Peluang Pajak Ringan EV Kian Sempit, GAC AION Dorong Pembeli Bertindak Lebih Cepat

Respons masyarakat terhadap mobil listrik GAC AION masih terlihat kuat meski isu pajak mulai menjadi perhatian. Di ajang Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026, perusahaan mencatat 2.095 Surat Pemesanan Kendaraan atau SPK untuk model kendaraan listrik dan SUV modern.

Capaian itu menjadi sinyal bahwa minat pasar belum surut, bahkan ketika pembahasan soal skema pajak untuk kendaraan listrik mulai berubah. Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa insentif, harga yang terasa lebih ringan, dan kemudahan pembelian masih menjadi pertimbangan besar bagi calon konsumen.

Di tengah kondisi tersebut, GAC Indonesia mengingatkan pembeli agar tidak terlalu lama menunda keputusan. Perusahaan menilai kesempatan menikmati pajak murah untuk kendaraan listrik tidak akan bertahan tanpa batas, karena arah kebijakan pada akhirnya akan bergerak menuju penyesuaian di daerah.

CEO GAC Indonesia Andry Ciu menegaskan bahwa pajak untuk mobil listrik pada akhirnya akan tetap muncul. Yang membedakan hanya seberapa cepat aturan itu benar-benar diterapkan di tiap wilayah.

“Pajak itu sudah pasti akan ada kan, tinggal cepat atau lambatnya doang. Bagi customer yang ingin mendapatkan fasilitas masih mendapatkan pajak murah, harus mempercepat pembeliannya,” kata Andry di Guangzhou belum lama ini.

Pernyataan itu muncul setelah terbit Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 yang menyebut mobil listrik tidak lagi sepenuhnya bebas pajak. Meski begitu, pemerintah daerah masih memiliki ruang untuk memberi insentif kepada kendaraan ramah lingkungan.

Kondisi tersebut juga diperkuat dengan surat edaran Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang meminta para gubernur tetap memberi keringanan bagi kendaraan ramah lingkungan. Artinya, peluang memperoleh tarif yang lebih ringan belum tertutup sepenuhnya, tetapi masa berlakunya dinilai semakin sempit.

Bagi GAC Indonesia, perubahan aturan ini bukan lagi soal kemungkinan, melainkan soal waktu. Andry melihat bahwa konsumen yang ingin memanfaatkan skema lama perlu bergerak lebih cepat sebelum penyesuaian teknis di daerah berjalan penuh.

Untuk menjaga minat pembeli di tengah perubahan itu, GAC Indonesia menyiapkan berbagai promo dan paket kredit. Langkah ini ditujukan agar konsumen tetap punya pilihan yang lebih mudah dijangkau saat mempertimbangkan pembelian kendaraan listrik.

Andry menyebut insentif penjualan tersebut bukan sekadar strategi harga. GAC ingin memberi fleksibilitas lebih besar kepada konsumen di Indonesia, terutama bagi mereka yang mulai menimbang aspek biaya kepemilikan setelah isu pajak ikut masuk dalam perhitungan.

“Tentu kita masih terus berikan promo-promo yang menarik, paket-paket kredit yang lebih memudahkan bagi customer,” ujarnya.

Selain mengejar minat lewat fasilitas pembelian, GAC Indonesia juga menaruh perhatian besar pada kualitas produk dan layanan purna jual. Perusahaan menyatakan fokus pada mutu mulai dari proses perakitan di pabrik sampai pelayanan servis di jaringan diler.

Andry menekankan bahwa perusahaan tidak menganggap remeh sisi kualitas. Menurut dia, perhatian terhadap assembly dan layanan servis menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan konsumen.

“Kita sangat fokus mengenai kualitas. Memang kita tidak bercanda dari soal kualiti baik dari pengerjaan assembly di pabrik sampai pelayanan servis dari pihak dealer,” kata dia.

Penekanan pada kualitas menjadi penting karena isu pajak bisa memengaruhi pertimbangan beli, tetapi kepercayaan pasar tetap ditentukan oleh pengalaman menggunakan produk. Dalam konteks ini, GAC juga menyebut kualitas produknya mendapat pengakuan di China.

Di saat aturan fiskal terus bergeser, kombinasi antara produk, layanan, dan skema pembelian menjadi faktor yang menentukan arah pasar. Bagi GAC Indonesia, pesan untuk calon pembeli cukup jelas: kesempatan menikmati pajak murah masih ada, tetapi tidak akan berlangsung selamanya.

Baca Juga

Back to top button