Pagi di Jawa Tengah dan wilayah sekitarnya pada Minggu, 10 Mei 2026, diperkirakan tidak sepenuhnya cerah. BMKG memprakirakan langit akan didominasi berawan hingga udara kabur, terutama pada jam-jam awal ketika jarak pandang di sejumlah titik dapat menurun.
Kondisi itu perlu menjadi perhatian bagi warga yang harus bepergian sejak pagi. Kabut tipis atau asap halus berpotensi muncul di jalur perbukitan dan dataran tinggi, sehingga pengendara disarankan lebih waspada saat melintas.
Situasi udara kabur ini sejalan dengan masuknya musim kemarau yang mulai menguat di Jawa Tengah. Pada periode Mei, sekitar 52 persen wilayah provinsi tersebut sudah memasuki musim kemarau penuh menurut Stasiun Klimatologi Jawa Tengah.
BMKG menjelaskan bahwa udara kabur lebih mudah terjadi ketika partikel kering melayang di atmosfer saat curah hujan menurun. Saat hujan tidak cukup untuk membersihkan polutan di udara, kualitas udara pagi hari dapat terasa lebih rendah dari biasanya.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian juga tertuju pada kenyamanan dan kesehatan pernapasan. Karena itu, penggunaan masker disarankan bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari.
Variasi cuaca tidak terjadi merata di seluruh wilayah. Semarang dan sekitarnya diprakirakan tetap cerah berawan, sementara beberapa kawasan dataran tinggi berpeluang mengalami penurunan jarak pandang yang lebih terasa.
Di wilayah sekitar Jawa Tengah bagian selatan, data titik pantau menunjukkan perbedaan kondisi yang cukup jelas. Kulon Progo diprakirakan berawan, sedangkan Bantul dan Gunungkidul berpotensi mengalami udara kabur.
Kota Yogyakarta diprediksi cerah berawan, sementara Sleman diprakirakan berawan. Untuk Kulon Progo, suhu berada pada kisaran 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 66–98 persen.
Bantul diperkirakan memiliki suhu 22 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan 63–99 persen. Gunungkidul berada pada suhu 22 hingga 31 derajat Celsius dengan kondisi asap atau udara kabur, sedangkan Kota Yogyakarta diprediksi 23 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan 57–98 persen.
Sleman diperkirakan berada pada rentang 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 59–97 persen. Di beberapa wilayah, suhu udara juga dapat mencapai 32 derajat Celsius, sehingga warga tetap perlu menjaga hidrasi tubuh.
BMKG menyebut iklim 2026 diperkirakan berada pada kondisi normal, tanpa pengaruh kuat La Nina maupun El Nino. Dalam pola seperti itu, durasi kemarau rata-rata di Jawa Tengah berlangsung sekitar 4 hingga 5 bulan, meski di sejumlah daerah bisa mencapai 7 bulan.
Tidak semua wilayah memasuki kemarau pada waktu yang sama. Sekitar 28 persen wilayah disebut baru akan mulai memasuki musim kemarau pada Juni, sehingga tingkat kekeringan dan penurunan suplai air tidak akan seragam antardaerah.
Dampaknya juga mulai dirasakan sektor pertanian, terutama pada ketersediaan air irigasi. Petani di Jawa Tengah bagian tengah dan timur diminta mewaspadai penurunan suplai air ketika musim kering semakin menguat.
Warga juga diminta mulai menyimpan cadangan air dan menggunakan air bersih secara efisien. Selain itu, pembakaran sampah di lahan terbuka sebaiknya dikurangi karena dapat memperburuk polusi yang ikut memengaruhi kondisi udara kabur pada pagi hari.
Source: www.babelinsight.id




