Musk Kembali Gugat OpenAI, Sebut Arah Komersialnya Mengkhianati Misi Awal AI

Di ruang sidang federal Oakland, Elon Musk kembali menempatkan OpenAI sebagai pihak yang dinilai telah menjauh dari tujuan awalnya. Ia menuduh perusahaan itu meninggalkan misi amal yang dulu menjadi dasar pendiriannya dan meminta pengadilan memaksa OpenAI kembali menjadi organisasi nirlaba murni.

Sengketa ini bukan hanya soal perbedaan tafsir hukum, tetapi juga soal arah masa depan industri kecerdasan buatan. Musk memandang perubahan struktur OpenAI sebagai ancaman bagi ekosistem filantropi, sementara OpenAI menegaskan bahwa biaya pengembangan teknologi AI sudah terlalu besar untuk ditopang tanpa modal investor luar.

Musk: OpenAI dinilai menyimpang dari tujuan awal

Dalam keterangannya di pengadilan, Musk menegaskan bahwa OpenAI semula dibentuk untuk mengembangkan AI yang aman dan bermanfaat bagi publik. Ia mengatakan dukungannya pada awal proyek diberikan karena keyakinan bahwa organisasi itu akan tetap nirlaba dan membagikan teknologinya secara terbuka.

Musk juga membawa argumen yang lebih luas di luar perkara satu perusahaan. Ia menyebut bahwa jika pengadilan membenarkan tindakan yang pada dasarnya memungkinkan “menguras” sebuah badan amal, maka fondasi donasi filantropi di Amerika bisa ikut terganggu.

Ia menggambarkan OpenAI sebagai jawaban atas kekhawatiran mengenai keselamatan AI yang saat itu berkembang di Google. Musk juga mengklaim ikut membantu merekrut Ilya Sutskver serta membuka jalur awal ke Nvidia dan Microsoft, yang menurutnya penting pada fase awal proyek.

OpenAI menolak tuduhan dan membela kebutuhan dana

OpenAI membantah bahwa perubahannya berarti mengkhianati misi awal. Pengacara utama perusahaan, William Savitt, menyatakan bahwa pengembangan AI membutuhkan biaya yang terlalu besar jika hanya bergantung pada pendanaan nirlaba.

Savitt menekankan bahwa bagian nirlaba OpenAI masih memegang kendali atas organisasi. Ia juga menuding Musk bereaksi karena kecewa setelah keluar dari proyek tersebut, bahkan menyampaikan bahwa Musk “will do anything he can to attack OpenAI.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perselisihan ini tidak berhenti pada urusan struktur perusahaan. Di baliknya, ada benturan pandangan tentang bagaimana AI seharusnya dibangun, dibiayai, dan diarahkan ketika tuntutan modal terus membesar.

Dari mitra pendiri menjadi lawan di industri AI

OpenAI didirikan pada 2015 oleh Musk, Sam Altman, dan sejumlah pendiri lain dengan janji bahwa teknologinya akan “belong to the world.” Musk kemudian menanamkan setidaknya $38 juta sebelum keluar pada 2018, lalu entitas komersial OpenAI dibentuk setahun setelahnya.

Sejak itu, OpenAI berkembang menjadi salah satu pemain paling dominan di industri AI. Perusahaan tersebut kini bernilai $852 miliar dan sedang bersiap menghadapi penawaran umum perdana berprofil tinggi, seiring popularitas ChatGPT yang sempat menggemparkan dunia pada 2022.

Di sisi lain, Musk membangun laboratorium AI sendiri bernama xAI. Lab itu kemudian digabung ke SpaceX pada Februari, sementara SpaceX disebut bernilai $1.25 trillion dan IPO perusahaan itu yang diperkirakan berlangsung pada June berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah.

Sorotan pengadilan juga menyentuh reputasi keduanya

Sebelum pernyataan pembuka di pengadilan federal Oakland, hakim Yvonne Gonzalez Rogers meminta Musk dan Altman menahan diri dari aktivitas media sosial selama proses sidang. Permintaan itu muncul setelah Musk melontarkan sejumlah unggahan di platform X miliknya, termasuk menyebut Altman sebagai “Scam Altman.”

Hakim dijadwalkan mengambil keputusan pada late May berdasarkan pandangan dewan juri penasihat, apakah OpenAI melanggar janji kepada Musk atau justru sah memanfaatkan perkembangan teknologi untuk tumbuh besar. Gugatan Musk meminta OpenAI kembali menjadi nirlaba penuh dan menyingkirkan Altman serta Greg Brockman dari posisi pimpinan.

Musk juga menuntut ganti rugi hingga $134 billion, tetapi menyatakan tidak akan mengambil keuntungan pribadi dari putusan apa pun. Ia berjanji akan mengalihkan kompensasi itu ke badan nirlaba OpenAI, sejalan dengan argumennya bahwa inti sengketa ini adalah menjaga agar organisasi amal tidak berubah menjadi alat komersial semata.

Baca Juga

Back to top button