LPG Masih Bergantung Impor, CNG Ditawarkan Sebagai Penekan Biaya Energi

Dorongan memperluas penggunaan CNG kembali menguat karena impor LPG masih sangat besar dan belum sejalan dengan kebutuhan energi dalam negeri. Di saat produksi gas nasional memiliki cadangan metana dan etana yang lebih melimpah, pemanfaatan gas kompresi itu dianggap bisa menjadi salah satu jalan untuk mengurangi tekanan impor.

Data yang muncul menunjukkan alasan kebijakan ini tidak bisa ditunda terlalu lama. Konsumsi LPG pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 1,56 juta metrik ton, dan 83,97 persen di antaranya atau sekitar 1,31 juta ton masih dipenuhi dari luar negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut impor LPG sudah menyentuh 7 juta ton per tahun. Kondisi tersebut terjadi karena bahan baku utama LPG, yakni propana dan butana, masih terbatas di Indonesia, sementara gas bumi nasional justru menyimpan pasokan yang lebih sesuai untuk dimanfaatkan di dalam negeri.

CNG sebagai opsi substitusi

Dalam penjelasannya, Bahlil menyebut CNG sebagai gas yang dikompresi pada tekanan tinggi, sekitar 250 sampai 400 bar. Pemanfaatannya dinilai dapat menjadi bahan bakar alternatif yang lebih cocok untuk memperkuat kemandirian energi, terutama ketika ketergantungan pada LPG impor masih tinggi.

Pemerintah saat ini masih berada pada tahap konsolidasi agar penggunaan CNG bisa berjalan lebih efektif. Pada saat yang sama, CNG dipandang membuka ruang substitusi impor karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri dan bisa dimanfaatkan lebih optimal oleh industri gas nasional.

Sektor industri jadi titik awal

Salah satu sasaran yang dinilai paling realistis untuk beralih lebih dulu adalah sektor industri. Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana, Hadi Ismoyo, menilai porsi LPG untuk industri relatif kecil dibanding total kebutuhan nasional, sehingga perpindahan pasokan lebih memungkinkan dilakukan bertahap.

Hadi menjelaskan bahwa LPG yang digunakan industri hanya sekitar 5 persen dari total kebutuhan nasional yang mencapai 8,7 juta ton per tahun. Dari porsi itu, volume yang berpotensi dialihkan ke CNG diperkirakan sekitar 0,4 juta ton.

Ia juga menilai CNG bisa memberi keunggulan biaya karena harga per satuan kalori dapat 20 persen sampai 30 persen lebih murah dibandingkan LPG. Menurut dia, peluang itu akan lebih besar jika distribusi didukung konektivitas jaringan pipa yang lebih baik dan pemasangan kompresor di titik-titik tertentu.

Kebutuhan gas masih jauh di bawah produksi

Dari sisi pasokan, ruang untuk memperluas pemakaian CNG masih dinilai cukup longgar. Hadi menyebut pengalihan 400.000 ton LPG industri setara dengan kebutuhan gas harian sekitar 50 sampai 60 MMSCFD.

Angka tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan produksi gas nasional yang sekitar 6.000 MMSCFD. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa kendala utama bukan pada ketersediaan gas semata, melainkan pada kesiapan infrastruktur agar distribusi dapat menjangkau pengguna akhir secara efisien.

Opsi lain tetap disiapkan

Selain CNG, pemerintah juga menyiapkan jalur lain untuk menekan ketergantungan terhadap energi dari luar negeri. Salah satu yang dikembangkan adalah hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter atau DME sebagai pengganti LPG.

Bahlil menegaskan proyek DME belum masuk tahap operasi penuh. Fasilitas tersebut masih berada pada fase awal karena pengerjaannya baru sampai groundbreaking.

Kondisi itu menunjukkan bahwa strategi energi tidak bertumpu pada satu pilihan saja. Pemerintah menyiapkan beberapa opsi agar kebutuhan rumah tangga dan industri tetap mendapat pasokan, sementara ketergantungan pada impor perlahan dikurangi melalui pemanfaatan sumber daya domestik yang lebih tersedia.

Baca Juga

Back to top button