Rencana Elon Musk membangun Terafab kembali memperlihatkan betapa seriusnya persaingan chip di balik ledakan AI dan robotika. Skala proyek yang dikaitkan dengan SpaceX itu disebut mencapai 119 miliar dolar AS atau sekitar Rp2,06 kuadriliun, dengan tahap awal investasi sekitar 55 miliar dolar AS atau setara Rp953 triliun.
Langkah ini muncul saat kebutuhan semikonduktor makin melebar ke banyak lini bisnis Musk. Chip tidak hanya dibutuhkan untuk AI, tetapi juga untuk robotika, kendaraan listrik, satelit, sampai ambisi teknologi luar angkasa.
Terafab dan ambisi pasokan chip mandiri
Ide Terafab menjadi sorotan karena Musk ingin punya fasilitas produksi chip sendiri, bukan terus bergantung pada pemasok luar. Ia menilai kebutuhan chip perusahaan-perusahaannya sudah terlalu besar untuk ditopang sepenuhnya oleh rantai pasok eksternal.
Dalam pernyataannya, Musk menulis, “Kita harus membangun Terafab atau kita tidak akan memiliki chip, dan kita membutuhkan chip tersebut, jadi kita akan membangun Terafab.” Pernyataan itu menegaskan bahwa proyek ini dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar ekspansi industri biasa.
Dokumen proposal pembangunan disebut telah diunggah di situs resmi Grimes County, Texas, dan dilaporkan TechCrunch pada Rabu (6/5) waktu setempat. Dalam dokumen itu, pembangunan dijelaskan akan berlangsung secara multi-fase, dengan Texas muncul sebagai lokasi yang sedang dipertimbangkan.
Bukan hanya untuk SpaceX
Meski SpaceX menjadi nama yang terkait langsung dengan rencana ini, sasaran Terafab tampak jauh lebih luas. Fasilitas itu disebut akan menopang kebutuhan chip untuk Tesla dan xAI, termasuk untuk Grok milik xAI, server AI, satelit SpaceX, kendaraan listrik Tesla, dan robot otonom generasi baru.
Arah penggunaan itu menunjukkan bahwa proyek ini dirancang sebagai fondasi teknis bagi ekosistem Musk secara keseluruhan. Di saat yang sama, Terafab juga diarahkan untuk mendukung pembangunan pusat data di luar angkasa.
Konsep pusat data luar angkasa disebut menjadi salah satu alasan penggabungan xAI dengan SpaceX. Musk dinilai melihat masa depan AI tidak berhenti di bumi, tetapi juga memerlukan infrastruktur komputasi besar di ruang angkasa.
Intel ikut dilibatkan
Untuk mewujudkan rencana tersebut, perusahaan-perusahaan milik Musk disebut telah menggandeng Intel sebagai salah satu mitra strategis. Kerja sama itu diarahkan untuk mengembangkan chip khusus yang bisa menangani kebutuhan komputasi AI dalam skala besar.
Musk bahkan mengklaim Terafab suatu hari bisa memproduksi chip dengan kapasitas daya hingga 1 terawatt per tahun. Jika target itu tercapai, fasilitas ini berpotensi menjadi salah satu pabrik semikonduktor terbesar di dunia.
Dorongan membangun kapasitas sendiri juga tidak lepas dari tekanan industri yang terus meningkat. Chatbot AI, robot humanoid, kendaraan otonom, dan pusat data sama-sama menyerap semikonduktor dalam jumlah besar, sementara kapasitas produksi global belum mampu mengejar permintaan.
Texas belum final
Walau Grimes County sudah muncul dalam dokumen, Musk belum menetapkan Texas sebagai lokasi akhir. Dalam unggahan di media sosial pada Selasa lalu, ia menyebut Texas hanya salah satu dari beberapa wilayah yang masih masuk pertimbangan.
Artinya, peluang lokasi lain masih terbuka meski spekulasi terhadap proyek ini terus menguat. Ambisi Terafab sendiri sejalan dengan arah besar industri teknologi, terutama ketika perusahaan-perusahaan besar berlomba mengamankan pasokan chip untuk kecerdasan buatan.
Di tengah persaingan itu, langkah Musk terlihat sebagai upaya memperkuat kendali atas rantai pasok sekaligus membangun ekosistem teknologi yang lebih mandiri. Entitas gabungan xAI dan SpaceX kini disebut memiliki valuasi 1,25 triliun dolar AS atau sekitar Rp21,6 kuadriliun, dan berpotensi go public pada Juni mendatang.
Source: www.gadgetdiva.id




