Kinerja PT Astra Otoparts Tbk pada kuartal I-2026 menunjukkan bahwa bisnis komponen otomotif masih mampu bertahan di tengah tekanan pasar. Perusahaan membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 558,9 miliar, naik 10,6 persen dibanding Rp 505,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba itu sejalan dengan kenaikan pendapatan menjadi Rp 5,3 triliun. Secara tahunan, pendapatan Astra Otoparts juga naik 7,4 persen, menandakan permintaan di bisnis komponen tetap bergerak stabil meski industri otomotif nasional menghadapi tantangan.
Dua lini usaha sama-sama bergerak positif
Kontributor utama kinerja perusahaan datang dari segmen manufaktur dan perdagangan yang sama-sama mencatat pertumbuhan. Komposisi ini membuat pendapatan Astra Otoparts tidak bergantung pada satu sumber saja, melainkan tersebar pada aktivitas produksi dan distribusi.
Presiden Direktur Astra Otoparts, Yusak Kristian Solaeman, menilai perseroan memulai 2026 dengan kinerja yang resilien. Ia menekankan bahwa kekuatan bisnis perusahaan ditopang oleh keseimbangan kontribusi dua segmen tersebut, baik di pasar domestik maupun ekspor.
Manufaktur tetap menjadi penopang terbesar
Dari sisi operasi, segmen manufaktur mencatat pendapatan Rp 2,7 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pelanggan original equipment manufacturer atau OEM di sektor kendaraan roda dua.
Astra Otoparts juga mulai memperluas fokus ke arah komponen kendaraan listrik. Salah satu langkah yang dijalankan adalah produksi mesin pengisi daya baterai bermerek ALTRO, yang menunjukkan penyesuaian perusahaan terhadap arah perubahan industri otomotif.
Kehadiran produk tersebut memperlihatkan bahwa lini manufaktur tidak hanya menjaga bisnis inti yang sudah ada, tetapi juga merespons pergeseran teknologi kendaraan. Langkah ini menjadi penting agar perusahaan tetap relevan ketika kebutuhan pasar bergerak ke elektrifikasi.
Perdagangan mendapat dorongan dari momentum Lebaran
Segmen perdagangan mencatat laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding manufaktur, dengan kenaikan 13,1 persen dan pendapatan Rp 2,6 triliun. Salah satu penopang utamanya datang dari momentum libur Lebaran pada Maret 2026, ketika aktivitas servis kendaraan dan penggantian suku cadang meningkat.
Kondisi itu menunjukkan bahwa kebutuhan perawatan kendaraan tetap kuat dan menjadi sumber permintaan penting bagi bisnis purnajual. Jaringan ritel modern Astra Otoparts ikut memanfaatkan tingginya aktivitas konsumen pada periode tersebut.
Hingga kini, perseroan mengelola 659 gerai ritel modern di Indonesia. Jaringan ini mencakup Shop & Drive dan Astra Otoservice yang berperan mendukung penjualan suku cadang sekaligus layanan kendaraan.
Posisi keuangan ikut menguat
Di luar kenaikan laba dan pendapatan, struktur keuangan perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Total aset Astra Otoparts tercatat Rp 23,6 triliun, naik 4,2 persen, sedangkan ekuitas meningkat 3,1 persen menjadi Rp 17,5 triliun.
Pergerakan tersebut memberi sinyal bahwa pertumbuhan usaha berjalan seiring dengan penguatan fondasi keuangan. Bagi pemangku kepentingan, kondisi itu penting karena memperlihatkan perusahaan mampu menjaga ekspansi tanpa mengabaikan stabilitas.
Astra Otoparts juga memperluas keterlibatannya dalam ekosistem kendaraan listrik lewat infrastruktur pengisian daya. Astra Otopower kini tersedia 69 unit di 59 lokasi, sehingga menambah lapisan bisnis yang mendukung arah baru mobilitas.
Dengan laba yang naik, pendapatan yang bertambah, dan dua segmen usaha yang sama-sama aktif, Astra Otoparts memasuki periode berikutnya dengan posisi yang lebih kuat. Kinerja kuartal I-2026 menunjukkan perusahaan masih memiliki ruang untuk beradaptasi di tengah perubahan pasar otomotif yang terus berlangsung.





