Bagi jutaan warga Jepang, musim semi tidak lagi identik dengan udara segar, tetapi dengan mata gatal, hidung tersumbat, dan tidur yang terganggu. Gangguan ini datang dari kafunsho, alergi serbuk sari yang setiap Februari hingga April berubah menjadi masalah kesehatan luas di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Nagoya.
Dampaknya kini terasa jauh melampaui ketidaknyamanan musiman. Sejumlah laporan di Jepang menyebut sekitar 40% hingga lebih dari 50% penduduk mengalami alergi serbuk sari, sedangkan pada akhir 1990-an angkanya masih di bawah 20%.
Sumber utama keluhan itu datang dari serbuk sari pohon cedar Jepang atau sugi, serta pohon hinoki cypress. Saat musim berbunga tiba, partikel kecil itu menyebar lewat udara dan memicu reaksi berlebihan pada sistem kekebalan tubuh.
Warisan kebijakan yang tak selesai
Akar persoalan kafunsho berhubungan langsung dengan kebijakan reboisasi pascaperang. Pemerintah Jepang memulai penanaman besar-besaran sejak era 1950-an untuk memenuhi kebutuhan kayu pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi.
Cedar dan hinoki dipilih karena tumbuh cepat dan bernilai tinggi. Jutaan hektare lahan kemudian ditanami dua jenis pohon itu dalam waktu singkat.
Masalah muncul ketika kayu impor murah masuk dan industri kayu domestik melemah. Banyak hutan cedar akhirnya tidak lagi dikelola secara aktif, sehingga pohon-pohonnya terus bertumbuh hingga tua tanpa penebangan teratur.
Pohon cedar yang berusia lebih dari 30 tahun dapat menghasilkan serbuk sari dalam jumlah sangat besar. Kini Jepang memiliki jutaan hektare hutan sumber alergi yang terus melepaskan partikel ke udara setiap musim semi.
Serbuk sari yang sampai ke kota
Ketika pohon cedar dewasa melepaskan serbuk sari, angin dapat membawanya hingga ratusan kilometer. Kondisi geografis Jepang yang bergunung-gunung dan padat penduduk membuat penyebaran itu cepat mencapai wilayah metropolitan.
Karena itu, warga di kota besar tidak hanya berhadapan dengan serbuk sari dari lingkungan sekitar. Awan kuning dari pegunungan kerap terlihat di media sosial Jepang, dan tampilannya sering menyerupai asap kebakaran.
Fenomena tersebut berasal dari ledakan serbuk sari yang dilepaskan hutan cedar tua yang sudah menumpuk selama puluhan tahun. Musim panas ekstrem juga ikut memperburuk keadaan karena dapat memicu pembentukan bunga jantan yang lebih banyak pada pohon cedar.
Akibatnya, produksi serbuk sari pada musim berikutnya ikut meningkat. Kondisi ini membuat musim alergi menjadi lebih berat dan lebih panjang bagi banyak orang.
Beban kesehatan dan ekonomi
Kafunsho kini dipandang sebagai persoalan kesehatan nasional di Jepang. Laporan BBC memperkirakan sekitar 43% penduduk mengalami gejala sedang hingga berat, lebih tinggi dibanding Inggris yang berada di kisaran 26% dan Amerika Serikat sekitar 12% hingga 18%.
Gejalanya mengganggu aktivitas harian dan kualitas hidup. Warga banyak mengeluhkan bersin, mata gatal, hidung tersumbat, serta gangguan tidur yang membuat konsentrasi menurun.
Dampaknya menjalar ke dunia kerja. Pada puncak musim demam serbuk sari, kerugian akibat hari kerja yang hilang dan turunnya aktivitas konsumsi diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,6 miliar per hari.
World Economic Forum juga menyebut Jepang menanggung kerugian produktivitas hingga miliaran dolar akibat gangguan alergi musiman. Banyak pekerja kehilangan fokus, merasa lelah karena tidur tidak nyenyak, dan bekerja dengan performa yang melemah.
Sekolah dan kampus ikut terdampak, terutama karena musim serbuk sari kerap bertepatan dengan ujian masuk yang penting. Banyak pelajar harus mengikuti ujian dalam kondisi mata merah, hidung tersumbat, dan sulit berkonsentrasi.
Upaya yang masih berjalan lambat
Pemerintah Jepang sudah mulai mengurangi pohon cedar penghasil serbuk sari dan menggantinya dengan varietas rendah serbuk sari. Namun langkah ini berjalan pelan karena luas hutan cedar sangat besar dan pengelolaannya juga harus mempertimbangkan ekologi serta kebutuhan industri kayu domestik.
Kendala lain datang dari kekurangan tenaga kerja dan penurunan populasi di banyak daerah pedesaan. Penggantian hutan membutuhkan biaya besar dan waktu panjang, sehingga hasil nyata tidak bisa dirasakan cepat.
Sejumlah langkah pendukung juga dijalankan, termasuk pemanfaatan aplikasi cuaca dan sistem digital untuk memantau penyebaran serbuk sari. Di bidang kesehatan, akses terapi imun alergi dan pengobatan modern diperluas agar penderita dapat mengendalikan gejala yang makin berat dari tahun ke tahun.
Meski begitu, warisan hutan cedar yang terbentuk selama puluhan tahun masih mendominasi lanskap. Karena itu, setiap musim semi warga Jepang tetap harus menghadapi kabut serbuk sari yang kini berubah dari keputusan kehutanan pascaperang menjadi krisis kesehatan nasional.
Source: www.beritasatu.com




