Juni Mulai Mengeringkan Jawa Tengah, Puncak Kemarau Terluas Justru Datang Agustus

Puncak kemarau di Jawa Tengah tidak datang serentak, melainkan bergerak bertahap dari Juli hingga September 2026. Pola itu menjadi sorotan karena bertepatan dengan aktifnya El Nino yang diperkirakan mulai memengaruhi Indonesia pada Juni, sehingga kondisi kering berpotensi terasa lebih berat dari biasanya.

Bagi Jawa Tengah, fase yang paling perlu diperhatikan justru ada di pertengahan kemarau. BMKG mencatat sebagian besar wilayah provinsi ini akan mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026, saat El Nino mulai memberi tekanan tambahan pada musim kering.

Wilayah terluas masuk puncak pada Agustus

Pada Agustus 2026, cakupan wilayah yang berada di puncak kemarau menjadi sangat luas. Daerah yang masuk fase ini meliputi Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Magelang, Kabupaten Brebes, Tegal, Kendal, Semarang, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Pada waktu yang sama, sebagian besar wilayah Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri juga diperkirakan berada pada fase paling kering. Selain itu, sebagian wilayah Demak, Sragen, dan Karanganyar serta sebagian kecil Kudus dan Blora ikut masuk daftar tersebut.

Luasan zona musim untuk puncak kemarau Agustus tercatat mencapai 83,3 persen. Angka itu menunjukkan bahwa mayoritas Jawa Tengah akan menghadapi fase paling kering justru pada pertengahan musim kemarau.

Ada wilayah yang lebih dulu mengering

Sebelum Agustus, puncak kemarau sudah lebih dulu muncul di sejumlah wilayah pada Juli 2026. Kota Surakarta termasuk dalam daftar ini, bersama sebagian besar Kabupaten Kudus, sebagian besar Kabupaten Blora, dan sebagian wilayah Kabupaten Demak, Sragen, Karanganyar, serta Sukoharjo.

Sejumlah wilayah kecil di Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri juga tercatat mencapai puncak kemarau pada bulan yang sama. Luasan zona musim untuk puncak kemarau Juli berada di angka 14,8 persen, sehingga masih ada bagian Jawa Tengah yang mengalami fase kering lebih awal daripada wilayah lainnya.

Karimunjawa menjadi yang terakhir

Di sisi lain, September 2026 hanya menyisakan Kepulauan Karimunjawa sebagai wilayah yang masih berada di puncak kemarau. Luasan zona musim pada periode itu tercatat 1,9 persen, menandakan fase paling kering hampir berakhir di sebagian besar Jawa Tengah.

Peta waktu tersebut memperlihatkan bahwa puncak kemarau di provinsi ini bergerak dari wilayah tertentu pada Juli, meluas tajam pada Agustus, lalu tersisa sangat kecil pada September. Urutan itu membuat pertengahan hingga akhir musim kering menjadi periode yang paling sensitif untuk dicermati.

Durasi kemarau juga cenderung lebih panjang

Selain soal waktu puncak, lama musim kemarau di Jawa Tengah tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari kondisi normal. Berdasarkan Buletin Musim Kemarau 2026 dari Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, durasinya diproyeksikan berlangsung 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima sampai enam bulan.

Di sebagian wilayah Kabupaten Pati dan Rembang, musim kemarau bahkan diperkirakan mencapai 25 hingga 27 dasarian atau sekitar delapan sampai sembilan bulan. BMKG juga mencatat panjang musim kemarau tahun ini umumnya lebih lama satu hingga tiga dasarian dibanding kondisi klimatologis normal.

El Nino mulai aktif pada Juni

Tekanan tambahan pada musim kering datang dari El Nino yang diperkirakan aktif mulai Juni. BMKG menyebut fenomena iklim global yang muncul berkala setiap tiga sampai tujuh tahun sekali itu berintensitas sedang hingga kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan fase El Nino tahun ini kemungkinan berlangsung sampai Maret hingga Mei 2027 dengan intensitas moderate hingga kuat. Ketika bertepatan dengan periode kering di Indonesia, El Nino dapat memperparah musim kemarau dan membuatnya lebih panjang serta lebih kering dari biasanya.

Dampak yang paling mungkin terasa meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Karena itu, jadwal puncak kemarau di Jawa Tengah pada Juli hingga September menjadi informasi penting untuk memantau risiko cuaca yang lebih kering selama pertengahan 2026.

Source: regional.kompas.com

Baca Juga

Back to top button