Keberadaan Instalasi Karantina Terpadu di Jawa Timur menjadi sinyal bahwa layanan perdagangan kini diarahkan agar lebih ringkas dan terpusat. Fasilitas yang berada di Jemundo Puspa Agro, Sidoarjo, itu menempatkan layanan karantina hewan, ikan, dan tumbuhan dalam satu kawasan, sehingga proses pemeriksaan dan pengawasan tidak lagi tersebar di banyak titik.
Langkah ini juga membuat karantina berada lebih dekat dengan aktivitas ekspor dan impor. Dengan seluruh layanan terkonsolidasi di lahan seluas lima hektare, alur pemeriksaan diharapkan menjadi lebih efektif dan efisien, sekaligus membantu menekan dwelling time dalam layanan perdagangan.
Peresmian instalasi tersebut dilakukan oleh Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Pada kesempatan itu, Karding menegaskan bahwa keberadaan badan karantina merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat perlindungan sumber daya alam hayati nasional.
Ia juga menjelaskan bahwa fungsi karantina kini tidak hanya berhenti pada pencegahan hama dan penyakit. Pengawasan yang dijalankan turut mencakup keamanan pangan, produk rekayasa genetik, sumber daya genetik, agensia hayati, jenis asing invasif, serta tumbuhan dan satwa liar maupun langka.
Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam penyediaan lahan juga mendapat apresiasi. Menurut Karding, penggabungan layanan dalam satu kawasan membuat barang yang diuji dan dikarantina bisa diproses tanpa berbelit, sehingga layanan perdagangan menjadi lebih terhubung.
Dorongan untuk arus ekspor
Di saat yang sama, Jawa Timur juga melepas sejumlah komoditas ekspor unggulan. Salah satu yang menonjol adalah frozen yellowfin tuna seberat 19.906,46 kilogram dengan tujuan Amerika Serikat.
Komoditas itu berasal dari Koperasi Produsen Pondok Pesantren Al-Ishlah dan PT Citra Raja Ampat Canning. Selain itu, turut dilepas ekspor bahan baku pakan ternak milik PT Charoen Pokphand Indonesia ke Timor Leste.
Rangkaian pelepasan ekspor tersebut memperlihatkan bagaimana fasilitas karantina baru ini diposisikan bukan hanya sebagai tempat pemeriksaan, tetapi juga sebagai simpul yang mendekatkan layanan pengawasan dengan aktivitas perdagangan. Dengan model seperti ini, proses ekspor-impor diharapkan berjalan lebih singkat dan lebih lancar.
Pemerintah menilai penguatan layanan terpadu semacam ini penting bagi Jawa Timur yang memiliki aktivitas perdagangan besar. Di sisi lain, kehadiran instalasi tersebut tetap diarahkan untuk menjaga perlindungan sumber daya hayati nasional agar pengawasan tetap berjalan seiring dengan kelancaran arus barang.
Source: www.jawapos.com




