Daya tahan Polytron Fox 350 kembali jadi sorotan setelah motor listrik ini tetap sanggup melampaui 100 kilometer dalam penggunaan yang mendekati kondisi harian. Yang menarik, pencapaian itu diraih saat motor dipakai di mode D, bukan mode S, dengan pengendara berbobot sekitar 100 kilogram dan kecepatan yang dijaga di kisaran 40–60 km/jam.
Hasil tersebut muncul dari pengujian yang tidak dibuat ideal. Motor dibawa di tengah lalu lintas padat, termasuk saat harus menyalip kendaraan, sehingga gambaran yang muncul lebih dekat dengan pemakaian sehari-hari ketimbang tes di kondisi kosong.
Di titik akhir pengujian, odometer menunjukkan 100,5 kilometer. Pada saat yang sama, baterai masih tersisa 9 persen dan layar masih menampilkan estimasi jarak sekitar 12 kilometer.
Sisa daya itu memberi isyarat bahwa jarak tempuh totalnya masih bisa lebih jauh dalam kondisi yang lebih menguntungkan. Secara teori, angka yang muncul masih membuka peluang untuk mencapai sekitar 110–112 kilometer.
Efisiensi Fox 350 juga terlihat dari pola konsumsi baterainya sejak awal perjalanan. Saat jarak tempuh baru mencapai 40 kilometer, sisa baterai masih berada di angka 63 persen, lalu turun menjadi 37 persen ketika perjalanan menyentuh 70 kilometer.
Pada fase tersebut, kecepatan tetap dijaga stabil di sekitar 60 km/jam. Penurunan daya berjalan cukup lambat, bahkan sempat terlihat indikator turun dari 40 persen ke 39 persen dengan sangat pelan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pola berkendara punya pengaruh besar terhadap pemakaian energi. Saat motor dipakai dengan ritme yang tenang dan kecepatan stabil, efisiensi baterainya tampak lebih optimal.
Menariknya, ada pula catatan khusus pada awal pengujian. Dalam 10 kilometer pertama, baterai turun dari 100 persen ke 91 persen, tetapi penurunan cepat ini berkaitan dengan proses pengisian sebelumnya yang belum maksimal.
Saat itu, pengisian belum mencapai indikator hijau pada charger. Artinya, baterai belum benar-benar penuh meski layar motor sudah menunjukkan 100 persen.
Gambaran berbeda muncul ketika pengisian dilakukan sampai tuntas. Saat charger sudah menampilkan indikator hijau, penurunan 1 persen baru terjadi setelah motor menempuh hampir 5 kilometer.
Dalam kondisi pengisian yang benar-benar optimal, efisiensi disebut bisa lebih baik lagi. Bahkan, 1 persen baterai dapat dipakai hingga hampir 6 kilometer.
Saat daya mulai menipis, sistem motor juga menunjukkan batas penggunaan yang lebih jelas. Pada jarak tempuh 85,8 kilometer dengan sisa baterai 22 persen, mode S sudah tidak bisa diaktifkan dan motor otomatis terkunci di mode D.
Di layar instrumen, estimasi jarak sisa juga ikut tampil. Angka yang terlihat saat itu berada di kisaran 30 kilometer, sehingga pengendara bisa lebih mudah memperkirakan sisa perjalanan.
Informasi seperti ini membantu penggunaan harian karena tidak hanya mengandalkan persentase baterai. Pengendara bisa menilai apakah daya masih cukup untuk melanjutkan perjalanan atau perlu segera mengisi ulang.
Selain soal efisiensi, kenyamanan berkendara juga ikut menjadi perhatian dalam pengujian tersebut. Posisi berkendaranya dinilai nyaman untuk kebutuhan harian, meski jok disebut terasa kurang tebal bagi pengendara dengan bobot sekitar 100 kilogram.
Catatan itu melengkapi gambaran bahwa Fox 350 tidak hanya kuat di angka jarak tempuh. Dalam kondisi yang realistis, motor listrik ini tetap mampu menunjukkan daya tahan yang konsisten saat dipakai di mode D dengan beban besar dan lalu lintas yang tidak selalu lengang.





