Tarik-menarik soal fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul atau MRO C-130J di Indonesia menunjukkan bahwa keputusan bisnis pertahanan tidak selalu bergerak dalam jalur teknis semata. Di balik rencana itu, ada kepentingan geopolitik, pertimbangan industri, dan sensitivitas politik yang membuat pembahasannya jauh lebih rumit dari sekadar memilih lahan.
Amerika Serikat disebut masih berada pada tahap penjajakan awal untuk fasilitas MRO C-130J di Indonesia. Namun, Jakarta menegaskan bahwa Bandara Kertajati di Majalengka adalah lokasi yang tersedia untuk pembahasan tersebut.
Isu ini ikut berada dalam payung besar The U.S.-Indonesia Major Defense Cooperation Partnership atau MDCP. Kerja sama itu dibentuk pada 13 April 2026 di Pentagon, Virginia, dan memuat agenda modernisasi pertahanan serta pembangunan kapasitas.
Dalam kerangka MDCP, Amerika Serikat akan memberi bantuan untuk memperkuat kapasitas pertahanan Indonesia. Bantuan itu dapat berbentuk penjualan peralatan pertahanan, peningkatan kapasitas manajemen pertahanan, hingga pemeliharaan sistem senjata.
Saat Menteri Pertahanan Indonesia dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat bertemu di Pentagon pada April 2026, keduanya juga menandatangani Letter of Intent tentang akses lintas udara bagi pesawat militer Amerika Serikat di ruang udara Indonesia. Dari situ, pembahasan MRO C-130J ikut mencuat sebagai bagian dari dialog pertahanan yang lebih luas.
Mengapa C-130J jadi perhatian
Amerika Serikat ingin membangun fasilitas MRO untuk varian termutakhir pesawat angkut turboprop C-130J sebagai pusat pemeliharaan di kawasan Asia Pasifik. Kebutuhan itu makin relevan karena populasi C-130J di kawasan terus bertambah.
Di kawasan ini, operator C-130J tercatat antara lain Korea Selatan, Jepang, Indonesia, Filipina, Australia, dan Selandia Baru. Pesawat ini menggunakan empat sistem pendorong AE 2100D3 buatan Rolls-Royce, sehingga dukungan pemeliharaan regional menjadi penting.
Di sisi lain, fasilitas MRO untuk C-130 varian lama B, H, dan T sudah hadir di Korea Selatan, Jepang, Australia, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Artinya, jaringan pemeliharaan keluarga C-130 sudah terbentuk, tetapi varian J masih belum memiliki titik layanan regional yang mapan.
Kertajati di tengah perbedaan pandangan
Gagasan pembangunan fasilitas MRO C-130J disebut berasal dari Amerika Serikat dan belum masuk ke tahap diskusi lanjutan dengan Indonesia. Sejumlah sumber kredibel menyebut Washington sempat menjajaki beberapa bandar udara di Indonesia yang berpotensi menjadi lokasi fasilitas itu.
Di sisi Indonesia, pemerintah menegaskan bahwa yang tersedia adalah Bandara Kertajati. Masalahnya, bandara tersebut dinilai masih memerlukan investasi besar dan waktu panjang agar siap menampung fasilitas MRO yang representatif.
Perbedaan pandangan itu membuat Kementerian Pertahanan Indonesia dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat belum bertemu pada titik yang sama. Kertajati juga disebut sulit berkembang dari sisi penerbangan niaga karena persoalan catchment area.
Bisnis yang terseret politik
Pembahasan yang masih awal ini ikut dibingkai oleh politik dalam negeri. Muncul kecurigaan bahwa fasilitas itu akan berubah menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di Indonesia.
Kalangan diplomatik dan pertahanan Amerika Serikat disebut tidak nyaman dengan pembingkaian semacam itu. Pada saat yang sama, Washington membutuhkan lebih banyak mitra di Asia Pasifik untuk mendorong kepentingan geopolitiknya dalam menghadapi Cina.
Kondisi tersebut membuat proses menuju kesepakatan tidak sederhana. Perbedaan lokasi, kekhawatiran politik, dan kebutuhan Amerika Serikat untuk bergerak cepat saling bertemu dalam satu meja pembahasan.
Peluang industri yang belum dimaksimalkan
Di balik polemik lokasi, ada dimensi bisnis yang justru dinilai lebih penting. Jika pendekatannya benar-benar bisnis, peluang untuk menguatkan industri MRO domestik terbuka lebih lebar.
PT GMF AeroAsia Tbk disebut sudah membangun kemampuan MRO C-130 varian lama selama beberapa tahun terakhir. Perusahaan itu juga memperoleh kontrak modernisasi delapan C-130H dari Kementerian Pertahanan.
Saat ini, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk tersebut sedang membangun kapabilitas pemeliharaan dan perawatan C-130J bersama Marshall Group. Perusahaan asal Amerika Serikat itu dikenal memiliki spesialisasi dalam MRO semua varian C-130.
Dalam pembacaan yang menempatkan bisnis sebagai fokus utama, posisi GMF disebut bisa bersaing dengan ST Engineering dan AIROD. Di titik ini, mitra lokal menjadi faktor penting, bukan hanya lokasi fisik fasilitas.
Posisi Kertajati masih terbuka
Sejumlah pandangan menilai pemilihan lokasi seharusnya diserahkan pada pertimbangan dunia usaha berdasarkan kebutuhan pasar. Pendapatan perusahaan tidak lahir dari perintah pemerintah, sementara pengelolaan birokrasi berbeda dari mengurus bisnis.
Karena itu, jika fasilitas MRO C-130 milik GMF di Bandara Soekarno-Hatta dinilai paling layak menjadi pusat MRO C-130J untuk Asia Pasifik, opsi itu tetap terbuka. Begitu pula kemungkinan pengembangan fasilitas pemeliharaan dan perawatan pesawat berpindah ke Kertajati.
Indonesia tetap berada dalam posisi penting karena memiliki ekosistem MRO C-130 lama dan kapasitas industri yang terus tumbuh. Yang kini dipertanyakan bukan hanya lokasi pembangunan fasilitas C-130J, tetapi juga siapa yang paling siap menangkap peluang saat pasar regional mulai bergerak.
Source: www.cnbcindonesia.com




