Tiket Ghana ke Piala Dunia 2026 langsung menghidupkan kembali ingatan pada masa ketika The Black Stars pernah berdiri sejajar dengan tim-tim paling disegani di Afrika. Bagi banyak penggemar, nama Ghana masih identik dengan keberanian, disiplin, dan perjalanan bersejarah yang mencapai perempat final Piala Dunia 2010.
Di Afrika Selatan, Ghana sempat menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar peserta. Mereka tampil efektif sejak fase grup dan kemudian membawa harapan besar bagi sepak bola Afrika ketika tim-tim lain dari benua itu lebih dulu tersingkir.
Momentum besar yang lahir di Afrika Selatan
Pencapaian paling ikonik Ghana tetap tertanam kuat karena terjadi di panggung terbesar sepak bola dunia. Pada Piala Dunia 2010, mereka tergabung di Grup D bersama Jerman, Australia, dan Serbia, grup yang menuntut konsistensi tinggi sejak awal.
Ghana membuka perjalanan dengan kemenangan 1-0 atas Serbia, lalu bermain imbang 1-1 melawan Australia. Setelah itu, mereka kalah tipis 0-1 dari Jerman, tetapi tetap finis sebagai runner-up grup karena mengoleksi empat poin dan unggul selisih gol atas Australia.
Langkah yang mengangkat nama Afrika
Lolos ke babak 16 besar menjadi momen penting, bukan hanya untuk Ghana, tetapi juga bagi kawasan Afrika. Saat sejumlah wakil benua itu tersingkir lebih awal, Ghana justru melaju dan memikul ekspektasi yang lebih besar di fase gugur.
Mereka menjawab tekanan itu dengan kemenangan 2-1 atas Amerika Serikat. Kevin-Prince Boateng dan Asamoah Gyan menjadi pencetak gol yang mengantar Ghana ke perempat final, sebuah capaian yang kala itu terasa sangat besar bagi sejarah mereka.
Luka yang masih diingat sampai sekarang
Perempat final melawan Uruguay kemudian berubah menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah Ghana di Piala Dunia. Laga berakhir 1-1 pada waktu normal, tetapi tensinya meningkat setelah Luis Suarez menahan bola dengan tangan di depan gawang.
Ghana mendapat penalti dari insiden itu, namun eksekusi Asamoah Gyan membentur mistar. Harapan untuk melangkah lebih jauh akhirnya pupus lewat adu penalti, dan peristiwa itu meninggalkan luka yang masih terus diingat sebagai momen paling pahit sekaligus paling terkenal dalam perjalanan mereka.
Perjalanan naik turun setelah puncak 2010
Setelah pencapaian tersebut, Ghana tetap menjadi nama yang rutin hadir di Piala Dunia. Mereka tampil pada edisi 2006, 2014, dan 2022, tetapi tidak selalu mampu mendekati level yang mereka tunjukkan di Afrika Selatan.
Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi contoh paling jelas dari tantangan konsistensi itu. Ghana hanya bertahan di fase grup dan finis sebagai juru kunci Grup H, yang menunjukkan bahwa reputasi besar perlu dibarengi stabilitas hasil di lapangan.
Proyek baru bersama Otto Addo
Untuk membangun ulang fondasi, Ghana menunjuk Otto Addo sebagai pelatih pada Maret 2024. Sosok yang pernah membela Timnas Ghana di Piala Dunia 2006 itu dipercaya memimpin proyek kebangkitan The Black Stars.
Jalan Addo tidak sepenuhnya mulus karena Ghana sempat gagal lolos ke turnamen kontinental FIFA edisi 2025. Namun, respons mereka di kualifikasi CAF Grup I untuk Piala Dunia 2026 jauh lebih meyakinkan dan menunjukkan arah yang positif.
Modal kuat menuju turnamen berikutnya
Ghana tampil sangat solid di fase kualifikasi itu dengan sembilan kemenangan dari 10 pertandingan dan hanya sekali kalah. Catatan tersebut menempatkan mereka di puncak klasemen Grup I pada putaran ketiga dan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.
Meski demikian, tantangan yang menunggu tetap berat. Ghana akan berada di Grup L bersama Inggris, Kroasia, dan Panama, komposisi yang langsung menguji seberapa jauh kebangkitan mereka bisa bertahan di panggung dunia.
Source: bola.bisnis.com