Di tengah forum halalbihalal warga Nahdlatul Ulama se-Jawa Tengah di Semarang, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menempatkan peran nahdliyin jauh melampaui acara silaturahmi biasa. Ia melihat NU sebagai salah satu kekuatan sosial yang mampu ikut menjaga arah pembangunan daerah agar tetap berjalan stabil dan diterima masyarakat.
Pandangan itu muncul saat Ahmad Luthfi berbicara dalam Halalbihalal Ngumpulke Balung Pisah warga Nahdlatul Ulama se-Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pembangunan Jawa Tengah tidak dapat ditopang hanya oleh program pemerintah, melainkan juga harus mendapat dukungan dari kiai, ulama, dan warga nahdliyin yang punya pengaruh kuat di tingkat akar rumput.
Pembangunan butuh karakter kepemimpinan
Ahmad Luthfi menilai setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda sehingga tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Karena itu, ia menyebut pemimpin daerah harus punya karakter yang kuat untuk membawa wilayahnya bergerak ke arah yang tepat.
“Setiap daerah itu berbeda-beda, tidak bisa dibandingkan. Pemimpin harus punya karakter bagaimana membawa wilayah. Karakter itu nyali,” kata Ahmad Luthfi.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembangunan daerah menurut dia bukan sekadar urusan administrasi atau proyek fisik. Ada dimensi kepemimpinan yang menuntut keberanian mengambil sikap, sekaligus kemampuan membaca dinamika sosial yang hidup di tengah masyarakat.
NU dipandang sebagai penguat nilai kebangsaan
Dalam forum tersebut, Ahmad Luthfi juga menaruh perhatian pada kontribusi NU dalam menjaga nilai kebangsaan dan Pancasila. Ia memandang tokoh agama dan warga nahdliyin sebagai unsur penting yang dapat membantu merawat semangat kebangsaan di tengah perubahan sosial yang terus bergerak.
Bagi Ahmad Luthfi, kehadiran kiai dan ulama tetap dibutuhkan dalam proses membangun Jawa Tengah. Dukungan mereka dinilai tidak hanya bernilai moral, tetapi juga berpengaruh dalam menjaga arah sosial masyarakat agar tetap kondusif.
Cara pandang itu menegaskan bahwa pembangunan daerah memiliki kaitan erat dengan stabilitas sosial. Ketika ruang sosial terjaga, kebijakan pemerintah disebut lebih mudah berjalan dan lebih mungkin diterima oleh masyarakat luas.
Pengalaman menjaga kamtibmas ikut membentuk pendekatan
Ahmad Luthfi juga menghubungkan kedekatannya dengan kiai dan tokoh NU dengan pengalaman kerja lapangannya saat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dari pengalaman itu, ia menilai pendekatan bersama para ulama terbukti efektif dalam meredam intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Bagi dia, pengalaman tersebut masih relevan untuk konteks pembangunan saat ini. Keterlibatan nahdliyin dipandang bukan hanya memperkuat ketahanan sosial, tetapi juga membantu menjaga situasi masyarakat tetap tenang sehingga program pembangunan bisa berjalan lebih konsisten.
Hubungan antara keamanan sosial dan pembangunan menjadi titik penting dalam cara pandang itu. Jika suasana masyarakat kondusif, pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk menjalankan agenda pembangunan tanpa banyak hambatan sosial.
Peran nahdliyin tidak berhenti di ruang keagamaan
Sebagai gubernur, Ahmad Luthfi mendorong warga NU untuk hadir lebih aktif dalam mendukung penguatan pembangunan Jawa Tengah. Ia menyebut banyak nahdliyin sudah bergerak di berbagai bidang strategis dan memiliki pengaruh besar untuk mengajak masyarakat di sekitarnya.
Peran itu, menurut dia, tidak dibatasi pada urusan keagamaan semata. Nahdliyin juga dipandang dapat ikut mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas sosial, dan mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam bermedia sosial.
Dalam posisi seperti itu, nahdliyin bisa menjadi jembatan antara pemerintah dan warga di tingkat bawah. Hubungan sosial yang dekat membuat pesan pembangunan lebih mudah dipahami dan kebutuhan masyarakat lebih cepat terbaca.
Halalbihalal sebagai ruang merawat persaudaraan
Selain menyoroti aspek pembangunan, Ahmad Luthfi juga menyinggung nilai kebersamaan yang hadir dalam forum halalbihalal tersebut. Bersama Gus Yasin, ia mengapresiasi pertemuan tokoh-tokoh dengan latar belakang berbeda dalam suasana persaudaraan dan gotong royong.
Tradisi seperti ini dinilai tetap relevan karena memberi ruang dialog yang hangat antarunsur masyarakat. Di tengah perubahan sosial yang cepat, pertemuan semacam halalbihalal menjadi sarana menjaga kedekatan antar tokoh sekaligus memperkuat komunikasi sosial.
Kehadiran NU dalam ruang-ruang seperti itu menunjukkan posisi strategis organisasi keagamaan dalam merawat harmoni sosial. Bagi Ahmad Luthfi, pembangunan Jawa Tengah akan lebih kuat jika pemerintah dan nahdliyin bergerak bersama, saling menguatkan, dan menjaga stabilitas di tengah masyarakat.
Source: www.suaramerdeka.com




