Bagi pembeli perak batangan Antam, kenaikan harga terbaru langsung terasa di total dana yang harus disiapkan. Logam mulia ini kini berada di level Rp18.500 per gram berdasarkan data resmi Logam Mulia pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026.
Pergerakan tersebut membuat biaya masuk investor ikut terdorong naik dibandingkan transaksi pekan lalu. Di tengah minat yang masih kuat terhadap aset lindung nilai berbasis logam mulia, perubahan harga ini menjadi perhatian karena memengaruhi nominal pembelian sejak awal.
Dua pecahan utama ikut menyesuaikan
PT Aneka Tambang Tbk menjual perak murni dalam dua pecahan utama, yaitu 250 gram dan 500 gram. Harga per gram yang dipakai berlaku sama untuk seluruh produk perak yang diproduksi di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia.
Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga dasar per batang perak 250 gram tercatat Rp4.625.000. Sementara itu, pecahan 500 gram dibanderol Rp9.250.000.
Jika Pajak Penghasilan Pasal 22 ikut dihitung, harga perak 250 gram menjadi Rp4.636.563. Pecahan 500 gram pun naik menjadi Rp9.273.125.
Pajak membuat nominal akhir berbeda
Transaksi pembelian perak batangan mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku. Pembeli dengan Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP dikenakan PPh 22 sebesar 0,25 persen.
Bagi konsumen yang belum atau tidak menyertakan NPWP saat transaksi, potongan pajaknya lebih tinggi, yakni 0,5 persen. Perbedaan ini membuat total pembayaran bisa berubah meski pecahan yang dibeli sama.
Kondisi tersebut penting diperhatikan oleh investor yang ingin masuk ke perak fisik. Selisih pajak yang kecil tetap berpengaruh pada nominal akhir, terutama saat membeli pecahan yang lebih besar.
Dorongan pasar masih kuat
Kenaikan harga perak terjadi di tengah minat investasi emas dan perak yang tetap tinggi secara global. Pergerakan positif ini juga memutus periode kelesuan harga logam industri yang sempat terlihat pada beberapa pekan sebelumnya.
Harga perak sangat dipengaruhi dinamika pasar internasional. Sejumlah faktor yang terus dicermati pelaku pasar antara lain kebijakan suku bunga acuan The Fed, tingkat inflasi global, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Selain itu, permintaan perak dari sektor industri teknologi dan manufaktur global juga ikut memberi pengaruh. Ketidakpastian geopolitik di beberapa kawasan strategis menambah kekhawatiran pasar dan sering memicu aksi borong komoditas alternatif yang dianggap bisa menjadi penopang emas.
Masih bergerak fluktuatif
Pada triwulan kedua tahun ini, pergerakan perak batangan Antam tercatat cukup volatil. Di akhir April, harganya sempat turun tajam setelah aksi ambil untung besar-besaran oleh para manajer investasi institusional.
Memasuki pertengahan Mei, arah pasar berubah seiring meningkatnya serapan dari industri panel surya dan kendaraan listrik. Situasi itu membuat perak batangan menjadi salah satu instrumen dengan pertumbuhan nilai tercepat sepanjang pekan berjalan.
Sejumlah analis komoditas di pasar berjangka juga mulai menyusun proyeksi untuk perak murni. Sebagian pengamat menilai tren penguatan masih berpeluang berlanjut jika permintaan fisik dari sektor manufaktur Asia terus naik.
Seluruh aktivitas pencetakan dan distribusi perak murni Antam dipusatkan di Gedung Graha Dipta, Jalan Pemuda No. 1, Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Produk dari fasilitas tersebut disebut telah memiliki sertifikasi internasional yang diakui secara global.





