Kebutuhan susu di Jawa Timur bergerak lebih cepat daripada kemampuan produksinya. Selisih yang masih mencapai sekitar 600 ton per hari membuat pemerintah provinsi memilih mempercepat penambahan sapi perah lewat kerja sama dengan swasta.
Langkah itu tidak hanya diarahkan ke perusahaan besar, tetapi juga ke peternak lokal melalui skema kemitraan. Model ini dipakai agar penambahan populasi sapi perah bisa memberi dampak yang lebih luas di lapangan.
Permintaan terus naik
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Indyah Aryani menyebut produksi susu segar di daerah tersebut saat ini berada di kisaran 1.300 hingga 1.400 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan industri pengolahan susu sudah menyentuh sekitar 2.000 ton per hari.
Kesenjangan itu menjelaskan mengapa Jawa Timur, meski dikenal sebagai sentra susu nasional, masih harus terus mengejar pasokan. Dengan kondisi tersebut, penambahan populasi sapi perah tetap menjadi kebutuhan mendesak.
Indyah menilai permintaan susu akan terus terdorong oleh pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Susu dan telur kini semakin rutin masuk konsumsi harian, setelah dulu kerap dianggap mahal dan hanya hadir pada momen tertentu.
Tekanan tambahan dari program pemerintah
Kebutuhan susu segar juga mendapat dorongan baru dari program Makan Bergizi Gratis. Menurut Indyah, program pemerintah pusat itu ikut menaikkan kebutuhan protein susu dalam jumlah yang lebih besar.
Situasi ini membuat pasokan tidak bisa hanya bergantung pada kemampuan anggaran daerah. Karena itu, Pemprov Jawa Timur memperkuat kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan sektor swasta untuk mempercepat penambahan populasi sapi perah.
Di lapangan, Jawa Timur saat ini memiliki sekitar 300.000 sapi perah. Jumlah itu setara hampir 60 persen dari total populasi sapi perah nasional yang sekitar 500.000 ekor.
Skema kemitraan untuk impor sapi
Sejumlah perusahaan swasta sudah lebih dulu terlibat dalam impor sapi perah. PT Greenfields disebut telah mengimpor 1.200 ekor sapi perah pada tahun lalu, sedangkan PT Rojokoyo di Banyuwangi sekitar 700 ekor.
Untuk tahun ini, Indyah menyebut ada rencana impor tambahan sekitar 1.500 ekor sapi perah dari Australia. Bedanya, sapi-sapi itu tidak hanya akan dikelola perusahaan besar, tetapi juga dipelihara peternak lokal melalui pola kemitraan.
Skema yang dipakai adalah inti plasma, yakni kerja sama antara perusahaan besar dan peternak rakyat. Pemerintah berharap pola ini membuka transfer pengetahuan sekaligus memperkuat usaha peternak di berbagai wilayah Jawa Timur.
Manfaat yang diharapkan menyebar
Pemprov Jawa Timur menilai penambahan sapi perah tidak cukup jika berhenti pada proses impor. Karena itu, pelibatan peternak lokal dianggap penting agar manfaatnya tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
Pendekatan tersebut juga dipandang sebagai jalan yang lebih cepat untuk menutup defisit susu yang masih besar. Di sisi lain, kebutuhan industri pengolahan susu yang terus tinggi membuat provinsi ini harus mencari solusi yang lebih agresif dan berlapis.
Kombinasi antara impor sapi perah, kemitraan swasta, dan penguatan peternak lokal kini menjadi andalan Jawa Timur. Cara itu diharapkan mampu mengejar kekurangan pasokan yang masih bertahan di level ratusan ton per hari.
Source: surabaya.bisnis.com




