaya membuktikan klaim yang telah dibantah mengenai dugaan kecurangan pada Pemilu Presiden AS 2020.

Kepergian Gabbard menandai akhir masa tugas yang penuh tekanan politik, perbedaan arah kebijakan, dan sorotan tajam dari berbagai pihak. Di saat yang sama, penunjukan Aaron Lukas menunjukkan Trump ingin segera menjaga kendali atas lembaga intelijen yang memegang peran penting dalam keamanan nasional Amerika Serikat.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version