Lonjakan laba Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN pada kuartal I-2026 belum sepenuhnya mengubah tantangan yang dihadapi perseroan. Di tengah kenaikan pendapatan yang kuat, beban bunga dan biaya lain masih cukup besar sehingga ruang peningkatan laba bersih belum setajam pertumbuhan bisnisnya.
Kinerja perusahaan memang terlihat menguat tajam di awal tahun. Laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 233,99 persen menjadi US$5,69 juta atau setara Rp99,01 miliar, sementara pendapatan tumbuh 73,57 persen secara tahunan menjadi US$371,33 juta.
Pendorong terbesar masih datang dari bisnis inti batu bara. Segmen pertambangan dan penjualan batu bara menyumbang US$238,71 juta dan hampir dua kali lipat dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya.
Di luar batu bara, CUAN juga mendapat sokongan dari dua lini lain. Bisnis rekayasa dan konstruksi mencatat pemasukan US$106,43 juta, sedangkan sektor EPCI minyak dan gas lepas pantai menambah US$13,59 juta.
Komposisi itu menunjukkan sumber pendapatan CUAN tidak bertumpu pada satu sektor saja. Meski demikian, batu bara tetap menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan pada periode ini.
Biaya naik lebih cepat dari ruang laba
Di sisi lain, beban pokok pendapatan ikut membesar menjadi US$315,06 juta dari US$197,01 juta. Kenaikan biaya ini membuat laju pertumbuhan laba bersih tidak seagresif kenaikan penjualan.
Analisis PintarSaham menyebut beban keuangan perusahaan masih tinggi, yakni US$27,3 juta. Kondisi tersebut ikut menekan margin laba bersih CUAN yang hanya berada di level 1,47 persen karena sebagian pendapatan operasional terserap untuk pembayaran bunga.
Meski begitu, kinerja di level laba kotor dan laba usaha tetap menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data laporan keuangan per 30 April 2026, laba kotor naik menjadi US$56,266 juta dan laba usaha mencapai US$31,026 juta.
Struktur neraca masih jadi perhatian
Dari sisi kekuatan keuangan, CUAN masih membawa beban leverage yang besar. Total aset perseroan tercatat US$2,75 miliar, sementara liabilitasnya mencapai US$2,12 miliar.
Dengan kondisi itu, rasio utang terhadap ekuitas atau DER berada di level 3,39 kali. Angka ini menunjukkan struktur utang masih menjadi faktor yang perlu dicermati karena bisa memengaruhi kualitas laba dan persepsi risiko di mata investor.
Walau begitu, likuiditas jangka pendek perusahaan masih terlihat terjaga. Current ratio CUAN berada di level 1,74 kali, yang memberi gambaran bahwa perseroan masih punya ruang untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Valuasi pasar tetap tinggi
Di bursa, saham CUAN masih diperdagangkan pada level premium. Pada penutupan perdagangan 29 April 2026, sahamnya berada di harga Rp1.300 per lembar.
Pada harga itu, valuasi CUAN disebut masih sangat mahal dengan Price to Earnings Ratio atau PER mencapai 423,1 kali. Tingginya valuasi menandakan pasar masih menaruh ekspektasi besar terhadap prospek ekspansi jangka panjang perusahaan.
Namun, ekspektasi semacam itu juga menuntut pertumbuhan yang konsisten. Selama beban bunga dan biaya lain belum turun signifikan, pasar akan tetap mencermati seberapa jauh kenaikan pendapatan bisa diterjemahkan menjadi laba bersih yang lebih besar.
Kinerja kuartal I-2026 memperlihatkan CUAN masih mampu menjaga pertumbuhan di tengah tekanan biaya. Dengan dukungan batu bara, bisnis rekayasa dan konstruksi, serta lini EPCI minyak dan gas, perusahaan tetap bergerak dalam fase ekspansi yang agresif.





