Penguatan desa di Sulawesi Tengah kembali menjadi sorotan ketika Komisi III DPRD Sulteng menengok langsung praktik pembangunan desa mandiri di Jawa Barat. Langkah ini ditempuh untuk mencari pola yang tidak hanya menarik di atas kertas, tetapi juga punya peluang diterapkan sesuai kebutuhan desa-desa di Sulteng.
Ketua Komisi III, Dandy, menilai kunjungan kerja tersebut penting agar pembahasan tentang desa mandiri tidak berhenti pada konsep. Yang dicari adalah contoh nyata dari program unggulan yang berjalan di lapangan dan memberi hasil yang bisa bertahan.
Membaca cara kerja pemberdayaan di daerah lain
Dalam kunjungan itu, perhatian Komisi III tidak hanya tertuju pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang membentuknya. Pemerintah daerah di Jawa Barat dipelajari dari cara mereka membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat desa secara terarah.
Pendekatan seperti itu dinilai relevan karena setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Bagi Sulteng, pengalaman Jawa Barat dapat menjadi bahan pembanding sebelum merumuskan kebijakan yang lebih pas dengan kondisi masing-masing desa.
Pemberdayaan warga jadi inti pembahasan
Dari berbagai aspek yang dipelajari, pemberdayaan masyarakat muncul sebagai unsur yang paling penting. Program desa mandiri yang diamati diarahkan agar warga desa lebih aktif mengelola potensi sendiri dan tidak hanya bergantung pada bantuan.
Sudut pandang ini dianggap sejalan dengan fungsi desa sebagai fondasi pembangunan daerah. Ketika kapasitas masyarakat naik, ruang ekonomi di tingkat lokal juga ikut terbuka lebih luas.
Program unggulan yang dinilai menarik untuk dikaji
Dandy menyebut berbagai program di Jawa Barat menarik karena menyentuh kebutuhan warga desa secara langsung. Pola yang berangkat dari kebutuhan lapangan dipandang lebih relevan untuk membangun desa yang kuat dan punya daya saing.
Komisi III DPRD Sulteng juga mencermati bagaimana program unggulan disusun agar hasilnya tetap bertahan. Aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama karena desa mandiri tidak cukup dibangun melalui kegiatan sesaat.
Masukan untuk arah kebijakan di Sulteng
Hasil pembelajaran lintas daerah ini diposisikan sebagai masukan penting bagi pembahasan kebijakan di Sulawesi Tengah. Referensi dari Jawa Barat diharapkan memberi gambaran yang lebih konkret saat Komisi III membicarakan pengembangan program di daerah sendiri.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa penguatan desa masih menempati posisi penting dalam agenda pembangunan Sulteng. Referensi itu bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk dilihat bagian mana yang bisa diadaptasi tanpa mengabaikan karakter lokal.
Desa mandiri bukan sekadar label
Bagi Sulawesi Tengah, desa mandiri dipahami sebagai kemampuan masyarakat mengelola potensi yang dimiliki secara lebih mandiri. Karena itu, pengalaman dari Jawa Barat dianggap berguna untuk menyusun program pemberdayaan yang lebih efektif dan lebih dekat dengan kebutuhan warga desa.
Komisi III DPRD Sulteng berharap pembelajaran ini membantu merancang langkah yang lebih tepat sasaran. Dengan melihat praktik yang sudah berjalan, pembahasan desa mandiri di daerah itu memperoleh dasar yang lebih kuat untuk dikembangkan lebih lanjut.
Source: netiz.id