Di tengah dorongan agar mahasiswa lebih aktif di ruang publik, organisasi kemahasiswaan kembali dipandang sebagai tempat penting untuk membentuk karakter dan kepekaan sosial. Anggota DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso menilai kegiatan organisasi di kampus tidak boleh berhenti sebagai pelengkap perkuliahan, karena dari sanalah mahasiswa belajar membaca persoalan di sekitarnya secara lebih nyata.
Ia menekankan bahwa dunia kampus seharusnya tidak hanya mengejar capaian akademik. Menurut Cahyo, pengalaman mahasiswa perlu terhubung dengan aktivitas sosial yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar, sehingga proses pendidikan menjadi lebih utuh dan tidak semata berorientasi pada nilai di ruang kelas.
Organisasi sebagai ruang latihan mahasiswa
Cahyo memandang organisasi kemahasiswaan sebagai sarana belajar di luar kelas yang memberi banyak pengalaman praktis. Melalui wadah itu, mahasiswa dapat melatih kepemimpinan, membangun kerja sama, dan memperluas jejaring yang berguna bagi pengembangan diri.
Ia menilai pengalaman seperti ini punya nilai penting karena melengkapi pendidikan formal. Dari aktivitas organisasi, mahasiswa juga berkesempatan memahami persoalan sosial secara lebih dekat dan belajar merespons isu publik dengan sikap kritis, namun tetap bertanggung jawab.
Bagi Cahyo, mahasiswa ideal bukan hanya yang unggul secara akademik, tetapi juga yang peka terhadap kebutuhan masyarakat. Karena itu, keseimbangan antara prestasi belajar dan keterlibatan organisasi disebutnya sebagai bagian dari pembentukan karakter kebangsaan.
Kesetaraan gender perlu masuk praktik organisasi
Dalam pandangannya, perhatian terhadap kesetaraan gender juga perlu terus diperkuat di kalangan mahasiswa. Cahyo menyebut isu tersebut semakin relevan karena ruang peran generasi muda dalam berbagai proses strategis terus terbuka.
“Kesetaraan gender menjadi isu krusial yang harus terus diperkuat,” ujar Cahyo. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembahasan soal gender tidak cukup hanya berhenti pada diskusi, tetapi perlu hadir dalam sikap sehari-hari di lingkungan organisasi.
Ia menilai organisasi mahasiswa bisa menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan kesadaran tersebut. Ketika mahasiswa terbiasa memandang isu gender sebagai bagian dari kehidupan bersama, budaya yang setara lebih mudah tumbuh di kampus maupun di ruang sosial yang lebih luas.
Belajar dari senior dan alumni
Selain menyoroti peran organisasi, Cahyo juga mendorong mahasiswa membiasakan diri berdialog dengan senior dan alumni. Ia menilai proses belajar tidak hanya berlangsung lewat perkuliahan, tetapi juga melalui pertemuan dengan orang yang memiliki pengalaman berbeda.
Percakapan lintas generasi, menurut dia, dapat memperkaya sudut pandang mahasiswa dalam membaca situasi sosial. Dari proses itu, mahasiswa dapat mengambil pelajaran tentang cara menghadapi dinamika yang terus berubah sekaligus memperkuat kapasitas diri.
Cahyo bahkan menyampaikan bahwa dirinya masih terus belajar dari para senior untuk mengembangkan kemampuan dan memahami perubahan yang terjadi. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa belajar dalam organisasi adalah proses berkelanjutan, bukan sesuatu yang selesai setelah mahasiswa menuntaskan pendidikan formal.
Peran pemuda di ruang publik
Dorongan agar mahasiswa aktif dalam organisasi menunjukkan harapan agar generasi muda tidak pasif menghadapi perubahan sosial. Organisasi kemahasiswaan dinilai bisa menjadi pintu masuk untuk melatih kepekaan, membangun karakter, dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi ruang publik yang makin terbuka.
Dengan fungsi itu, organisasi mahasiswa tidak hanya dipahami sebagai tempat aktivitas ekstra kampus. Lebih jauh, wadah ini berperan membentuk generasi muda yang terbiasa berdialog, peka terhadap isu sosial, dan siap terlibat dalam proses kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi partisipasi kaum muda.
Cahyo menempatkan organisasi kemahasiswaan sebagai bagian penting dari pendidikan yang utuh. Di tengah tuntutan untuk berprestasi di akademik, mahasiswa juga didorong hadir sebagai kelompok yang peduli, kritis, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Source: www.jawapos.com




