Mencuci Daging Kurban Justru Bisa Menyebar Bakteri, Begini Cara Yang Lebih Aman

Di banyak rumah, daging kurban sering langsung dibawa ke wastafel begitu diterima. Kebiasaan itu terlihat wajar, tetapi justru bisa menambah risiko penyebaran bakteri ke area dapur yang lain.

Masalahnya bukan hanya soal air yang membilas permukaan daging. Saat daging mentah dicuci, percikan kecil dapat membawa bakteri ke meja, talenan, pisau, dan wastafel, sehingga kontaminasi silang lebih mudah terjadi tanpa disadari.

Mengapa mencuci daging mentah tidak memberi manfaat besar

Dari sisi keamanan pangan, mencuci daging kurban umumnya tidak dianjurkan. Bakteri yang mungkin menempel di permukaan, seperti Salmonella, E coli, Campylobacter, dan Listeria, tidak otomatis hilang hanya karena terkena air.

Air mengalir juga tidak cukup kuat untuk menghapus mikroorganisme yang menempel pada daging mentah. Yang paling menentukan justru proses memasak sampai suhu aman, karena bakteri akan mati saat daging mencapai suhu internal sekitar 70 derajat celsius atau lebih, tergantung jenis olahannya.

Artinya, kebersihan daging lebih bergantung pada cara menangani, menyimpan, dan memasaknya. Membilas daging bukan pengganti pemanasan yang matang dan merata.

Percikan kecil yang sering luput diperhatikan

Saat daging dicuci, bakteri bisa ikut tersebar melalui cipratan air. Menurut USDA, percikan dari pencucian daging mentah dapat menyebar hingga sekitar 50–60 sentimeter dari area pencucian.

Itu membuat risiko berpindahnya bakteri ke permukaan dapur jadi lebih besar. Kondisi ini berbahaya karena perpindahan tersebut sering tidak terlihat, tetapi tetap bisa berujung pada makanan lain ikut terkontaminasi.

WHO juga mencatat sekitar 1 dari 10 orang di dunia mengalami penyakit akibat makanan terkontaminasi setiap tahun. Salah satu pemicunya adalah penanganan bahan pangan yang kurang higienis di rumah tangga.

Apa risiko kesehatan yang bisa muncul

Jika bakteri dari daging masuk ke tubuh melalui makanan yang terkontaminasi, gangguannya bisa berupa mual, muntah, diare, dan infeksi saluran pencernaan. Pada kasus tertentu, infeksi bakteri seperti Salmonella atau Campylobacter juga dapat terjadi.

Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia perlu lebih berhati-hati. Pada kelompok ini, E coli dapat memicu komplikasi yang lebih serius bila pangan yang dikonsumsi terkontaminasi.

Kapan daging masih boleh terkena air

Meski tidak dianjurkan sebagai kebiasaan utama, ada kondisi tertentu saat daging memang bisa dibilas singkat. Jika masih ada pasir, serpihan tulang, sisa kotoran fisik, atau darah segar yang cukup banyak menempel, pembilasan dengan air mengalir masih dapat dilakukan.

Namun, pembilasan itu sebaiknya singkat dan tidak dilakukan dengan merendam daging terlalu lama. Jika dibiarkan lama di air, tekstur daging bisa berubah menjadi lebih keras, rasa alaminya berkurang, dan sebagian nutrisi berpotensi larut bersama air.

Setelah dibilas, daging perlu segera ditiriskan. Pengeringan dengan tisu dapur sekali pakai juga membantu mengurangi kelembapan berlebih sebelum daging diolah.

Langkah yang lebih aman di dapur

Fokus utama seharusnya ada pada kebersihan tangan dan peralatan. Pisau dan talenan untuk daging mentah sebaiknya dipisahkan dari alat yang dipakai untuk sayuran, buah, atau makanan matang agar bakteri tidak berpindah.

Tangan juga perlu dicuci dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah memegang daging. Kebiasaan sederhana ini penting untuk menekan risiko penyebaran bakteri di dapur.

Jika daging belum langsung dimasak, penyimpanan juga tidak boleh diabaikan. Daging sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup di lemari pendingin dengan suhu sekitar 4 derajat celsius, atau di freezer dengan suhu sekitar -18 derajat celsius untuk penyimpanan lebih lama.

Daging mentah juga sebaiknya tidak diletakkan berdekatan dengan buah, sayuran, atau makanan matang. Pemisahan ini membantu menjaga bahan pangan lain tetap aman dari perpindahan bakteri.

Pematangan tetap jadi kunci utama

Pada akhirnya, proses memasak adalah tahap paling penting dalam pengolahan daging kurban. Sate, gulai, rendang, tongseng, maupun olahan lain perlu dimasak sampai benar-benar matang agar bakteri berbahaya yang mungkin masih tersisa bisa mati.

Dalam banyak kondisi, membiarkan daging tetap kering lalu langsung diolah lebih aman daripada terburu-buru mencucinya. Penanganan yang tepat sejak daging diterima, penyimpanan yang benar, dan pemasakan yang matang jauh lebih menentukan dibanding kebiasaan membilas daging mentah.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button