Ketertarikan pasar terhadap Hyperliquid memang sedang tinggi, tetapi justru di balik sorotan itu ada pertanyaan yang membuat sebagian investor memilih berhenti sejenak. Bursa terdesentralisasi ini melesat cepat, namun pertumbuhan yang impresif tidak otomatis menghapus keraguan soal struktur, keamanan, dan daya tahan bisnisnya.
Salah satu alasan utamanya adalah posisi Hyperliquid yang sudah masuk 10 besar aset kripto berdasarkan kapitalisasi pasar, meski baru meluncur pada November 2024. Volume perpetual futures-nya juga mendekati $200 miliar per bulan, sebuah angka yang menunjukkan seberapa cepat platform ini merebut minat trader.
Performa yang kuat belum tentu menenangkan semua investor
Di permukaan, Hyperliquid terlihat seperti pemenang baru di sektor DeFi. Platform ini menonjol karena menawarkan perdagangan perpetuals yang cepat dengan biaya transaksi yang kompetitif, dan pengalaman pengguna yang terasa mendekati bursa terpusat.
Ada pula fitur summary card yang memudahkan aktivitas trading dibagikan. Fitur ini ikut membantu pemasaran organik dari pengguna, sehingga visibilitas platform terdorong lebih jauh tanpa harus mengandalkan promosi besar-besaran.
Namun, daya tarik produk tidak menghapus tiga risiko besar yang masih membayangi. Ketiganya berkaitan dengan desentralisasi yang belum sepenuhnya meyakinkan, keamanan dan kepatuhan, serta apakah laju pertumbuhan ini sanggup bertahan.
Desentralisasi yang masih dipertanyakan
Secara teknis, Hyperliquid memang berjalan sebagai jaringan terdesentralisasi. Tetapi jumlah validator yang tercantum di situsnya hanya 30, angka yang jauh lebih kecil dibanding jaringan blockchain besar lain.
Sebagai pembanding, Ethereum memiliki sekitar 900.000 validator, Cardano mendekati 3.000 validator, dan Solana memiliki lebih dari 700. Perbedaan ini membuat sebagian pihak khawatir kendali masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil.
Keraguan itu makin kuat setelah tim Hyperliquid mengambil tindakan terhadap posisi short pada JELLY, sebuah meme coin berkapitalisasi kecil. Pada Maret 2025, seorang trader membuka posisi short JELLY lalu mendorong harga token itu naik di bursa terdesentralisasi lain.
Hyperliquid Liquidity Pool kemudian mengambil alih posisi short tersebut dan sempat menghadapi risiko kerugian besar, bahkan pernah turun $13,5 juta. Para validator akhirnya melakukan delisting manual terhadap JELLY dan menutup posisi di harga $0,0095, bukan pada harga pasar yang sudah melonjak ke $0,50.
Langkah itu memicu kontroversi karena banyak pelaku kripto memegang prinsip “code is law”. Bagi mereka, pembatalan transaksi yang sudah terjadi bertentangan dengan semangat utama ekosistem terdesentralisasi.
Privasi yang menarik, tetapi juga rawan sorotan regulator
Risiko berikutnya datang dari sisi keamanan dan kepatuhan. Hyperliquid tidak mewajibkan know-your-customer atau KYC, sehingga pengguna cukup menghubungkan dompet kripto dan menyetor USD Coin untuk mulai berdagang.
Model seperti ini jelas menarik bagi trader yang mengutamakan privasi. Di saat yang sama, model yang sama juga membuka ruang bagi aktivitas ilegal seperti pencucian uang.
Pada akhir 2024, analis on-chain menandai dompet yang terkait dengan peretas Korea Utara yang berdagang di Hyperliquid, dan hal itu sempat menekan harga lebih dari 18%. Pada 2025, polisi China juga dilaporkan menangani kasus pencucian uang kripto yang berkaitan dengan Hyperliquid.
Tanpa kewajiban KYC yang ketat, bursa seperti ini lebih mudah menjadi perhatian regulator. Sebagai respons, Hyperliquid mengumumkan investasi $29 juta ke Hyperliquid Policy Center untuk fokus pada jalur regulasi yang jelas bagi DeFi di AS.
Pertumbuhan pesat belum tentu bertahan lama
Masalah ketiga tidak datang dari produk atau teknologinya, melainkan dari pertanyaan yang lebih besar: apakah pertumbuhan secepat ini bisa dipertahankan. Sejarah pasar sering menunjukkan bahwa lonjakan besar tidak selalu diikuti oleh daya tahan jangka panjang.
Ada pandangan bahwa bursa terdesentralisasi kerap menikmati kenaikan singkat sebelum kesulitan menjaga momentum. Uniswap sering disebut sebagai salah satu contoh pola seperti itu.
Karena itu, kekuatan Hyperliquid belum otomatis menjamin bisnisnya akan terus berkembang dengan ritme yang sama. Di sinilah banyak investor memilih menahan diri, bukan karena tidak melihat potensinya, melainkan karena menilai risiko strukturalnya masih terlalu nyata.





