Rencana AIFF untuk mengunci hak komersial liga jangka panjang kini memicu penolakan terbuka dari lima klub Liga Super India. Mereka menilai keputusan sebesar itu tidak pantas diambil saat masa depan kompetisi sendiri masih belum jelas.
Sikap tersebut muncul karena klub-klub masih menghadapi ketidakpastian yang diwariskan dari musim sebelumnya. Hubungan antara AIFF dan mitra dewan, Football Sports Development Limited (FSDL), sempat terganggu oleh perselisihan kontrak, dan situasi itu membuat banyak aspek operasional liga belum punya kepastian yang kuat.
Tekanan dari lima klub
Kelima klub menyampaikan keberatan mereka melalui pernyataan bersama di Instagram. Isi pernyataan itu menunjukkan kekecewaan terhadap kondisi sepak bola profesional di India, sekaligus membuka kemungkinan untuk meninjau ulang komitmen mereka terhadap liga setelah musim berjalan saat ini.
Mereka menegaskan bahwa klub-klub sudah terus berinvestasi meski situasi operasional tetap sulit. Bagi mereka, masalahnya bukan hanya soal biaya, melainkan juga soal struktur kompetisi dan arah liga yang belum terang.
Klub-klub itu juga menyoroti bahwa pengelola liga belum memberi kejelasan finansial yang cukup. Di sisi lain, mereka tetap diminta menjalankan operasi kompetitif dengan beban besar, padahal fondasi yang mereka butuhkan belum terlihat solid.
Sorotan ke arah keputusan sponsor
Kekhawatiran itu semakin menguat karena AIFF disebut condong memilih perusahaan asal Inggris, Genius Sports, untuk memegang hak komersial selama 15 hingga 20 tahun ke depan. Nilai tawarannya disebut mencapai Rp64,4 crore per tahun.
Lima klub menilai langkah tersebut terlalu mengikat jika diambil saat masa depan liga masih dalam tanda tanya. Karena itu, mereka meminta AIFF tidak langsung mengesahkan keputusan yang sifatnya final dalam Sidang Umum Khusus yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Melalui surat elektronik 13 poin kepada Presiden AIFF Kalyan Chaubey dan Wakil Sekretaris Jenderal M Satyanarayan, CEO FC Goa Ravi Puskur mewakili klub-klub meminta kesepakatan itu ditangguhkan. Ia juga menyampaikan bahwa klub-klub masih bersedia melanjutkan pembicaraan dengan AIFF dan Genius Sports.
Dampak yang terasa di luar ruang rapat
Ketidakpastian ini tidak berhenti pada urusan tata kelola. Negosiasi kontrak pemain dan staf pelatih untuk musim depan ikut terdampak karena klub belum mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang arah liga.
Seorang CEO klub yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Hindustan Times bahwa para pemilik klub paham mustahil mencapai titik impas. Namun, mereka setidaknya ingin melihat tanda bahwa masa depan liga memiliki kepastian yang bisa diandalkan.
Situasi semacam itu membuat keputusan investasi semakin sulit dijustifikasi. Ketika struktur kompetisi belum terang, klub harus tetap menanggung operasi yang berat sambil menunggu kepastian yang belum hadir.
Desakan agar AIFF membuka ruang yang lebih luas
Dalam pernyataannya, klub-klub juga mengkritik lambannya respons otoritas sepak bola India dalam menata ekosistem liga yang banyak bergantung pada investor swasta. Mereka menilai pihak yang membangun, membiayai, mempromosikan, dan menopang liga justru dibiarkan menanggung ketidakpastian atas kerangka kerja yang harus mereka jalankan.
Meski kritis, klub-klub itu tetap mendorong pendekatan yang lebih terbuka. Mereka mengajukan model alternatif yang mereka anggap lebih inklusif dan berkelanjutan, lalu meminta AIFF menilai proposal itu secara setara dengan proposal lain yang masuk.
Mereka menekankan bahwa sepak bola India seharusnya bisa tumbuh lebih besar dari kondisi sekarang. Tetapi selama kejelasan finansial dan struktur liga belum muncul, masa depan komitmen klub-klub terhadap kompetisi itu akan terus berada di bawah bayang-bayang pertanyaan.