Kekhawatiran soal hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius tidak berkembang ke arah yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia menilai pola kasus ini masih sangat terbatas sehingga risiko munculnya epidemi besar tetap rendah.
Penilaian itu penting karena kasus di kapal pesiar sering memunculkan kekhawatiran penyebaran lintas negara. Namun, WHO melihat situasi kali ini berbeda dari wabah pernapasan yang menyebar cepat di ruang publik karena penularannya terjadi dalam lingkungan yang spesifik dan mudah diawasi.
Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, menyebut pihaknya tidak melihat tanda bahwa kasus ini akan memicu rantai penularan di luar kasus yang sudah ditemukan. Menurut dia, kondisi di kapal pesiar justru membuat pemantauan lebih terarah.
Sejauh ini, WHO menyebut ada lima kasus yang telah dikonfirmasi terkait virus Andes. Virus ini merupakan salah satu strain hantavirus yang dalam kasus langka dapat menular antarmanusia.
Konfirmasi itu dilakukan lewat pengujian di Afrika Selatan dan Swiss setelah kasus terdeteksi di kapal pesiar tersebut. WHO menekankan bahwa pasien yang terinfeksi harus diisolasi agar penularan tidak meluas.
Mahamud juga menjelaskan bahwa orang yang terpapar perlu menjalani pemantauan aktif hingga 42 hari. Penerapan langkah ini dapat berbeda di tiap negara, karena sebagian negara bisa memilih karantina institusional sementara negara lain memakai pemantauan kesehatan harian oleh petugas kesehatan.
Bukan pola seperti Covid-19
Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi, Maria Van Kerkhove, menegaskan kasus ini tidak bisa disamakan dengan awal pandemi Covid-19. Ia menekankan bahwa pola penyebarannya berbeda dan tidak menunjukkan karakter seperti virus corona.
WHO menjelaskan sebagian besar hantavirus ditularkan melalui hewan pengerat. Penularan dapat terjadi lewat air liur, urine, atau kotoran hewan tersebut, sedangkan penularan antarmanusia tergolong jarang.
Karakter penularan itu membuat penanganan kasus ini lebih bertumpu pada pengawasan kontak erat dan isolasi. Pendekatan tersebut dinilai lebih tepat dibanding pola penanganan wabah pernapasan yang menyebar cepat di ruang umum.
Koordinasi lintas negara tetap dijalankan
Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan WHO sudah memberi tahu 12 negara yang warganya berada di kapal pesiar itu dan sebelumnya turun di Saint Helena. Negara-negara tersebut adalah Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turkiye, Inggris, dan Amerika Serikat.
Ia juga menyampaikan bahwa dua kasus pertama yang dikonfirmasi sempat bepergian melalui Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum naik kapal. Keduanya disebut pernah mengunjungi lokasi pengamatan burung yang diketahui memiliki tikus pembawa virus Andes.
Kondisi itu membuat penelusuran kontak menjadi lebih luas, tetapi WHO tetap menilai risiko penyebaran hantavirus secara umum masih rendah. Fokus utama lembaga tersebut saat ini adalah memastikan koordinasi antarnegara berjalan baik agar kasus baru tidak terlewat.
Kapal pesiar itu kini berlayar menuju Kepulauan Canary setelah memperoleh izin dari Spanyol. WHO menilai risiko penyebaran hantavirus, termasuk ke wilayah tersebut, tetap relatif rendah selama isolasi kasus dan pemantauan kontak erat terus dilakukan.
Source: www.medcom.id




