Israel Kucurkan Rp 11,6 Triliun Untuk Hasbara, Tanda Tekanan Citra Dunia Kian Menguat

Israel kini menempatkan perang citra sebagai salah satu arena paling penting di tengah tekanan internasional yang kian melebar. Pemerintahnya menyiapkan dana sangat besar untuk Hasbara, direktorat diplomasi publik nasional yang bertugas mengangkat kembali posisi Israel di mata dunia.

Dalam anggaran nasional yang disahkan pada Maret 2026, Israel mengalokasikan US$ 730 juta atau sekitar Rp 11,6 triliun untuk lembaga itu. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding alokasi tahun sebelumnya yang hanya US$ 150 juta.

Tekanan dari luar makin berat

Lonjakan anggaran itu muncul ketika Israel menghadapi tekanan yang tidak lagi sebatas kritik politik. Di tingkat hukum internasional, negara itu sedang disorot Mahkamah Internasional atau ICJ atas tuduhan genosida di Gaza, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional atau ICC atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Situasi itu membuat kebutuhan untuk mengelola opini publik menjadi semakin mendesak. Bagi pemerintah Israel, persoalan citra kini bergerak seiring dengan tekanan hukum, diplomatik, dan politik yang datang hampir bersamaan.

Sekutu dekat ikut berubah sikap

Tekanan terhadap Israel tidak hanya datang dari lawan-lawan politiknya. Sekutu yang selama ini menjadi penopang penting juga menunjukkan pergeseran sikap, termasuk Amerika Serikat yang kerap disebut sebagai mitra terpenting Israel.

Jajak pendapat Pew Research Center menunjukkan sekitar 60 persen warga Amerika kini memandang Israel secara tidak menguntungkan. Penurunan dukungan itu juga terlihat di kalangan pemilih muda Partai Republik dan komunitas Yahudi Amerika.

Kampanye dibawa ke ruang digital dan tatap muka

Untuk membalas sentimen negatif tersebut, Kementerian Luar Negeri Israel yang dipimpin Gideon Sa’ar membentuk unit khusus yang mengatur narasi di tingkat internasional. Unit ini menggelontorkan puluhan juta dolar untuk kampanye digital, termasuk US$ 50 juta yang dikhususkan untuk iklan di berbagai platform media sosial besar.

Strategi itu juga disusun agar tidak berhenti di layar gawai. Israel turut mengundang ratusan delegasi asing, mulai dari politisi, pemuka agama, influencer, hingga pimpinan universitas, dalam rangkaian diplomasi tatap muka yang dirancang memberi pengalaman langsung sesuai sudut pandang pemerintah Israel.

AI ikut masuk ke mesin propaganda

Selain kampanye konvensional, Israel juga memanfaatkan teknologi untuk memperkuat penyebaran pesannya. Negara itu dikabarkan menandatangani kontrak senilai US$ 1,5 juta per bulan dengan perusahaan yang terkait dengan mantan pakar strategi Donald Trump, Brad Parscale.

Kerja sama tersebut difokuskan pada penggunaan kecerdasan buatan atau AI agar narasi yang disebarkan di dunia maya bisa lebih efektif dan terukur. Langkah ini memperlihatkan bahwa Hasbara tidak sekadar bergerak lewat jalur diplomasi biasa, tetapi juga lewat sistem komunikasi digital yang lebih agresif.

Peringatan soal isolasi yang makin meluas

Sejumlah peneliti di Institute for National Security Studies atau INSS Tel Aviv menilai Israel kini menghadapi isolasi diplomatik dan opini publik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak negara itu berdiri. Mereka menggambarkan keadaan ini sebagai “boikot ekonomi yang merayap”.

Menurut penilaian mereka, banyak institusi akademik dan bisnis internasional mulai menghindari kerja sama dengan pihak Israel demi menjaga reputasi masing-masing. Di tengah kondisi seperti itu, anggaran jumbo Hasbara menjadi bagian dari upaya Israel menahan kerugian politik, diplomatik, dan citra yang terus menekan posisinya di level global.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button