Lima Tuntutan Hizbullah Membayangi Gencatan Senjata, Dari Serangan Berhenti Sampai Rekonstruksi

Tawaran damai Hizbullah kepada Israel tidak berjalan sebagai ajakan tanpa batas. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, justru menegaskan bahwa penghentian konflik hanya bisa dibahas jika lima tuntutan utama dipenuhi, mulai dari berhentinya serangan hingga rekonstruksi wilayah yang rusak.

Pernyataan itu juga menutup ruang bagi negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel. Di tengah kembali bergeraknya diplomasi, termasuk dua putaran pembicaraan langsung di Washington dengan mediasi Amerika Serikat, Hizbullah tetap menyatakan tidak akan menyerahkan senjata dan akan melanjutkan “perlawanan defensif”.

Lima syarat yang dipasang Hizbullah

Qassem menempatkan berhentinya serangan sebagai syarat paling awal. Menurut dia, konflik tidak mungkin benar-benar berhenti selama serangan dari darat, laut, dan udara masih terus berlangsung, karena situasi seperti itu hanya mempertahankan ketegangan di lapangan.

Syarat berikutnya adalah penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki. Bagi Hizbullah, keberadaan pasukan di area itu merupakan salah satu sumber utama bentrokan yang terus berulang dan membuat keamanan tetap rapuh.

Selain itu, Hizbullah juga menuntut pembebasan tahanan. Isu pemulangan warga ke daerah asal turut masuk dalam daftar tuntutan yang dianggap penting untuk memulihkan keadaan di lapangan.

Pada bagian akhir, kelompok itu menekankan rekonstruksi sebagai unsur penyelesaian yang tidak boleh ditunda. Hizbullah memandang pemulihan wilayah yang terdampak perang harus menjadi bagian dari pembicaraan sejak awal, bukan dibahas setelah senjata berhenti.

Sikap terhadap pemerintah Lebanon

Di luar tuntutan kepada Israel, Qassem juga mengarahkan kritik ke pemerintah Lebanon. Ia menilai pemerintah tidak mewakili kepentingan rakyat jika mengabaikan hak-hak Lebanon dan membiarkan tanahnya diserahkan.

Qassem meminta pemerintah kembali berpegang pada konsensus nasional dalam Kesepakatan Taif. Menurutnya, pemerintahan semestinya mencerminkan kehendak rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Hizbullah melihat konflik ini bukan semata urusan militer. Bagi kelompok itu, arah politik domestik Lebanon juga menjadi bagian dari pertaruhan yang menentukan legitimasi pemerintah.

Dampak perang yang terus membesar

Data resmi Lebanon menunjukkan bahwa eskalasi konflik telah menimbulkan kerugian besar di dalam negeri. Lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 1,6 juta orang mengungsi sejak serangan Israel meningkat pada awal Maret.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa dampaknya tidak berhenti di garis pertempuran. Konflik itu juga memicu krisis pengungsian dan kerusakan sosial yang lebih luas, sehingga tekanan kemanusiaan terus meningkat.

Upaya meredakan situasi sudah beberapa kali dilakukan melalui gencatan senjata. Salah satunya berlangsung selama 10 hari yang diumumkan pada 17 April, tetapi pelanggaran di lapangan masih sering terjadi dan membuat kondisi tak kunjung stabil.

Situasi di lapangan masih tegang

Pada Kamis, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu setelah pembicaraan lanjutan di Washington. Namun, perkembangan di lapangan belum menunjukkan keadaan yang benar-benar tenang.

Hizbullah masih melancarkan serangan pesawat tak berawak ke pasukan Israel di Lebanon selatan dan Israel utara. Serangan itu disebut sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel.

Dengan begitu, lima tuntutan yang diajukan Hizbullah memperlihatkan bahwa kelompok itu ingin pembahasan damai mencakup seluruh aspek utama konflik. Selama serangan belum berhenti, pendudukan belum berakhir, tahanan belum dibebaskan, warga belum kembali, dan rekonstruksi belum masuk dalam solusi, ketegangan dengan Israel masih sulit mereda.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button